Reuni

Setelah 26 tahun, akhirnya sebagian alumni SDN Grogol Selatan 03 Pagi, sabtu (24 Oktober 2009)  bertemu muka di gedung Pertamina Simprug, Jakarta Selatan. Perjumpaan setelah sekian lama diwarnai cekikikan, saling tebak nama, cerita-cerita seru dan saru saat SD.

Sebagian wajahnya masih mudah dikenali, karena perubahan tidak terlalu drastis. Namun untuk sebagian lagi saya harus memutar otak dengan kencang untuk sekedar mengingat versi kecilnya wajah kawan.

Selain bertemu kawan masa kecil, yang paling membahagiakan dan mengharukan adalah kesempatan bertemu dengan guru. Tidak semua memang, karena sebagian sudah lebih dulu berpulang, seperti Bu Sri Nur Alamsih, Bu Ernalis, Bu Yayah, dan Pak Sanusi. Saya hanya berharap mereka yang sudah berpulang diberi kelapangan di alam kubur dan diberi balasan setimpal atas jasanya dalam dunia pendidikan.

Sementara itu guru yang hadir adalah Pak Gani, Pak Yusuf, Pak Maman, Bu Komariah, Bu Rosadah dan Pak Rusman. Bu Nani batal hadir karena ibundanya baru saja berpulang di Bandung.

Saat kami semua menyanyikan himne guru, sebagian guru tak kuasa menahan air mata. Sampai kapanpun kami memang tak pernah bisa membalas jasa guru-guru. Mereka terlalu luar biasa dalam sepenggal kehidupan kami. Dari merekalah kami bisa baca tulis, mengerti ilmu-ilmu dasar, mengerti akan pekerti, dan memiliki mimpi untuk menjadi sesuatu  kelak di kemudian hari.

Kompasiana Baru, Terbesar dan Terpercaya

cake kompasiana

cake kompasiana/ photo by nuni

Perayaan ulang tahun pertama Kompasiana di Marios Place, Cikini Jakarta Pusat, Kamis malam berlangsung semarak. Seratusan blogger menjadi saksi sejarah berubahnya kanal Blog Kompasiana yang semula bertag Journalist blog Network menjadi sebuah portal media sosial atau new social media.

Perubahan ini bukan gagah-gagahan atau sekedar rebranding. Bagi Kompasiana perubahan ini membawa arti dan konsekuensi yang luas. Jika saat lahirnya setahun silam, blog keroyokan ini punya sekat-sekat antar blogger. Ada yang dinamakan journalist blogger, sebutan bagi blogger yang orang dalam kelompok harian Kompas dan Kompas dot com. Ada pula Guest Blogger, sebutan bagi blogger tamu yang sengaja diundang menulis di Kompasiana. Ada pula Public Blogger, sebutan bagi orang biasa yang tidak masuk dua kategori tadi.

Pengkotakan itu semula memang sesuai kebutuhan. Apalagi Kompasiana sendiri awalnya merupakan halaman blog bagi internal Kompas. Bahkan masing-masing kelompok blogger itu memiliki cirinya sendiri, dan tentu penggemarnya sendiri.

Namun yang kemudian terjadi adalah beyond expectation. Tauvik Miharja sang, Direktur  Kompas dot com yang menjadi induk Kompasiana mengatakan hal itu. Satu tahun Kompasiana yang semula tidak diperhitungkan, ternyata mengalami perkembangan yang luar biasa. Apa yang tampak saat inibenar-benar diluar perkiraan para pengelolanya. Ini bisa dilihat dari rangking posisi Alexa yang didapat Kompasiana. Jika setahun silam berada di antah berantah, kini sudah masuk jajaran 300 besar Indonesia. Dan bukan tidak mungkin sebentar lagi bakal menembus 100 besar.

Menyadari potensi itu, di HUT-nya yang pertama Kompasiana melakukan rebranding. Kini Kompasiana bukan lagi kanal blog keroyokan yang mengkotak-kotakkan bloggernya. Kini semua blogger adalah Public Blogger, sama rata, sama posisinya. Dan yang membuat Kompasiana berbeda dengan yang lama adalah tampilannya yang lebih catchy, ngepop, light. Ini semata-mata demi meluaskan pasar Kompasiana ke segmen yang lebih luas lagi, demi menjangkau mimpi menjadi kanal blog yang terbesar dan terpercaya.

