Ini musimnya personal branding. Sekarang dengan adanya jejaring sosial atau social media persoalan branding jadi urusan yang simpel. Mudah sekali memperkenalkan diri sebagai “A” atau sebagai “B”.

Di microblogging twitter misalnya, dengan keluasan penguasaan terhadap suatu masalah, seseorang bisa dijadikan kamus berjalan, atau digandrungi kicauannya lantaran menyejukkan, memberi perspektif, atau bahasa kerennya inspiring. Jangan salah baca ini sepiring, mau berdua atau bertiga terserah. Halah.

Makanya tak heran juga kalau ‘pengikut’ @hotradero, @Benhan , @gm_gm ,  atau @gusmusgusmu bisa begitu banyaknya. Karena mereka kerap memberi kicauan yang diamini atau dijadikan bahan debat sesama jemaah al-twitter-iyah. Nama seperti Gunawan Mohamad atau Mustofa Bisri bisa jadi adalah selebritas yang tidak hanya ada di dunia nyata. Di dunia dedemit alias dunia tak nyata aka dunia maya mereka tetap sah disebut selebritas. Ketokohan mereka ‘berasa dari isi kicauannya. Mereka sepertinya sadar diri dan mem’branding’kan dirinya seperti yang dikenal publik sebelumnya.

Akan halnya @hotradero atau @benhan pasti sebagian besar penghuni jagat twitter tak terlampau mengenal mereka secara pribadi. Tapi concern mereka pada hal-hal yang spesifik membuat keduanya dengan cepat menjadi selebritas maya. Benhan alias Benny Handoyo senantiasa ditunggu dengan kicauan politiknya, sedangkan Poltak Hotradero ditunggu karena bak kamus berjalan, kerap mengungkap banyak fakta mengenai beragam persoalan.

Saya tak hendak mengungkap seberapa hebatnya media sosial membuat persoalan branding menjadi lebih simpel. Begitu mudahnya kita menyapa banyak kalangan dengan ‘harta’ kita berupa branding. Dan itu priceless, tak ternilai.

Coba bayangkan berapa lama seorang Oprah Winfrey membranding dirinya sehingga dikenal sebagai ratu talk show tv favorit? Puluhan tahun. Butuh jatuh bangun untuk sampai pada posisinya saat ini.

Atau seorang superstar Michael Jackson yang harus melewati banyak kekelaman sebelum masyur sebagai King of Pop. Kerja keras ada di belakang mereka.

Kalau harus mengaitkan dengan seleb of the week di hampiur semuia media yakni si penipu Selly dan MD alias Melinda Dee, adakah kesamaannya? Kedua seleb terakhir jelas sudah sukses membranding dirinya sebagai penipu (tanpa mengurangi rasa hormat pada oproses hukum). Ia secara sadar membentuk dirinya menjadi penipu akibat ulahnya.

Melinda Dee menipu nasabah Citibank hingga 17 M. Sementara Selly menipu banyak orang yang dijanjikan  bakal bermitra dalam bisnis pulsa. Baik Selly maupun Melinda keduanya kini ditahan polisi, menunggu kasusnya masuk ke meja hijau.

Saya tak habis pikir kok ada ya orang yang senang mengambil keuntungan dari orang lain tanpa kerja keras seperti kedua perempuan itu? Bukankah akan lebih nikmat kita membranding diri sebagai ‘sesuatu’ yang berharga jauh lebih baik? Atau mungkin keduanya sudah lupa pada hal-hal yang baik?

Entahlah. Beruntung saya tak jadi mangsa kedua perempuan lihai itu. Atau mungkin karena saya belum pernah bertemu saja dengan keduanya sehingga tak jadi mangsa. Coba saya berhadapan dengan kedua penipu yang katanya cantik itu, mungkinkah saya tak tertipu? Setidaknya mata saya tertipu atas kecantikannya.

#tulisan 2 dari 365