Cegukan (sumber: http://tinyurl.com/2bkfx3s)

Ini adalah tulisan lanjutan dari postingan 30 jam Cegukan yang saya posting tepat di tahun baru, 1 Januari 2011. Sekedar info, dalam postingan pertama saya ceritakan kisah cegukan yang saya alami  berakhir di malam tahun baru. Ternyata itu tidak benar! Setelah Kisah itu saya posting, cegukan itu pun berlanjut.

Cegukan saya alami sejak Kamis sore (30 Desember 2010), di tengah kesibukan kerja di kantor. Terapi air putih sambil memencet hidung pun  saya lakukan seperti biasa. Anehnya, meski sudah bergelas-gelas air putih masuk ke tenggorokan, cegukan tetap terjadi. Karena tak mempan, saya selingi dengan menarik nafas dalam-dalam, menahan beberapa detik lalu membuangnya. Cara terakhir lumayan berhasil dan saya pun melenggang pulang dengan riang.

Namun beberapa saat keluar kantor, serangan cegukan pun datang kembali. Karena berada dalam kemacetan lalu lintas yang kronis menjelang cuti bersama akhir tahun, saya baru bisa melepaskan diri dari cegukan di rest area Cibubur setelah menenggak sebotol teh manis.

Cerita ini ternyata belum benar-benar berakhir 30 jam di malam tahun baru. Di siang hari pertama tahun 2011 deraan cegukan benar-benar membuat saya makin tak nyaman. Durasi cegukan bukan hanya menit, tapi detik. tiap beberapa detik dari tenggorokan saya keluar suara hik…hik… yang bukan saja mengganggu kenyamanan namun juga mengganggu siapapun yang mendengarnya.

Dada sayapun mulai terasa sakit lantaran tempo cegukan yang makin parah. Tidak hanya sekali tarikan nafas terus diafragma menutup, namun kerap dua kali tarikan nafas. Sudah itu diselingi pula dengan keluarnya bau kurang sedap yang muncul dari dalam tenggorokan seperti mau muntah.

Karena melihat saya mulai menderita, didampingi istri, anak-anak, adik dan ponakan, saya masuk UGD RS Aminah di kawasan Ulujami Cileduk. Dokter jaga yang baik hati menerangkan bahwa cegukan bisa saja disebabkan salah satunya karena adanya gangguan di sistem syaraf. Saya pun dibekali obat yang hanya boleh saya minum seperempat tablet lantaran kerasnya.

Persoalan muncul karena saya mengkonsumsi obat sebelum waktu kerja tiba. Alhasil saya berkendara ke kantor dengan kondisi cukup ngantuk. Untungnya situasi lalu lintas lumayan lengang dan saya pun selamat sampai kantor.

Setelah saya hitung sejak cegukan pertama, ternyata saya baru terbebas dari deraan cegukan setelah 60 jam di hari Minggu subuh (2 Januatri 2011). Perjuangan yang cukup melelahkan, karena tak bisa tidur nyenyak selama itu. Dan saya baru bisa tidur lumayan enak hari Minggu siang.

Mungkin ada yang belum tahu apa sih cegukan itu? Cegukan kerap disebut hiccup, lantaran menimbulkan suara hik…hik.. Memiliki istilah medis singultus, merupakan kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada diafragma, dan umumnya terjadi berulang-ulang. Durasinya bisa tiap menit, jam, atau tak beraturan. Ia bisa selesai dalam hitungan menit, jam atau berhari-hari. Kasus yang saya alami bukanlah kasus terheboh, karena sepupu saya mengalaminya hingga 7 hari. Jadi bisa dibayangkan betapa menyiksanya.

Menurut sejumlah literatur, terjadinya cegukan melibatkan refleks pada saraf frenikus dan saraf vagus yang ada di daerah diafragma (otot pernapasan utama yang terletak antara dada dan perut). Penyebab cegukan yang bersifat sementara biasanya adalah, makan terlalu cepat, minum minuman berkarbonasi, minum air dingin sesaat setelah makan makanan panas, makan makanan yang sangat panas atau pedas, tertawa atau batuk terlalu keras, banyak menelan udara, kelebihan minuman beralkohol, atau karena ketidakseimbangan elektrolit dalam darah, merokok, stress.

Saya sendiri tak tahu secara pasti apa yang menyebabkan cegukan permanen saya alami hingga 60 jam itu. Karena saya tak makan terlalu pedas, tidak minum dingin setelah makan panas, tidak meminum minuman berkarbonasi, tidak minum alkohol apalagi merokok. Hanya yang paling mungkin saya alami adalah stress. Belakangan saya memang sedang menghadapi tekanan yang cukup tinggi di kampus. Tugas mingguan, ujian akhir hingga deadline proposal thesis membuat saya kalang kabut. Satu persatu memang akhirnya terlampaui, dan hanya menyisakan satu tugas yang belum kelar. Rupanya ini yang menjadi pemicu stress dan cegukan.

Lalu, jika mengalami cegukan, apa yang sebaiknya kita lakukan? Berikut saya paparkan beberapa tips yang bisa diikuti. Ini mungkin bukan saran terbaik, namun setidaknya cara-cara ini bisa dipraktekkan dan kadang lumayan manjur.

  • tarik nafas dalam-dalam, tahan dalam 20 detik, hembuskan perlahan
  • minum air putih (bisa hangat, asal jangan dingin) sambil menutup hidung dan tahan nafas
  • minum air putih sambil memalingkan kepala ke arah kiri dengan cepat
  • mengunyah gula pasir satu sendok teh secara perlahan
  • minum air perasan daun saga setengah gelas kecil. jika tak suka dengan aromanya bisa ditambahi madu

Jika cara tradisional di atas tak mempan dan cegukan menjadi kronis atawa permanen, ada baiknya temui dokter ahli. Karena hanya menebak-nebak dan mengikuti saran tradisional belum menjamin cegukan dapat diatasi.

Selamat Tahun Baru dan merdeka dari cegukan.