Kusmayanto Kadiman, salah seorang blogger yang juga baru saja menanggalkan posisinya sebagai Menristek yang semalam juga hadir mengatakan, tantangan terbesar dari kanal blog semacam Kompasiana adalah menjadikan kanal ini rumah bagi 4 generasi. Mulai dari generasi silver seperti pak KK, baby boomer, Generasi X yang melek internet, hingga generasi ABG yang senang dengan kecepatan dan updating segala hal. Jika itu semua bisa dipenuhi, bukan tak mungkin mimpi Kompasiana menjadi kanal blog terbesar dan terpercaya di Indonesia hanya tinggal waktu.

Apa yang diharapkan pak KK sebenarnya sudah bisa dilihat di Kompasiana baru. Dengan tagline sharing-connecting, kini Kompasiana lebih interaktif. Komunikasi antar blogger bisa dilakukan dalam sekali kunjungan. Bahkan ada yang mengatakan, Kompasiana baru mirip-mirip Facebook dengan tambahan blognya. Oo..gitu ya… bagaimana menurut anda?

Happy b’day Kompasiana!!

Launching Komunitas Blogger Bekasi yang Aneh

4 Penggede

4 Penggede

Launching Be-blog atau komunitas blogger Bekasi hari ini di Gloria Jeans Coffee, Bekasi Cyber Park, sukses digelar dengan sejumlah keanehan. Meski panitia sempat deg-degan bakal gak ada yang datang, ternyata kursi yang tersedia sekitar seratusan penuh diduduki blogger dan undangan dari berbagai kalangan.

Dimulai agak lelet sedikit dari jadwal yang dirancang panitia sekitar pukul 11.00 karena harus menunggu sejumlah pihak yang akan membuka acara. Akhirnya jam sebelas lebih dikit acara dimulai. Tapi launching tadi menurut saya adalah launching teraneh. Mau tahu kenapa?

Pertama, Komunitas ini sendiri sudah aneh. Komunitas ini tergolong baru, baru terbentuk 17 Agustus 2009. Meskipun baru secara komunitas, sebenarnya sudah banyak blogger asal Bekasi yang malang melintang di jagad blogging secara nasional. Misalnya, di komunitas ini ada Amril Taufik Gobel yang kondang di beberapa komunitas blogger dan kini menjadi salah satu panitia Pesta Blogger 2009. Di sini juga ada Yulyanto, blogger imut yang juga lumayan karatan. Belum lagi mbak Ajeng yang kondang di kalangan komunitas blogger daerah. Kalau harus ditambahi daftarnya, ada juga Antyo Rentjoko (paman Tyo), mantan jurnalis yang sudah senior di dunia blog. Semua ini makin menambah aneh komunitas ini. Sudah begitu banyak blogger yang top tapi baru kali ini punya komunitas. Ini juga menjadi pertanyaan sejumlah kawan dari daerah yang datang tadi.

Lega...

Lega...

Keanehan kedua, ada orang-orang super sibuk yang tega-teganya datang ke hajatan komunitas anyar bin terpinggir ini (jangan salah sangka, karena Bekasi memang di pinggiran Jakarta). Salah satunya Budi Putra, Itu lho country editor Yahoo! Indonesia yang berkantor di Singapura. BP yang sudah memproklamirkan diri sebagai full time blogger rupanya kepincut dengan langkah teman-teman di Bekasi yang membentuk komunitas ini. Tadi siang dia kagum dengan semangat para blogger yang menyiapkan acara sehingga bisa mendapat dukungan walikota Bekasi. Tengkyu ya mas Budi sudah jauh-jauh datang dari Singapura demi Bekasi.

Orang aneh lainnya Pepih Nugraha, Antyo Rentjoko, Taufik Miharja, Chappy Hakim dan Prayitno Ramelan. Tiga nama pertama adalah blogger yang sibuk di masing-masing aktivitasnya. Sementara dua yang terakhir blogger Kompasiana yang saya sangat tahu kesibukannya. Meski purnawira, keduanya adalah blogger-blogger produktif.

Budi Putra

Budi Putra

Keanehan ketiga, kawan-kawan komunitas blogger dari daerah yang begitu semangat memberi dukungan. Kedatangan para blogger dari komunitas Wong Kito Palembang, Tugu Pahlawan dot com Surabaya, Bengawan Solo, Blogger Garut, Blogger Ngalam dari Malang setidaknya memberi bukti solidaritas dan perkawanan di dunia blog adalah segalanya. Padahal untuk ke Bekasi, mereka pastinya mengorbankan banyak hal.

