Robby Geisha Divonis Penjara Karena Narkoba

Roby (rompi merah) di persidangan (sumber foto: liputan6.com)

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hari Selasa (22/4) menjatuhkan vonis satu tahun penjara terhadap Robby Satria, terkait kasus narkoba yang menjeratnya. Gitaris band Geisha ini divonis bersalah oleh majelis hakim karena memiliki narkoba jenis satu yakni ganja. Menurut situs Liputan6.com, meski tak berkomentar banyak atas putusan majelis hakin tersebut Robby terlihat kecewa. Ia tak menyangka bakal menerima vonis berupa hukuman penjara.

Kuasa hukum Robby, John Hasyim mengaku terkejut dengan putusan majelis hakim. Karena tim pengacara sejak awal yakin kliennya bakal menjalani rehabilitasi dan bukan hukuman penjara. Atas putusan tersebut, pengacara mengatakan masih pikir-pikir. Putusan satu tahun penjara terhadap Robby sendiri sesungguhnya lebih rendah dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut Robby hukuman penjara 1 tahun 6 bulan.

Jika tak mengajukan banding pencipta lagu hits Lumpuhkan Ingatanmu ini bakal menghabiskan hari-hari ke depannya di dalam jeruji besi. Namun ia tak akan mendekam lebih lama di penjara karena hukumannya akan dipotong masa tahanan yang dilaluinya sejak Oktober 2013.

Robby sendiri dibekuk polisi 8 Oktober 2013 saat kedapatan membawa 5,1 gram ganja. Dari kamar kos Roby polisi juga menyita setengah lintingan ganja. Dalam persidangan Robby dituntut melanggar pasal 127 ayat 1-A Undang-undang Narkoba Tahun 2009.

Dekriminalisasi Amanat Konvensi Internasional

Putusan hukuman penjara terhadap Robby Satria ini menurut penulis bakal menuai pro dan kontra. Bukan karena putusan ini menimpa seorang pesohor namun lebih pada konsistensi penegakan hukum terhadap pengguna narkoba. Seperti diketahui belakangan ini tengah dikampanyekan upaya dekriminalisasi bagi para pengguna narkoba. Mereka yang diciduk polisi karena kedapatan menggunakan atau membawa narkoba akan menjalani masa rehabilitasi di tempat-tempat rehabilitasi resmi yang sudah ditunjuk pemerintah.

Itu artinya, sejauh pelaku kasus narkoba hanya seorang pengguna dan bukan pengedar atau Bandar narkoba, ia akan menjalani proses rehabilitasi. Karena pada dasarnya pengguna narkoba sejatinya adalah korban yang membutuhkan penyembuhan. Ia membutuhkan pertolongan medis untuk keluar dari ketergantungan dan kecanduannya dari barang haram narkoba.

Asumsinya, jika seorang pengguna narkoba dijebloskan ke penjara upaya penyembuhan atau menjauhkan si pengguna dari mata rantai narkoba bisa jadi akan mengalami kegagalan. Sebab bukan rahasia lagi bahwa tempat semacam lembaga pemasyarakatan rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Para ‘alumnus’ lapas bukannya menjauh dari narkoba malah justru sebaliknya. Pergaulan dalam penjara yang keras serta godaan narkoba dari berbagai kalangan membuat seseorang yang berupaya lepas dari pengaruh narkoba akan mengalami kesulitan.

Sebelum ini Kepala BNN Komjen (Pol) Anang Iskandar dalam lokakarya Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dengan tegas menyatakan, dekriminalisasi pengguna narkoba bisa menurunkan angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Menurut Anang Iskandar, apa yang selama ini terjadi yakni pengguna narkoba ditangkap dan masuk penjara adalah paradigma konvensional. Dan paradigma ini mesti diubah. Paradigma ini perlu dikoreksi dengan memberi tempat baru bagi pengguna, bukan dipenjara namun di tempat rehabilitasi.

Anang Iskandar menambahkan, kebijakan dekriminalisasi pengguna narkoba bukan kebijakan BNN yang mengada-ada atau diada-adakan. Namun itu merupakan amanat konvensi internasional hasil sidang PBB mengenai narkotika, di mana pengguna narkoba diberi alternatif penghukuman berupa rehabilitasi.

Sebagai salah satu negara anggota PBB Indonesia harus tunduk pada konvensi tersebut. BNN sendiri saat ini gencar mensosialisasikan upaya dekriminalisasi korban penyalahgunaan narkoba.Bahkan tahun 2014 ditetapkan oleh BNN sebagai “tahun penyelamatan” bagi pengguna narkoba dengan rehabilitasi medis, sosial dan pasca-rehabilitasi.

Edukasi mengenai hal tersebut terus disebarkan ke berbagai kalangan. Namun menurut Anang Iskandar, belum semua pihak memahami ‘maksud baik’ BNN tersebut. Masih banyak kalangan yang belum mengerti mengapa pengguna atau penyalahguna narkoba justru dimasukkan ke rehabilitasi dan bukan dihukum penjara.

