Apa yang bisa dilihat dari Batam dalam dua hari? Pertanyaan ini saya lontarkan pada kawan seperjalanan, saat ditugaskan ke pulau yang bertetangga dengan Singapura ini. Dua hari dengan jadwal yang super ketat sepertinya tak akan bisa mengeksplor semua sisi menarik Batam.

Benar saja, selama perjalanan dengan Garuda, turbulensi cukup mengganggu kenyamanan terbang pagi itu. Niat tidur dalam perjalanan selama 1 jam 11 menit pupus sudah. Kami tiba di Hang Nadim dengan kondisi tubuh kelelahan kurang tidur. Ini semua akibat malam sebelum berangkat hanya sempat tidur 2 jam, setelah seharian piket di kantor.

Welcome to Batam

Meski hari masih pagi, matahari sepertinya full bersinar. Teriknya mulai terasa sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel Holiday Inn di kawasan waterfront city. Untungnya hotel yang kami tempati cukup nyaman, sehingga gerutuan soal cuaca panas Batam sedikit terobati.

Holiday Inn lumayan menyenangkan sebagai tempat menginap. Dua ruang tidur ditambah dua kamar mandi, ruang keluarga, pantry dan meja makan membuat suasananya feels like home. Ini lebih tepat liburan bukan perjalanan dinas! Hehehe…

Atmosfer hotel ini juga cukup bersahabat, sangat cocok sebagai tempat berlibur bersama keluarga. Sayangnya lokasi resort hotel ini agak menyempil. Bahkan untuk mencapainya kita mesti rela melewati jalanan rusak yang berlubang. Jika malam tiba, kita seperti terlempar ke negeri antah berantah, karena sekitar hotel cukup sepi, dengan lampu jalanan yang jarang. Agak remang-remang gimana gitu.

Meski di awal tulisan sepertinya saya tak bakal sempat ke tempat-tempat menarik di Batam, sesekali saya dan kawan-kawan masih sempat sholat di mesjid Raya Batam yang cukup megah. Karena sudah biasa melihat yang megah di Jakarta, saya sendiri tak terlalu heran. Agak aneh pandangan sopir yang mengantar kami selama di Batam, ia mengatakan mesjid ini yang terbesar se-Asia Tenggara. Saya jelas langsung membantahnya, kalau luasnya tak sebanding dengan Istiqlal di Jakarta atau mesjid Kubah Emas di Depok.

Saat mencari pintu masuk mesjid, secara tak sengaja kami menemukan landmark (mungkin karena saya tak tau persis) tulisan raksasa di atas bukit “Selamat Datang di Batam”. Mirip-mirip di Hollywood sana.. J Gatal karena gak pernah sempat narsis, kamipun saling berfoto dengan latar belakang tulisan yang menjadi tanda kami pernah ke Batam. Norak ya….

Dan seperti kebanyak turis lokal lainnya yang ke Batam, pak sopir pun mengantar kami ke Nagoya. Meski namanya rada ke-Jepang-Jepangan, tapi ini masih di Batam. Areal ini merupakan Mangga Dua-nya Batam. Kabarnya banyak barang-barang murah disini.

Saya hanya sempat tanya-tanya sedikit soal harga barang elektronika impor di sini. Lumayan murah, selisih dengan Jakarta sampai 400-500 ribuan. Tapi hati-hati periksa dengan teliti kualitas barangnya! Jangan tergiur harga murah tapi kita lupa memeriksa, apakah barang asli, KW1, KW2 atau barang second. Salah-salah anda malah dikerjain pedagang di sini. Paling aman ya nyari di distributornya langsung. Kalau begitu sih, sama saja dengan di jakarta.

Sop Ikan Yong Kee

Daripada pusing dengan kualitas barang elektronika, akhirnya wisata kuliner lah yang paling menarik perhatian. Banyak yang bilang belum ke Batam kalau belum mencicipi sop ikan khas Batam. Hmm…penasaran juga. Secara sejak di Jakarta belum sempat nyoba Sop Ikan Batam. Nah, mumpung di kandangnya langsung kitapun nyoba Sop Ikan Yong Kee (dibaca Yongki) yang ada di Batam Center.

Berhubung penasaran, sayapun mencoba sop seafood. Isinya bermacam sea food seperti ikan bawal dan sotong yang dicampur irisan tomat dengan bumbu yang aduhai. Yang menarik adalah kuahnya yang segar. Peraciknya tentunya piawai banget, karena ikannya tak amis. Karena enak, saya nyaris tak sadar hingga menghabiskan dua mangkuk sop ikan. OO… Ok deh Yong Kee, sop ikannya juara!

Satu lagi yang bisa direkomendasikan buat oleh-oleh dari Batam adalah Kek Pisang (nulisnya memang begini) yang dalam beberapa tahun ini ngetop banget dan dijadikan ikon oleh-oleh khas Batam. Konon yang paling top merknya Vila. Entah apa hubungannya antara Kek Pisang dengan Vila (yang jelas bukan merk sepatu atau sosis).

Kek Pisang 'Coklat Strawberry'

Kalau menurut saya, Kek pisang ini sebenarnya biasa aja, pembuatnya tahu selera orang Indonesia yang suka dengan rasa manis, maka dibuatlah Kek Pisang dalam berbagai rasa, mulai dari strawberry, coklat, keju, blueberry hingga pandan. Mungkin campuran toping aneka rasa itu yang membuat Kek Pisang ini berbeda. Si pemilik Vila sepertinya cukup jenial menjalankan bisnisnya. Lihat saja di tembok toko penuh foto selebriti yang pernah mampir dan berbelanja di sini. Cara yang biasa dilakukan pemilik kedai di Jawa untuk mendongkrak imej, …lihat Kek ini juga dimakan artis lho! Hehehe…

Akhirnya dua hari di Batam rasanya tak cukup menjelajahi keunikan kota pulau ini. Suatu saat mestinya balik lagi dengan planning yang jelas: Jalan-jalan.