r161560_5925061Ada yang berubah pasca pemilu legislatif akhir-akhir ini di kantor kepresidenan. Rapat terbatas kabinet belakangan ini jarang diikuti oleh RI-2. Ya, JK sudah dua kali ratas tak kelihatan batang hidungnya.

Terakhir kemarin sore, saat SBY membantah bahwa ia tak lagi memperhitungkan JK sebagai balon wapresnya. Kemanakah JK? Apakah ia ngambek karena tak masuk dalam kriteria calon wapres SBY? Ataukah JK sedang menghitung hari untuk membuat sebuah kejutan di ujung karier politiknya? Menjadi

seorang JK di situasi seperti sekarang memang sangat tak nyaman. Saya bisa bayangkan betapa beratnya suasana batin JK. Ia menghadapi suasana tak menyenangkan di hampir semua komunitas yang mengharuskannya eksis.

Di kabinet pasti bete ketemu SBY. Cap pecundang pemilu pasti sulit terhapus dari wajahnya yang belakangan kusut. Sebaliknya, SBY belakangan makin sumringah, selalu senyum simpul. Itu karena perolehan suara Demokrat yang menjulang, ditambah semua prediksi pemilu yang dilakukan semua lembaga survey menempatkan partainya, Demokrat di kursi teratas. Bisa jadi, hasil pemilu seperti ini tak pernah ada dalam mimpi SBY sebelumnya.

Kemarin  mestinya JK bisa senyum simpul. Karena SBY membuat pernyataan bahwa tak benar ia menolak figur JK sebagai cawapres. Kemudian juga hasil survey Puskaptis yang menunjukkan JK masih cukup populer! Pernyataan SBY memang sekedar menyenangkan JK, tapi belum tentu keputusan politik Demokrat akan seperti itu.

JK tengah menghitung langkahnya sendiri. Maju kena mundur juga kena. Jika tetap maju dalam paket SBY-JK pasti banyak cercaan meluncur ke alamatnya. Ia pasti dianggap sebagai pragmatis, hanya memikirkan karier politik pribadinya. Ia juga pasti dianggap menjilat ludahnya sendiri. Karena semula ia sudah menggadang-gadang dirinya sebagai calon presiden Golkar, eh penghitungan suara KPU belum usai sudah harus menyingkir.

Bagi internal Golkar ini juga menyakitkan, karena partai yang suaranya diprediksi lembaga survey jauh di bawah Golkar saja masih cukup pede lobi sana sini, sambil berharap koalisi.

Sekarang terserah JK, apakah rela singgasananya beralih ke orang lain, menyerahkan pada kader partainya yang lain, ataukah mundur teratur dari gelanggang politik dan hanya menjadi seorang guru bangsa? Pilihan itu ada pada JK. Dan jika pilihan terakhir diambil, namanya akan harum dan dikenang banyak orang.