Terima kasih kawan-kawan atas dukungannya. Dukungan bukan hanya dari daerah, tapi juga dari komunitas lain di seputaran Jabotabek seperti DeBlog dari Depok, komunitas Bundara Hotel Indonesia atau BHI Jakarta, serta kawan-kawan dari Kompasiana. Buat kalian semua, cukup dua kata LUAR BIASA.

Talk Show

Talk Show

Tapi keanehan keempat yang derajatnya paling tinggi ya Walikota Bekasi H. Mochtar Mohamad. Belum begitu paham mengenai komunitas ini tapi ternyata MM (begitu inisial pak wali) dengan sangat teganya memberi kejutan pada semua blogger yang hadir. MM menyediakan total 45 juta rupiah bagi lomba penulisan Blog dan Photo Blog. Lomba dimulai hari ini hingga sebulan ke depan. Jangan salah paham dengan pemberian ini, karena walikota menjamin uang yang diberikan sebagai hadiah bukan dari APBD, melainkan dari kocek pribadinya.

Lagi-lagi aneh, kok mau-maunya ya pak wali membenamkan uang segitu untuk hadiah lomba blog. Tapi pak wali, tenang saja kita juga cukup aneh kok menyambutnya. Lihat saja banyak wajah sumringah dan  tepuk tangan panjang kali lebar disertai jingkrak-jingkrak. Tandanya, kita siap menyambut keanehan hadiah yang disediakan walikota.

So? Yuk, posting! Siapa tahu menang…

KPI Hentikan “Makin Malam Makin Mantap”

Komisi Penyiaran Indonesia kembali menghentikan sebuah program televisi nasional. Program Makin Malam Makin Mantap (4M) yang tayang di Antv mulai 9 Oktober ini dihentikan untuk sementara waktu. Penghentian acara variety show yang ditayangkan tiap Senin-Jum’at jam 21.30 hingga 23.00 WIB itu maksimal selama dua bulan.

Kenapa acara ini dihentikan?

KPI mendasarkan tindakannya pada tayangan 4M tanggal 2 Oktober lalu. Sepanjang program, menurut KPI terus menerus dibicarakan payudara dan alat kelamin secara vulgar. Selain itu, pembawa acara wanita yang berperan sebagai suster cenderung menampilkan perilaku dan tutur kata yang seronok. Bahkan sempat menyebut alat kelamin laki-laki dalam bahasa yang kasar dan tidak sopan.

KPI menilai program tersebut melanggar undang-undang penyiaran serta standar program siaran. Keputusan ini sendiri diterima oleh pihak Antv dalam forum klarifikasi yang dihadiri diantaranya ketua KPI Pusat Sasa DJuarsa Sendjaja serta Direktur Antv Dudi Hendrakusuma.

Saya bukan penggemar acara ini. Namun beberapa kali sempat menyaksikan acara yang dipandu Tora Sudiro dan Vincent Rompies ini. Kesan saya kedua presenter yang maunya jenaka, kadang kelepasan melempar joke atau humor yang ’saru’, agak menyerempet porno malah. Mungkin maunya melucu tapi yang terdengar malah ‘aneh’.

Kebetulan saya juga tak menyaksikan acara 4M yang dikomplain KPI itu. Tapi kalau benar banyak joke atau obrolan saru soal alat vital di sepanjang acara, jelas itu sudah keterlaluan. Apa tujuan sebenarnya acara ini? Menghibur? Mengapa harus jorok?

Saya jadi ingat dengan penghentian program 4 Mata di stasiun Trans 7 beberapa waktu lalu. Saat itu –kebetulan saya nonton– seorang tamu acara Empat Mata memakan hewan kodok dengan cara yang menjijikkan. Kodok yang masih hidup, digigit hingga mengeluarkan darah. Hiii…Maunya mungkin memperlihatkan aksi nekat yang luar biasa, namun kesannya malah sadis!

