Sebuah ledakan cukup kencang Kamis pagi terjadi di stasiun pengisian BBG Pinang Ranti Jakarta Timur. Ledakan ini menyebabkan bus TransJakarta yang tengah mengisi gas mengalami kerusakan parah. Body bus tak lagi berbentuk dan besar kemungkinan tak layak jalan.

Selain merusakkan bus, ledakan ini juga menyebakan tiga orang menderita luka-luka. Ketiganya yang kini dirawat di RS Haji Pondok Gede menderita luka bervariasi.

Hingga malam ini penyebab pasti ledakan masih diselidiki polisi. Belum diperoleh kejelasan mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Polisi masih mengumpulkan berbagai bukti dan memeriksa sejumlah saksi dari tempat kejadian perkara.

Meski penyebab kejadian masih serba misterius, namun yang pasti kejadian ini makin menambah daftar ‘musibah’ yang beruntun menimpa bus Transjakarta atau lebih dikenal sebagai Busway ini. Sekedar mengingatkan saja, dalam bulan September 2011 terjadi tiga kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Busway. TIga korban tewas, dan dua lainnya luka-luka. Yang tewas selain pengendara, juga pejalan kaki yang melintasi jalur busway.

Lebih jauh sebelumnya, sejumlah bus TransJakarta juga terbakar saat beroperasi di ibukota.

Kejadian-kejadian ini tak pelak menyiratkan tanya, ada apa dengan busway? Bukankah busway adalah moda transportasi alternatif yang menjadi andalan untuk mengatasi peliknya problema transportasi ibukota? Lalu mengapa satu persatu peristiwa buruk seolah dibiarkan terjadi dan menimpa busway?

Sepertinya Pemprov DKI Jakarta sebagai pembuat kebijakan transportasi di ibukota abai dalam merawat busway. Persoalan demi persoalan tak pernah diselesaikan hingga tuntas, sehingga menumpuk dan berulang. Abainya Pemprov terlihat dari ketidak tegasan dalam menindak para penyerobot jalur busway. Tiap hari kita disuguhi pemandangan penyerobotan jalur busway secara resmi.

Polisi yang semestinya berperan sebagai penegak hukum pun diam tak memberi tindakan apapun. Sementara penjagaan di beberapa jalur busway dengan memberi penghalang dan menempatkan petugas, sepertinya sekedar basa-basi. Tak ada gunanya. Ketiadaan efek jera bagi para pelanggar membuat warga mengulangi terus-menerus kesalahan menerobos jalur busway.

Butuh keteladanan dan sikap tegas pembuat kebijakan. Busway tidak bisa dibiarkan berjalan tiap hari tanpa adanya pengawasan yang ketat. Pengawasan pun tak bisa hanya sekedar menempatkan petugas di pintu jalur busway, tapi mengawasi dan member efek jera yang setimpal bagi para penerobos jalur. Sehingga akan mengurangi angka kecelakaan secara massif.

Jika busway adalah moda transportasi andalan, mestinya ditangani secara professional. Jalurnya dijaga, bisnya dirawat, aturan ditegakkan.

Sementara terkait terbakarnya bis dan ledakan di Pinang Ranti, para pramudi Busway juga mesti menaati Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan. Apakah saat mengisi BBG konidisi SPBG sudah steril dari bahan yang bisa menyulut ledakan?

Para pramudi Busway juga mesti taat aturan saat menjalankan kendaraan. Bukan hanya sekali saya menyaksikan pramudi yang memainkan telepon genggam saat membawa mengemudi. Jelas ini membahayakan keselamatan. Hal mendasar semacam ini mestinya jadi panduan pokok bagi pramudi busway.

Jika semua pihak yang terkait dengan busway bisa sadar akan posisi mereka, bukan tak mungkin mimpi menjadikan busway kendaraan umum yang aman dan nyaman akan menjadi nyata.