Pembangunan gedung baru DPR akhirnya lanjut. Begitu kabar dari senayan sore tadi. Rapat konsultasi yang digelar pimpinan Dewan dengan pimpinan fraksi akhirnya menyepakati pembangunan gedung baru DPR terus dilanjutkan. Protes bertubi-tubi ternyata hanya makanan media saja. Bahkan Fraksi PAN yang sebelumnya ngotot tak bisa mempengaruhi hasil rapat. Sikap penolakan PAN hanya dijadikan catatan.

Makin absurd memang para wakil rakyat itu. Ngotot tapi demi fasilitas diri sendiri. Coba mereka cakar-cakaran saat memperjuangkan kenaikan dana pendidikan atau kesehatan, saya pasti ikut angkat jempol. Tapi yang ini tidak, demi sebuah fasilitas wah yang diperuntukkan bagi anggota dewan sendiri mereka seolah bersilang pendapat. Ujung-ujungnya mereka satu kata, ikut merestui pembangunan gedung baru.

Pro-kontra pembangunan gedung baru sebenarnya bisa tidak terjadi, jika komunikasi politik yang dipraktekkan anggota dewan dilakukan dengan baik. Tapi yang terjadi dan mengemuka ke publik adalah aroganisme sikap. Mereka pamerkan rencana gedung yang memiliki fasilitas luar biasa dengan biaya yang juga luar binasa, mencapai Rp.1,1 Trilyun!

Jumlah yang fantastis dan sulit dicerna dengan akal sehat. Mengapa mereka begitu ngotot dengan gedung baru, jika gedung lama masih cukup menampung aktivitas anggota dewan? Mengapa harus dengan fasilitas yang mewah, bukankah mereka sudah cukup digaji tinggi, dengan aneka fasilitas negara yang juga lebih dari cukup.

Publik selama ini digiring untuk menyetujui pembelaan yang kerap dilakukan anggota dewan, utamanya ketua DPR Marzuki Alie. Terakhir saya sebagai rakyat merasa terhina dengan pernyataan yang terhormat Marzuki Alie. Dia berujar, pembahasan gedung baru adalah urusan elit, rakyat gak perlu dilibatkan. Rakyat tahunya urusan perut. Hmm…

Sejumawa itukah seorang pimpinan dewan? Dan serendah itukah kita, rakyat dipandang oleh wakilnya sendiri? Begitukah balasan para anggota dewan setelah ‘didudukkan’ di DPR oleh rakyat?

Ada apa sebenarnya dengan anggota dewan?

Menghadapi situasi seperti ini,  kok agak menyesal telah ikut memberikan suara dalam Pemilu silam. Suara saya dan (mungkin) rakyat yang lain seperti tak ada harganya.

Saya memang rakyat biasa, yang masih berjuang menafkahi keluarga kecil saya. Saya juga bukan elit politik yang banyak mengurus persoalan pelik.

Tapi saya juga punya pandangan sendiri, mengenai politik, keadilan sosial, atau kesenjangan kaya miskin di negeri ini. Saya masih punya perhatian dalam masalah ini. Tidakkah mereka yang di Senayan juga memiliki concern serupa?

Entahlah, yang jelas dalam sekian tahun ke depan kita bakal dipersembahkan sebuah mahakarya bagi anak cucu negeri ini di Senayan. Sebuah gedung dewan dengan fasilitas fantastis di negeri yang masih miskin ini. Sebuah ironi di negeri yang dihuni banyak pencoleng.

Nanti di gedung baru, mestinya tiap hari diperdengarkan lagu Iwan Fals berjudul Surat Buat Wakil Rakyat. Agar anggota dewan makin sadar, betapa banyak harapan dan tuntutan dibebankan pada mereka. Sebuah tuntutan wajar karena mereka digaji oleh rakyat.

—————–

“Surat Buat Wakil Rakyat” (Iwan Fals)

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman teman dekat
Apalagi sanak famili

Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke

Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara

Juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……

Untukmu yang duduk sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana, di gedung DPR

Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”

#tulisan 5 dari 365