Revaldo di TahananSepotong kicauan di twitter petang tadi, “Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun…telah meninggal dunia aktor Revaldo di penjara akibat overdosis.” Karena menyangkut nama terkenal berita ini langsung menyebar begitu cepat. Tak hanya kicauan di Twitter saja, namun merambah ke situs jejaring Facebook, hingga ke media mainstream.

Sejumlah media online pun ‘ribut’ menurunkan laporannya. Redaksi media tv pun sibuk  menyebar awaknya ke sejumlah tempat untuk mencari tahu kebenaran informasi tersebut, mulai dari LP Salemba, LP Narkoba Cipinang, hingga ke kediaman orang tua Revaldo di Bogor. Elshinta bahkan melakukan wawancara langsung dengan pengacara Revaldo.

Hasilnya? Nol besar. Revaldo yang tengah menjalani masa tahanan karena kasus narkoba ternyata sehat-sehat saja. Ia melalui pengacaranya bahkan hanya tertawa mendengar kabar ia dinyatakan ‘tewas’ overdosis di penjara.

Tahukah anda, kabar kematian Revaldo adalah sebuah promo film bioskopnya terbaru. Film yang berjudul “Tebus” saat ini memang sedang gencar ‘menjajah’ ruang online dengan berbagai promo. Mereka (produser film) membuat sayembara review thriller film secara terbuka dengan iming-iming hadiah Ipad.  Hadiah Ipad inilah yang membuat para peserta kreatif memaksimalkan cara berpomosi agar publik ‘menoleh’ ke film ini, yang rencananya tayang di bulan Maret tahun depan.

Dengan masa tayang yang relatif masih cukup lama, publik memang harus disadarkan dengan berbagai cara agar ‘aware’ dengan film ini. Film ini sendiri memiliki genre yang berbeda dari kebanyakan film layar lebar nasional yang tengah tayang di bioskop, yang umumnya didominasi film horor sensual serta komedi. Apalagi film ini bercerita mengenai seorang remaja pengguna narkoba (diperankan oleh Revaldo) yang tewas overdosis. Sebuah cerita yang cukup ‘menjual’  jika dikaitkan dengan posisi Revaldo yang (kebetulan) tengah kesandung kasus Narkoba untuk yang kedua kalinya.

Soal menjual kematian Revaldo sebagai trik promosi film, bisa jadi produsernya sudah berhasil. Tapi, menurut saya keterlaluan juga kalau membuat kematian sebagai bahan jualan. Bagaimana jika nantinya ada kabar yang sebenarnya? Bisa jadi publik kadung kesal dan menganggapnya sebagai hoax atau kabar burung. Kreativitas okelah, tapi bermain-main dengan kematian adalah persoalan yang tidak etis.

Kasus ini mengingatkan saya pada kasus kematian blogger bernama Puri di Kompasiana. Dengan ‘kreativitas’ pula, ribuan blogger di Kompasiana ditipu dengan berita kematiannya akibat kanker payudara. Kabar itu sempat membuat simpati online begitu rupa, hingga banyak yang menangisi kepergiannya. Ada pula kompasianer yang menggalang simpati dan membuka page di Facebook untuk mengenang semangat perjuangan Puri. Terakhir bahkan pernah digagas untuk membuat buku mengenai Puri hasil tulisan keroyokan para blogger.

Untungnya kebohongan online ini tak berlangsung lama, karena ada yang curiga dengan kisah Puri dan menelusurinya hingga ke Yogya sana. Belakangan semua kecurigaan ini menemukan pembenaran dari salah seorang blogger juga, Budiman hakim yang terlibat dalam lomba yang diikuti pembuat tokoh rekaan Puri. Puri adalah tokoh rekaan yang dimunculkan untuk kepentingan sebuah lomba periklanan. Namun karena menjual cerita ‘mengerikan’, si pembuat akhirnya didiskualifikasi oleh juri.

Bagi saya yang awam, tetap menganggap sebuah promosi haruslah memasukkan konteks etika didalamnya. Tidak bisa kegiatan promo dibuat bebas alias nir-etika. Soal kematian adalah urusan Tuhan, dan manusia janganlah membuat persoalan ini menjadi mainan. Kematian bukan untuk diperdagangkan.