Namun yang lebih miris keputusan KPI saat itu disikapi Trans7 dengan meluncurkan acara sejenis yang diberi label Bukan Empat Mata. Pensiasatan yang sangat tak elok. Hanya demi menangguk keuntungan, acara itu tetap diproduksi. Memang tak ada aturannya sebuah acara yang dimatikan kemudian dihidupkan dengan nama lain. Itu sah sah saja, tapi tak etis lah. Publik kadung tahu seperti apa kemasan 4 Mata sebelum dihentikan itu.

Saya menduga Antv pasti melakukan hal yang serupa. 4M meski per 9 Oktober dihentikan, pastinya bakal disiapkan penggantinya, yang mungkin namanya cuma plesetan dari nama program sebelumnya. Mungkin 4M diganti menjadi 5M, atau Makin Malam Makin Asyik… Who knows?

Berkaca dari kasus 4 Mata yang berubah wujud menjadi Bukan 4 Mata, tampaknya bagian program acara sebuah tv justru menjadikan keputusan penghentian program oleh KPI sebagai celah promosi gratis. Program tersebut menjadi lebih populer, atau setidaknya mengusik pemirsa yang belum pernah menonton menjadi minimal ingin tahu.

Ada yang aneh mengapa penghentian 4M tidak langsung dilakukan begitu surat ketetapan KPI bertanggal 6 Oktober keluar? Apakah KPI tunduk pada stasiun TV yang minta waktu mencari pengganti acaranya? Nanti kita tanya ke KPI.

diposting disini saat KPI keluarkan putusan penghentian program 4M

Menyedihkan ada Diskriminasi di Munas Golkar!

Kabar itu ternyata benar. Seorang kawan yang bertugas di Munas Golkar mengeluh ada pembatasan liputan di arena Musyawarah Nasional Partai Golkar di Pekanbaru, Riau.  Masak sih? Golkar yang sebesar itu berlaku memalukan dan kampungan? Bahkan pada para jurnalis, yang selama ini ikut membesarkan nama Golkar. Semula saya kira itu hanya keluhan biasa seorang jurnalis.

Dan malam ini saya baca sendiri beritanya di sini. Media yang tak punya keterkaitan dengan para kandidat dipersulit aksesnya masuk dalam rapat-rapat paripurna. Sejumlah satgas menyeleksi dengan ketat wartawan yang masuk. Mereka yang tak memiliki surat izin dari DPP dilarang masuk. Jelas ini aneh, karena yang meliput di arena Munas umumnya sudah teregistrasi panitia Munas.

Usut punya usut yang boleh masuk ternyata mereka yang berasal dari media seperti Antv, tvone, vivanews yang punya keterkaitan dengan Aburizal Bakrie, salah satu kandidat ketua umum Golkar. Kemudian juga mereka dari Metro Tv dan Media Indonesia, media yang dimiliki Surya Paloh, kandidat lainnya lagi.

Jurnalis lainnya, khususnya media tv terpaksa gigit jari. Lantaran tak bisa masuk ke arena sidang, liputan pun terpaksa dibuat tanpa gambar-gambar dinamis di ruang sidang. Jelas buat media tv ini kemunduran. Gaung Munas yang ramai sejak beberapa bulan lalu seperti tak menemukan muaranya.

Terus terang ini baru pertama kali terjadi! Sebuah forum Munas Partai melarang peliputan dengan alasan yang diskriminatif seperti itu. Apa pertimbangannya melarang peliputan? Ini bukan era orde baru saat pers bisa dibungkam sedemikian rupa.

Pelarangan jelas punya maksud, apalagi kalau bukan penggiringan opini! Kandidat yang memiliki media bisa dengan mudah menggiring opini untuk kepentingan pribadinya. Makanya tak heran dalam beberapa pekan terakhir isi media seperti anteve, tvone dan metro tv tak lebih sebagai humas para kandidat. Ini menyedihkan, media massa yang hakikinya dipergunakan untuk kepentingan massa yang lebih luas, dipergunakan untuk tujuan jangka pendek politisi.

Karena hanya melayani pemilik modal yang menjadi kandidat, isi media-media itu jadi nyanyian satu kata, dukung si-X dan jangan dukung si-Y. Hmm…..menyedihkan!!

diposting di sini saat Munas Golkar yang dimenangkan Aburizal Bakrie.

Speedy…Speed that you can’t trust!

speedySaya adalah pelanggan speedy Telkom sejak lebih dari 2 tahun. Sebelumnya saya menggunakan layanan telkomnet instan. Karena bermasalah akhirnya Telkomnet kami tinggalkan. Dibandingkan dengan Telkomnet, Speedy memang jauh lebih bagus. Tapi eits..nanti dulu.