Selain masyarakat biasa, soal dekriminalisasi menurut kepala BNN juga belum dipahami oleh aparat penegak hukum. Penegak hukum terkesan bingung ‘menyelesaikan’ perkara ini.

Dekriminalisasi Jadi Benturan Kepentingan?

Salah bentuk nyata kebingungan yang melanda aparat hukum terlihat dari putusan kasus narkoba yang menimpa gitaris Geisha, Robby Satrio. Putusan tersebut seolah ‘berseberangan’ dengan maksud BNN melakukan dekriminalisasi korban penyalahgunaan narkoba.

Inilah yang menurut penulis bakal menjadi benturan. Di satu sisi Badan Narkotika Nasional (BNN) tengah gencar mengkampanyekan upaya dekriminalisasi terhadap pengguna narkoba, namun di sisi berbeda para penegak hukum lainnya belum memiliki pemahaman yang setara.

Saya khawatir jika perbedaan paradigma antara penegak hukum ini masih terjadi bakal merusak tatanan dan upaya BNN untuk menyelamatkan para korban penyalahgunaan narkoba. Jangan sampai publik menilai ada tarik-menarik kepentingan diantara para pemangku kebijakan dalam penanganan narkoba. Pemangku kebijakan mesti satu kata dengan perbuatan, satu pemahaman dalam upaya menyelamatkan generasi muda dari pengaruh buruk narkoba.

Kita tentunya tidak ingin kehilangan satu generasi emas generasi muda akibat pengaruh penyalahgunaan narkoba. Jangan sampai kita menyesal nantinya memiliki generasi penerus yang tidak bisa dihandalkan lantaran banyak yang tercemar narkoba.

Waspadai Narkoba Baru Berbentuk Permen

Waspada Permen Narkoba (sumber Google)

Waspada Permen Narkoba (sumber Google)

Pengedar dan produsen narkoba tampaknya bisa dikategorikan sebagai orang yang kreatif. Karena mereka mampu membuat dan meracik berbagai jenis obat-obatan kimiawi menjadi narkotika dan obat-obatan terlarang. Tapi jangan puji kreativitas mereka, karena mereka berada di jalur yang salah, membuat dan mengedarkan narkoba yang menjadi salah satu obat-obatan pembunuh anak bangsa.

Dari situs Indonesia Bergegas diberitakan, November tahun silam terbongkar pabrik narkoba Red Ice yang mirip permen karet di Apartemen kawasan Sunter, Jakarta Utara dan Tamansari. Narkoba itu berlabel ‘Yaba’ dan ‘Red Ice’, bentuk dan kandungannya tidak seperti narkoba umumnya. Bahan bakunya dikirim dari China yang masuk melalui pelabuhan tikus. Di sini mereka tinggal mencetak. Untuk narkoba jenis Red Ice, bentuknya mirip permen karet dan memiliki kandungan yang ada pada shabu. Dijual pergram sebesar Rp400 ribu.

Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak usia sekolah saya mesti hati-hati dan memantau jajanan anak-anak. Karena anak-anak tak mengerti apa dan bagaimana narkoba. Jika sampai mereka terpapar narkoba, maka kematian akan mudah merenggut mereka.

Sebelumnya BNN juga menemukan tiga jenis zat yang mempunyai kandungan narkotik jenis baru. Narkotika jenis baru ini bentuknya seperti lembaran kertas yang mirip dengan LSD (Lysergic Acid Diethylamide).

Menurut juru bicara BNN Kombes Sumirat Dwiyanto, narkotika sejenis LSD yang telah beredar selama ini di Indonesia diketahui mengandung zat lisergida didalamnya. Namun untuk narkotika jenis baru yang mirip LSD ini, hasil pengujian di dalam laboratorium BNN menunjukkan bahwa terdapat kandungan yang berbeda di dalam narkotik berbentuk kertas tersebut. Dimana zat yang terkandung di dalamnya adalah 25C-NBOMe, 25I-NBOMe, 25B-NBOMe.

Senyawa 25I-NBOMe dan 25C-NBOMe merupakan turunan jenis narkotika fenetilamine. Zat ini menghasilkan atau menimbulkan efek psychedelic atau disebut juga reaksi menenangkan. Namun jika dikonsumsi berlebihan bisa menimbulkan akibat si pengguna jadi kehilangan kesadarannya.

Sementara untuk senyawa 25B-NBOMe mempunyai efek halusinogen. Zat atau senyawa ini termasuk bagian dari turunan atau pengembangan dari fenetilamine (2CB).

Sampel 25C-NBOMe didapat tim uji laboratorium BNN dari hasil pengungkapan sebuah kasus penyelundupan narkoba melalui Bandara Soekarno-Hatta. Sedangkan untuk sampel senyawa 25I-NBOMe diperoleh dari hasil laporan masyarakat ke BNN.

Sebenarnya sebelum BNN mendapatkan sampel senyawa narkoba tersebut, Bareskrim Polri telah menemukan senyawa serupa di dalam sebuah pengungkapan kasus narkoba yang terjadi di kompleks Perumahan Mahkota Mas daerah Cikokol- Tangerang.
Pihak Bareskrim kemudian menyerahkan sampel barang tersebut untuk diperiksa BNN. Dari hasil pemeriksaan BNN, ditemukan  barang bukti yang berbentuk kertas tersebut mengandung senyawa lain yaitu 25B-NBOMe.

