Kami dan pak Sahala

Silaturahim konon bisa memanjangkan usia seseorang. Percaya atau tidak namun saya cukup mengamini hal ini. Karenanya saat ada waktu senggang saya berupaya memenuhi ajakan, menghadiri undangan, entah itu pernikahan, reuni atau halal bihalal Lebaran.

Sayangnya seringkali ajakan untuk bertemu sahabat tak selamanya tepat dengan jadwal libur kerja. Sebagian besar teman bisa hadir karena punya jam kerja yang pasti, senin-jum’at, 9 to 5. Sementara saya berada di industri yang roda pekerjaannya 24 jam sehari. Terkadang saya bisa lowong seharian di saat orang lain sibuk bekerja. Namun yang lebih sering terjadi saya berkutat dengan pekerjaan, sementara sebagian besar orang libur.

Namun saya selalu berusaha semaksimal mungkin memenuhi ajakan bertemu. Meski kadang sekedar setor muka, tak apalah.

Semalam saya hadir di sebuah resepsi pernikahan di Jakarta. Resepsinya sih biasa, yang luar biasa adalah kehadiran saya dan juga teman-teman karena satu alasan, Pak Sahala Saragih! Beliau adalah dosen saya di jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Ia adalah ayah mempelai pria.

Bagi saya dan juga alumni Jurnalistik lainnya, Pak Sahala yang tetap awet muda itu, adalah dosen dengan “D” besar. Beliau adalah dosen favorit yang tidak hanya disenangi anak didiknya karena gaya mengajarnya yang berbeda dengan dosen lainnya, namun juga bisa menempatkan diri sebagai lawan diskusi yang menarik. Kelas tak pernah sepi saat beliau mengajar. Kami selalu dipacu dengan ide-ide baru, kami juga “dipaksa” membaca bahan-bahan yang relatif berat sebagai bahan kuliah, seperti jurnal Prisma sebagai referensi tulisan.

Jujur saja, meski tugas-tugas yang diberikan lumayan berat dengan deadline ketat, saat itu saya enjoy mengerjakannya. Saya rela terkantuk-kantuk mengejar deadline tugas, bahkan “rela” tak tidur semalaman demi memenuhi tenggat.

Hasilnya sangat membekas. Saya cinta akan deadline. Diburu deadline pekerjaan adalah sesuatu yang mencandu. Dan ilmu itu saya dapatkan dari pak Sahala.

Senang rasanya bisa bertemu muka dengan pak Sahala setelah hampir 15 tahun tak bersua. Kendati jarak Bandung-Jkt tak seberapa, namun selalu saja tak pernah “match” waktu kita untuk bertemu. Saya berdo’an semoga beliau diberi kesehatan agar bisa terus berkarya di kampus selama mungkin.

Terima kasih juga buat teman-teman Jurnalistik yang hadir semalam. Reuni tak resmi semalam benar-benar mengobati kerinduan saya akan kalian. Apalagi selama ini saya tak pernah sekalipun bisa berada di ajang reuni kampus yang beberapa kali digelar.

Keep silaturahim kawan!