Katakan tidak untuk narkoba! Say No to Drugs! Tulisan bernada himbauan dan ajakan ini kerap penulis jumpai di banyak tempat, entah itu di sekolah dari berbagai tingkat pendidikan, hingga tempat umum yang banyak dikunjungi anak dan remaja.

Sekilas tak ada yang salah dengan tulisan dua bahasa tersebut. Memang kedua kalimat itu sudah cukup familiar. Banyak anak dan remaja yang paham dengan maksud tulisan tersebut. Sayangnya masih banyak anggota masyarakat yang tergagap-gagap begitu diminta menjelaskan apa itu narkoba.

Ketika dijelaskan bahwa narkoba itu obat-obatan terlarang, anak-anak akan kembali ‘mengejar’ maksud pernyataan kita. Kalau terlarang kenapa harus dibuat? Nah, lho!

Saat mereka bertanya seperti apa narkoba? Bagaimana bentuknya? Bolehkah sebagai pengetahuan mereka memegang wujud benda tersebut? Saya sempat terdiam ketika diberondong pertanyaan semacam ini dari anak-anak.

Penjelasan yang paling mudah menurut saya bisa didapatkan melalui media massa. Di banyak media massa ataupun media baru seperti internet informasi mengenai apa itu narkoba banyak bertebaran. Sayangnya bahasa yang digunakan tidak cukup mudah dipahami oleh anak-anak. Sepertinya bahasa kampanye anti narkoba selama ini selalu menggunakan sasaran kalangan remaja yang secara intelegensia dianggap cukup ‘siap’ menerima informasi seperti narkoba.

Alhasil, informasi mengenai narkoba dalam bahasa anak-anak yang mudah dipahami sangat minim kita temui. Padahal anak-anak perlu diberikan pengetahuan dan pemahaman menyeluruh mengenai narkoba agar mereka tidak menjadi korban sejak usia dini.  Hanya memang konten informasi untuk tiap bagian usia mesti dibedakan. Tidak bisa digeneralisir dan disamakan untuk semua tingkatan usia.

Misalnya untuk anak Balita (di bawah lima tahun) penjelasan mungkin bisa disertakan gambar-gambar menarik penuh warna. Sementara bagi anak usia TK menggunakan permainan atau penjelasan yang lebih kompleks. Sedangkan bagi anak SD penjelasan bisa disertai contoh-contoh bahaya jika kita menyalahgunakan narkoba.

Kemasan Pesan Dibuat Menarik

Problema yang kerap dihadapi para aktivis dalam membuat pesan sebuah social campaign adalah kemasan pesan yang akan disampaikan seringkali tidak menarik, kaku. Bahasa yang digunakan cenderung resmi, tidak membumi, sehingga menyulitkan bagi khalayak komunikan sasaran.

Untuk membuat social campaign mengenai narkoba yang mengena pada khalayak sasaran dibutuhkan strategi terpadu. Pemahaman mengenai siapa khalayak yang akan dituju mesti dipahami.

Misalnya  pemberian pengetahuan tentang narkoba, hendaknya dilakukan berdasarkan tingkatan usia agar tepat sasaran dan dapat ditangkap dengan mudah oleh anak. Sebagai contoh untuk usia playgroup, anak-anak diajak untuk menghargai anggota tubuh sehingga mereka mengerti mana yang boleh dikonsumsi mana yang tidak, benda-benda mana yang beracun mana yang tidak, obat mana yang aman mana yang tidak.

Sedangkan untuk anak-anak 4 hingga 6 tahun dapat dilakukan dengan membuat skenario tentang semua hal yang berkaitan dengan narkoba.

Lalu untuk anak-anak pada usia 7 hingga 8 tahun dapat dijelaskan tentang dampak negatif dan positif obat-obatan untuk tubuh mereka.

Sementara bahasa social campaign mengenai narkoba bagi remaja juga  mesti disesuaikan berdasarkan tingkat usia mereka. Kalau perlu menggunakan bahasa gaul akan lebih mudah ‘masuk’ kedalam alam pikir anak muda. Pendek kata, buatlah kampanye anti narkoba dengan pendekatan bahasa yang paling mudah dipahami.

