Minggu lalu (20 Feb 11) kami sekeluarga (saya dengan istri dan ketiga anak) akhirnya mengunjungi mesjid Kubah Emas atau mesjid Dian Al Mahri, yang letaknya di Limo, Depok, Jawa Barat. Kunjungan yang sangat kami nantikan, karena sejak dibuka kami hanya bisa berencana, namun waktu yang tepat tak jua menjumpai kami.

Sengaja kami berangkat agak siang karena menunggu si sulung Ihsan bertanding Sepak Bola di SSB Kranggan. Sebuah keputusan yang pada ujungnya kami sesali. Karena perjalanan yang cukup jauh dari kawasan Cibubur. Selain harus melewati banyak kemacetan, udara panas juga membuat bete.

Perjalanan juga cukup ‘menegangkan’ karena saya kurang paham dengan kawasan Depok, lengkaplah penderitaan ini. Beberapa kali mesti tanya sana-sini, kebablasan, serta keterusan. Hihi….

Tapi semua kelelahan terbayar saat kami sampai di halaman mesjid Kubah Emas. Arsitekturnya cukup indah. Meski tak bisa dibandingkan dengan mesjid di Saudi atau mesjid emas di Brunei. Kilauan emas dari kubahnya itu yang membedakan.

Panas menyengat pun menyambut kami. Tapi bukan hanya udaranya yang panas, telapak kaki kami pun seperti melepuh saat melewati lantai menuju tempat wudlu. Ajaibnya, setelah wudlu dan naik ke lantai, semua panas hilang.

Oh ya, larangan membawa anak dibawah usia 10 tahun ke dalam mesjid rupanya sudah dicabut. Buktinya, dua anak saya yang berusia dibawah 10 bebas melenggang dan shalat dengan khusuknya.

Usai menunaikan sholat Dzuhur berjamaah kami dan juga jemaah lainnya mengagumi keindahan interior mesjid. Kubah bagian dalamnya elok, bisa berubah warna tergantung cuaca di luar mesjid.

Selain shalat, hampir semua jemaah memanfaatkan siang itu dengan mengambil foto di lokasi sholat. Sebuah tindakan yang tak patut ditiru, karena sebenarnya ada larangan tertulis untuk mengambil gambar di ruangan sholat. Bukan orang Indonesia namanya kalau gak melanggar aturan. Anehnya lagi, pembuat aturan juga tak ketat mengawasi.

Kelar sholat, di luar atau halaman mesjid ternyata keriuhan jemaah yang berfoto ria ternyata lebih banyak lagi. Memang mesjid ini selain tempat ibadah, kini menjadi sebuah ikon kota Depok. Pengunjung yang datang dari berbagai kota tentunya tak ingin melewatkan kesempatan langka mengunjungi mesjid satu-satunya di Indonesia yang berkubah emas ini dengan berfoto.

Bagi yang tak membawa peralatan seperti kamera, HP atau gadget lainnya tak perlu khawatir, karena disini berkeliaran puluhan tukang foto amatir yang menjajakan jasanya. Dengan 20 rb kita bisa berfoto dengan latar belakang mesjid.

Semua fotografer sepertinya diorganisir resmi oleh pengelola mesjid. Bagi yang berfoto tinggal mengambil hasilnya di ruang aula besar di sisi mesjid.

Selain kesan menyenangkan yang kami sekeluarga dapatkan, ada pula beberapa hal yang cukup mengganggu. Saya tuliskan beberapa :

  1. Uang parkir yang berkali-kali ditarik oleh petugas, entah itu petugas resmi maupun partikelir. Bagi mereka yang membawa mobil pribadi dan masuk lewat pintu samping, anda mesti bersiap setidaknya uang sebesar 11 ribu rupiah. Rinciannya, masuk lewat samping ada petugas parkir yang menagih 2 ribu rupiah. Masuk melewati portal, petugas di posko keamanan meminta 5 ribu rupiah. Usai parkir, petugas akan meminta kita memberi uang seiklasnya. Selesai? Belum. Saat antrian keluar dari gerbang mesjid ada lagi petugas yang menagih 2 ribu rupiah. Total jenderal saya keluarkan uang parkir 11 ribu rupiah untuk 2,5 jam waktu parkir.
  2. Tagihan masih akan anda temukan saat masuk ke areal halaman mesjid. Untuk buang air, seribu rupiah harus anda siapkan untuk dana kebersihan.
  3. Jika HP anda drop dan berniat mencharge battery HP, siapkan 2 ribu rupiah untuk dana listrik.

Saya cukup mengerti untuk merawat dan memelihara bangunan mesjid seluas 8 hektar di atas tanah seluas 60 hektar tentu membutuhkan biaya pemeliharaan yang tak sedikit. Itu saya pahami benar. Tapi yang terjadi dilapangan adalah sebaliknya. Saya tak terlalu yakin beberapa kutipan sampai ke kas pemeliharaan mesjid. Karena oknum petugas sepertinya punya cara dan aturan seenaknya untuk mengutip sumbangan.

Sangat disayangkan jika mesjid yang menjadi ikon Depok dan diminati ribuan jemaah dari berbagai kota di Indonesia ini harus ternoda dengan ulah oknum yang mengambil keuntungan sesaat dan untuk pribadi. Ibu Hajjah Dian Djurian Maimun Al-Rasyid, sang pemilik pasti keberatan jika di mesjid ini ada pungli. Bukan begitu bu hajjah?