Belakangan lagi marak idiom Cuci Otak ! Ini bukan soal otak hewan yang dicuci dulu sebelum digoreng dan jadi santapan enak. Tapi ini otak manusia. Ya, ini otak anda dan juga saya, manusia.

Kerapnya idiom ini digunakan lantaran maraknya kasus orang hilang. Yang paling heboh hilangnya Lian Febriani Calon PNS di Dephub. Beberapa waktu silam ia hilang dari kantornya dan ditemukan 2 hari kemudian di puncak dengan mengenakan cadar dan tak mengenali lagi dirinya maupun orang-orang terdekatnya sendiri.

Spekulasi pun berhembus. Ia diduga terkena pencucian otak. Dan tertuduh utamanya adalah gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Konon gerakan ini rajin merekrut orang-orang muda untuk menjadi pendukungnya. Dan Lian adalah korban kesekian dari gerakan tak berwujud itu.

Saya katakan tak berwujud karena gerakan ini seperti gerakan bawah tanah. Tak pernah menampakkan batang hidungnya dan bergerak tanpa publik pernah tahu si “A” atau si “B” sebagai penggeraknya. Kalau boleh disebut ini gerakan antara ada dan tiada.

Saya tak anti dengan gerakan apapun, karena ini negeri demokrasi. Semua orang bebas membuat perserikatan atau perkumpulan asal jelas! Menculik orang lalu mencuci otaknya bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, bahkan cenderung memalukan. Kenapa mereka tak membuat perekrutan terbuka.

Saya yakin jika semangat gerakan mereka –apapun bentuknya– itu baik bagi banyak orang pasti ada pendukungnya. Jika menculik kemudian mencuci otak, saya kok teramat yakin gerakan ini akan rapuh. Hanya keren di “nama” tapi tak punya basis yang jelas.

#tulisan 8 dari 365