Berdasarkan laporan koran Tempo 15 januari 2014, terdapat sejumlah narkoba jenis terbaru yang beredar di Indonesia. Dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 24 jenis narkoba baru yang semuanya berasal dari 7 kelompok narkotik yaitu :
1. Dragon Fly dan Sponge Bob, meski barangnya tetap sama ternyata Sponge Bob serta si Dragon Fly ini memiliki sejumlah nama lain di berbagai kota di Indonesia

2. Metilon, narkoba jenis ini berharga tiga ratus ribu sampai enam ratus ribu per butirnya. Metilon memiliki sejumlah nama. Di wilayah Jakarta dia dikenal dengan nama Molly, Kancing, Vitamin, Apel atau Inex. Di Bandung, metilon dikenal dengan nama Molly, Vitamin, Inex atau Apel. Di daerah Mataram yang jauh dari ibukota namun tetap saja bisa dipapar oleh narkoba jenis baru ini, metilon dikenal dengan nama Kacang. Sedangkan di wilayah Pekanbaru, metilon disebut juga vitamin, inex atau apel.

3. LSD. LSD berharga empat ratus ribu rupiah per 30 cm persegi. Narkoba berbentuk lembaran kertas ini di ibukota Jakarta memiliki nama lain Meterai, Acid, atau Elsidi. Di kota Bandung dia bernama Kertas. Sementara di berbagai kota lain di Indonesia LCD bernama lain Sponge Bob dan Dragon fly.

4. Ketamine Cair. Narkotika jenis ini berbentuk cair. Ketamine dijual dengan harga empat ratus lima puluh ribu per 10 ml. Di daerah Jakarta dan Bandung, ketamine cair dikenal juga dengan nama lain You-C. Ketamine cair ini juga menimbulkan efek bisa membuat si pemakai berhalusinasi dan mampu menghilangkan rasa nyeri

5. Cannabinoids sintetis. Cannabinoids sintetis merupakan jenis ganja sintetis dengan efek menyerupai ganja asli. Nama lain dari cannabinoids sintetis ini adalah JWH-018, XLR-11

6.Cathinones sintetis. Narkotika ini merupakan katinona sintetis. Efek yang ditimbulkannya adalah menimbulkan halusinasi serta rasa senang berlebihan. Efek lain dari Cathinones sintetis ini adalah mendorong timbulnya energi yang lebih berlipat. Dan efek yang paling mengerikan dari narkoba ini adalah ketika seorang pecandu MDPV atau disebut juga bath salt ini menjadi hilang kesadarannya dan beraksi kanibal. Peristiwa ini terjadi di wilayah Amerika Serikat. Nama lain dari katinona sintetis ini adalah MDMC(Metilon), 4-MEC, pentedrone, N-ethylcathinone, MDPV, atau metedrone (4-MMC).

7. Phenethylamines. Phenethylamines bernama lain DMA, DOC, 2-CB, PMMA, 6-APB atau 5-APB. Narkotika jenis ini bisa ditemukan dalam berbagai wujud. Mulai dari bentuk tablet, bubuk, dan potongan kertas kecil yang umum dikenal dengan nama LSD. Phenethylamines memiliki efek mampu menimbulkan halusinasi dengan tingkat yang sangat tinggi. Phenethylamines mampu menyebabkan si pengguna pingsan karena pengaruhnya yang membuat jantung menjadi dipacu terlalu kuat.

8. Piperazines. Piperazines memiliki sejumlah nama lain seperti Chlorophenylpiperazine, Benzylpiperazine, Trifluoromethylphenylpiperazine juga terdapat di dalam sejumlah obat legal. Salah satunya adalah dalam obat cacing. Jika obat ini sampai disalahgunakan, maka akan menimbulkan efek antidepresan.

9.Zat-zat yang berasal dari tanaman. Zat-zat yang berasal dari tanaman misalnya mitragyna speciosa dan catha edulis. Pada umumnya zat ini berasal dari sejenis tanaman yang biasa tumbuh di kawasan Krathom dan Puncak yaitu tanaman Khat. Efek dari zat ini hampir sama dengan ganja yaitu menimbulkan halusinasi.

Semua jenis narkotika baru ini, mampu membuat tubuh seseorang menjadi lebih bugar dari biasanya. Menciptakan perasaan senang yang lama atau panjang. Jaringan peredaran narkoba jenis baru ini jauh terentang mulai dari Cina hingga Eropa termasuk Indonesia. Di Inonesia pun narkotika ini telah tersebar hingga ke berbagai kota besar dan kecil. Memang tak mudah melindungi anggota keluarga kita dari jeratan narkoba jika kita tidak berusaha mencegahnya sedari dini. Laporkan setiap kegiatan atau tindak tanduk yang mencurigakan di sekitar Anda. Siapa tahu ada pengedar narkoba sedang mengedarkan narkoba untuk menjerat para remaja kita.