Selama rentang waktu tersebut saya mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan. Mulai dari kecepatan yang turun naik, tiba-tiba jaringan putus, hingga mati berhari-hari. Selain persoalan jaringan, saya juga kerap mengalami problem dengan modem.

Biasanya kalau ada trouble, customer service akan memandu langkah darurat apa yang harus saya lakukan. Sering persoalan selesai dengan panduan by phone, namun tak jarang pula masalah tak kelar. Jika ini terjadi, biasanya akan ada petugas yang datang.

Selesaikah dengan kedatangan peugas? Tak selalu. Pernah suatu kali petugas datang dan masalah selesai. Tapi begitu petugas pergi, masalah pun datang lagi! Hingga akhirnya mereka menawarkan modem baru lain merk. Jelas kami tolak, karena masalahnya saya yakin bukan pada modem. Setelah berdebat panjang lebar kami tetap menolak untuk mengganti modem yang artinya harus keluar uang sekian ratus ribu.

Anehnya, setelah itu internet lancar lagi.

Belakangan kondisi tidak stabil kembali kami alami. Capek juga kalau harus marah-marah di telepon pada petugas. Selain kerap percuma karena seringkali mereka juga tak mengerti persoalan, marah malah menimbulkan penyakit.

Entah sampai kapan speedy di rumah bakal aktif lagi. Saya sendiri sudah sampai pada kesimpulan akhir bakal menghentikan langganan speedy. Cukup lah dua tahun yang menyebalkan. Kini saya tak lagi menggantungkan pada layanan speedy di rumah. Karena saya juga pakai operator internet lainnya.

Heran jega dengan PT.Telkom, sebuah BUMN besar, kok mengabaikan konsumen. Kenapa kami konsumennya tak dirawat. Kehilangan satu konsumen mungkin tak mereka pusingkan, toh nilai nominalnya tak seberapa. Tapi sadarlah satu konsumen pergi dengan membawa kekecewaan, maka akan banyak orang yang terbuka matanya untuk tak menggunakan jasa Telkom Speedy. Apalagi kabar buruk pelayanannya sudah menyebar bagai virus di internet.

Jadi jangan tertipu dengan slogan Speedy…Speed that you can trust! Kalau kebanyakan yang komplain mengenai layanan Speedy, bukan tak mungkin menjadi Speedy…speed that you can’t trust!

Perlukah Kita Minta Kompensasi PLN?

Listrik

Listrik

Selasa lalu PT.PLN memasang iklan permintaan maaf di harian Kompas. PLN minta maaf atas pemadaman listrik bergilir yang menimpa sebagian warga Jakarta dan terjadi akibat terbakarnya trafo di gardu induk tegangan tinggi Cawang Jakarta.

Langkah ini merupakan pertama kali dilakukan PLN. Selama ini PLN sering cuek bebek jika mereka melakukan pemadaman listrik sepihak. PLN tak pernah memikirkan dampak pemadaman dan tak pernah merespon komplain pelanggan.

Padahal akibat tindakan PLN melakukan pemadaman listrik, kerugian materi yang diderita pelanggan tak sedikit. Yang paling terasa adalah tak berfungsinya alat-alat rumah tangga yang menggunakan sumber listrik. Belum lagi mereka yang mempunyai usaha rumahan dengan listrik sebagai sumbernya, kerugian tak terhitungh lagi.

Anehnya selama ini tak pernah ada kompensasi yang diberikan oleh PT PLN bagi pelanggannya. Pelanggan dipaksa memakan semua kerugian sendirian. Untung dimakan PLN, kalau rugi di pihak pelanggan ya rasakan sendiri.

Kalau melihat logika berpikir PLN, perlukah kita pelanggan listrik meminta kompensasi pada PLN akibat pemadaman listrik? Karena jika dibiarkan, PLN akan terus bersikap seolah tak bersalah melakukan pemadaman sepihak. Padahal ada konsumen yang dirugikan akibat tindakan mereka.

Untuk layanan listrik di negeri ini, pelanggan memang bukan raja. Pelanggan memang hanya hamba sahaya yang selalu sial nasibnya.

*postingan ini juga dimuat di sini.