Perceraian ternyata tak hanya ada di jagat infotainment saja. Selebritis politik pun mengikuti jejak selebritis dunia hiburan. Namun beda dengan dunia cerai di hiburan, di politik perceraian tak perlu ada persetujuan dari pihak yang berseteru.

Dan partai Golkar bisa jadi bakal dicatat sejarah politik, karena membuat keputusan jenial di saat posisinya tidak cukup menguntungkan secara matematis politis.Sebagai peraih suara kedua/ ketiga dalam Pemilu legislatif, Golkar memang dalam posisi sebagai hamba sahaya. Ia merapat ke Demokrat meminta untuk dipinang sebagai RI-2.

Tapi Demokrat yang tengah dimabuk kemenangan, rupanya cukup cerdik melihat situasi. Pengalaman 5 tahun terakhir berada dalam satu sampan pemerintahan, cukup memberi pelajaran berharga bagi SBY. Dengan wapres dari partai pemenang pemilu saja ternyata tak cukup kuat untuk ‘menaklukkan parlemen’.

Makanya, sikap wait and see SBY dan Demokrat dalam menentukan siapa pendamping SBY bisa dimaklumi. Kali ini pasti Demokrat emoh kecolongan lagi. Karena untuk fase pemerintahan kedua, tak ada lagi coba-coba, semua harus dipastikan performanya.

Meski sedih ditinggal kawan koalisinya, Demokrat tak harus kecewa, karena itu berarti dinamika di tubuh Golkar makin terang benderang. Strategi makin bisa dimainkan untuk ‘memainkan’ Golkar. Setidaknya suasana 5 tahun silam akan terhidang dengan jelas.

Saat pilpres 2004, Golkar sesungguhnya punya kesempatan besar menjadi pemenang. Dengan modal sebagai pemenang Pemilu Legislatif, secara matematis politis Golkar di atas angin. Tapi ternyata gacoan mereka, Wiranto-Salahudin Wahid yang merupakan hasil konvensi partai gagal di putaran pertama.

Kegagalan Wiranto lebih pada tidak berjalan maksimalnya mesin partai. Karena Wiranto tidak cukup mengakar di Golkar. Ia dianggap sebagai ‘tamu’ dan bukan ‘orang dalam’. Karenanya ia tak didukung langsung oleh simpatisan dan kader Golkar.

Menangnya Wiranto dalam konvensi pun kontroversi. Ia mengalahkan Akbar Tanjung sang ketua umum, yang lebih mengakar di internal partai. Saat itu beredar dugaan konvensi sudah ‘dibeli’.

Suara Golkar pun pecah, dan ternyata suara itu mengalir ke kubu SBY-JK. Mungkin saat itu pendukung Golkar tak terlalu melihat faktor SBY sebagai Capres. Mereka bisa jadi lebih melihat JK yang tak didukung partai, justru lebih terlihat Golkar daripada Wiranto.

Dan kini keadaan bisa terbalik, jika SBY mengambil salah satu kader terbaik Golkar sebagai wapresnya. Bisa saja itu Sri Sultan atau Akbar Tanjung. Jika ini benar, sekali lagi Golkar menjadi ‘korban’. Ia akan diacak-acak oleh partai yang masih tergolong baru, Demokrat. Pamornya sebagai partai lama warisan orde baru perlahan pasti surut. Dan bukan tak mungkin Golkar akan terkubur bersama sejarah.