Misalnya seperti ini: “Yang asyik dan keren lebih banyak kok, kenapa sih mesti pilih narkoba? Udah mahal, bikin sakit, bikin masalah, tambah sulit, gak oke pula. Iya sih mungkin bener, kata orang-orang asyik. Tapi sesaat doang deh, Gak ada yang bisa dibanggain dan dimanfaatin buat masa depan, adanya ancur dah seancur-ancurnya.”

Bahayanya Narkoba Jika dikonsumsi Usia Dini

Para pengedar tak pernah habis akalnya. Ada saja yang mereka lakukan agar dagangan mereka laris manis dan mendapatkan mangsa meskipun harus mematikan tunas-tunas bangsa, mereka tak peduli. Tak hanya kepada para penderita broken home (berasal dari keluarga berantakan) narkotika itu ditawarkan. Dewasa ini, barang yang ‘menyebalkan’ itu diselundupkan pula kepada mereka yang waras dan bahagia. Mulai dikemas dalam bentuk permen sampai dimasukkan pula ke bolpoin yang sangat familiar dikalangan anak-anak sekolah. Secara sekilas tak ada orang yang mengetahui jika zat-zat adiktif itu telah berubah wujud menjadi benda-benda yang menarik dan berguna untuk sekolah dan bermain. Lalu orangtua mana yang akhirnya tak was-was?

Pada tahun 2011, terdapat sekitar 15.000 masalah penyalahgunaan narkotika yang mengakibatkan banyak usia muda meninggal dunia dengan sia-sia. Tidak hanya disebabkan oleh over dosis, penyebab kematian generasi muda yang berpangkal kepada narkoba diantaranya dikarenakan oleh AIDS dan penyakit penyerta lainnya seperti hati, ginjal, paru-paru, dan jantung.

Fakta yang mencengangkan, lebih dari 90% pelaku penyalahgunaan narkoba adalah kelompok usia produktif (usia 15 hingga 34 tahun). Dari para pelaku penyalahgunaan narkoba tersebut, 90% kelompok ‘pencoba pemakai’ adalah para pelajar. Sungguh miris. Kenyataan yang tak dapat dipungkiri pula, dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional, anak-anak di bawah usia 15 tahun memiliki resiko tertinggi sebagai penyalahguna narkoba. Sungguh mengerikan bukan? Pencegahan dan pembentengan sejak usia dini harus dilakukan, dan ini tentunya melibatkan peran serta aktif dari para orangtua untuk mewujudkannya.

Tidak hanya dari instansi pemerintah, tetapi juga kepedulian dari berbagai pihak termasuk peran aktif orangtua dalam mendidik anak agar tidak terjadi lost generation (generasi yang hilang) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia bebas Narkotika pada Tahun 2015.

Banyaknya kasus penyalahgunaan narkotika salah satunya disebabkan adanya ‘dukungan’ keluarga. Bagaimana tidak? Komunikasi yang kurang efektif karena minimnya ketersediaan waktu orangtua terhadap anak membuat anak merasa tidak diperhatikan, lalu mencari sosok lain di luar rumah. Selain itu, keluarga yang tidak harmonis, buruknya tingkat disiplin dan ketiadaan keteladanan membuat anak bebas melakukan hal-hal sesuka hatinya, termasuk hal-hal yang negatif.

Banyak hal yang harus dilakukan dan diterapkan oleh orangtua untuk mencegah anak-anak mereka bersahabat dengan narkoba sejak dini, yaitu:
1. Orangtua sebagai panutan
2. Orangtua sebagai pembimbing dan pendidik
3. Orangtua sebagai tempat bertanya dan berdiskusi
4. Melibatkan diri dalam kegiatan anak
5. Membuat aturan keluarga yang jelas dan tegas
6. Mengembangkan nilai-nilai agama dalam keluarga
7. Menanamkan kedisiplinan
8. Membuat pola pengasuhan yang tepat
9. Menanamkan pola hidup sehat keluarga
10. Memberikan pengetahuan tentang narkoba

Pencegahan dan pengetahuan tentang bahaya narkoba memang harus dilakukan sejak dini oleh setiap keluarga di Indonesia. Karena keluarga adalah ujung tombak perkembangan anak. Sedangkan orangtua merupakan orang terdekat dan terpercaya pertama yang harus selalu menjadi panutan anak. Oleh karena itu, mari kita bersinergi, bergotongroyong, dan bekerjasama untuk mencegah dan memberantas narkoba. Jadi tidak hanya kamu, tapi juga aku, dia, mereka, dan semua harus peduli sejak dini.