Jalanan ibukota bagi saya bak sebuah cermin. Tempat melihat bagaimana perilaku warga ibukota sesungguhnya. Disitu aneka pertunjukan bisa kita lihat dan saksikan. Gratis.

Seperti yang saya lihat sore tadi saat berkendara menuju kantor. Di kawasan Otista Jakarta Timur saya mendapati sebuah ‘pertunjukan’ perilaku yang membuat saya geli sendiri.

Saat terjebak dalam kemacetan yang tak terlalu parah, ada suara sirine polisi meraung-raung dari arah jalur Busway. Pikir saya ada sesuatu yang penting sampai-sampai ada mobil lain di jalur yang harusnya steril dari kendaraan di luar Busway. Kenapa saya menyangka demikian, karena beberapa hari terakhir polisi lagi galak-galaknya menggelar operasi simpatik dan sterilisasi jalur Busway.

Ternyata yang terjadi adalah mobil polisi bersama dua truk rombongannya terjebak di jalur Busway. Kebetulan di depannya ada 2 bus transjakarta yang sedang berada di halte. Kedua bus tanpa dosa tetap melayani penumpang yang naik dan turun. Yang memalukan, selama terjebak dalam antrian di jalur busway, polisi tetap membunyikan sirine mobilnya. Mau nyelonong kok pakai sirene ya?

Kalau yang terjebak di jalur busway adalah pengguna jalan seperti saya pastinya tak ada ampun kena tilang.

Kisah ini jelas bertolak belakang dengan cerita seorang kawan sekantor. Ia kena tilang saat terpaksa berbelok ke jalur busway. Karena biasanya ia ‘disuruh’ polisi membelokkan mobilnya ke jalur busway saat melihat kemacetan tak berujung di kawasan Pasar Rumput, Manggarai Jakarta Selatan. Teman tadi kena tilang oleh polisi yang sama yang tiap hari mengarahkan mobil untuk masuk jalur busway. Benar-benar jebakan batman.

Saya tak hendak membela perilaku salah teman saya. Yang saya pertanyakan justru sikap polisi yang dengan enteng memainkan peraturan. Kalau hendak menegakkan aturan, mari kita jaga dan kawal aturan tersebut. Tapi jangan cederai aturan dengan perilaku memberi contoh yang salah. Kalau sudah begini, siapa yang bisa kita contoh?

#tulisan ke-3 dari 365