Usia dua tahun biasanya seseorang masih dalam tahapan usia yang imut, sedang lucu-lucunya. Ia kerap menirukan tingkah polah orang lain di sekelilingnya. Lain halnya Kompasiana yang juga memasuki usia dua tahun. Kompasiana bukan lagi bak bayi yang imut dan lucu, namun sudah menjelma menjadi gadis yang terus bersolek. Bukan hanya dalam tampilan namun juga dalam isi postingan. Kehadiran Kompasiana bukan hanya memberi warna dalam hidup para blogger penulisnya (Kompasianer), namun juga memberi warna lain bagi dunia media mainstream, sodara tua yang lebih dulu hadir.

Saya mencermati ada sejumlah topik postingan di Kompasiana yang tidak saja membuat geger lingkup internal Kompasiana, namun juga menyeberang melintasi jenis media. Kompasiana yang notabene adalah new media di internet dalam perjalanannya kerap dijadikan rujukan oleh media mainstream. Entah itu menjadi kutipan, bahan liputan, atau bahasan.

Di lingkup internal, suka tak suka kasus Puri menjadi postingan yang paling memorable bagi saya dan mungkin juga bagi Kompasianer yang sudah menghuni rumah sehat ini sejak lebih dari satu tahun silam. Puri memiliki nama akun Cerita Puri bernama lengkap Puriwati Purasari Andono, mahasiswi UGM. Ia dipersonifikasikan sebagai perempuan penderita kanker memang hanya membuat 5 postingan di Kompasiana, namun kehadirannya mampu membetot atensi, emosi dan simpati. Penulisnya memang lihai menguras emosi pembaca, postingan Puri yang berisi semangatnya menghadapi hari-hari terakhir dalam hidupnya menjadi buah bibir di Kompasiana pada waktu itu. Ini melahirkan gelombang simpati luar biasa. Mulai dari postingan mendukung semangatnya, hingga sebuah gerakan Puri Peduli.

Belakangan, ternyata Puri adalah nama fiktif, tokoh rekaan yang dibuat untuk kepentingan sebuah lomba di dunia periklanan. Simpati yang awalnya begitu mengemuka pada Puri kemudian berubah menjadi caci maki pada penulisnya yang dianggap ‘menjual’ kematian demi dukungan pada proyeknya di dunia iklan.

Kehebohan lain yang melintas batas, bisa jadi diawali oleh Puisi berjudul “Pipi Pipi Ini Mimi .. Bukan Mimi Yang Dulu Lagi” yang diposting oleh Linda Djalil. Puisi yang berisi ‘sindiran’ pada seseorang yang meninggalkan suaminya dan memilih bersama lelaki lain, sempat menjadi kehebohan bukan hanya di Kompasiana. Namun menjadi ulasan sejumlah infotainment tv swasta. Linda sendiri tak menulis secuil pun nama orang yang dia maksud, namun public dan juga media mainstream menyimpulkan sendiri bahwa puisi Linda ditujukan pada diva pop Krisdayanti. Konon, gara-gara puisi ini Linda dikejar-kejar infotainment dan membuat KD berang. Ngetopnya puisi ini selain dibaca di Kompasiana, juga diulas di infotainment, serta dibaca oleh pengacara nyentrik Hotman Paris Hutapea di tv. Selain itu puisi ini juga beredar di banyak mailing list internet serta menjadi bahasan di berbagai forum diskusi internet. Wow, bukan main.

Terkahir Linda Djalil juga sempat membuat kehebohan dengan puisinya berjudul Marzuki Alie, Masih Waraskah Anda? Puisi yang berisi keprihatinannya pada ucapan ketua DPR Marzuki Alie saat mengomentari bencana tsunami di Mentawai menjadi top posting di Kompasiana hingga hari ini. Hingga 15 November 2010 puisi ini dibaca lebih dari 29 ribu kali. Jumlah pembaca yang mungkin sulit dilampaui dalam waktu dekat. Menariknya, tulisan Linda Djalil kemudian dibalas atau dijawab oleh sang Ketua DPR, Marzuki Alie dalam postingan juga di Kompasiana. Ini jadi menarik, karena sebuah postingan di internet ‘memaksa’ seorang ketua DPR yang tengah menuai kritikan pedas menulis pembelaan juga di media internet. Bagi saya ini sebuah hal baru, kedewasaan berpolitik seseorang diuji dengan membalas kritikan tertulis dengan tulisan pula. Sebuah upaya intelektual yang saya hargai. Kompasiana dalam ini menjadi sebuah media pertukaran ide yang cantik.

Di luar contoh diatas, saya juga sempat membuat postingan yang kemudian tidak hanya menjadi HL di Kompasiana, namun juga menjadi perbincangan media mainstream. Saat itu saya menulis tentang kebohongan publik yang dibuat seorang blogger tuna netra. Postingan itu berjudul Skandal Blogger Tuna Netra Ramaditya Adikara. Postingan ini sebenarnya bukan berita baru di dunia maya, namun saya baru menuliskan di Kompasiana setelah mendapati bukti di sejumlah situs tentang kebohongan Rama yang mengaku sebagai pembuat komposisi musik video game terkenal. Rama yang dua hari sebelum postingan saya buat masih dijadikan role model pemuda berprestasi oleh sebuah tv swasta, akhirnya keluar sarang dan membenarkan bahwa ia berbohong.

Dampak ikutan dari postingan saya ternyata cukup luas, Kompas.com kemudian memuat tulisan berseri mengenai Rama. Sementara Pepih Nugraha, penulis profil Rama di Kompas yang juga admin Kompasiana menyatakan kecolongan. TV One kemudian mengangkatnya menjadi topik bahasan di program Apa Kabar Indonesia Malam.

Contoh postingan yang menghebohkan jagat Kompasiana dan juga media mainstream diatas masih bisa ditambahi dengan sejumlah postingan yang dikutip atau dimuat utuh oleh media mainstream. Contoh diatas hanya sekedar memaparkan bahwa postingan di Kompasiana memiliki power (kekuatan) menggugah dan mempengaruhi publik. Dan Kompasiana meski baru berusia dua tahun, kehadirannya sudah memberi sumbangan tersendiri dalam kehidupan jurnalistik modern. Kompasiana sudah melintas batas, menjangkau bukan hanya kalangan melek internet namun juga pengguna media tradisional atau media mainstream. Ini yang disebut sebagai era hybrid, perselingkungan media yang menarik. Tak ada media yang bisa berdiri sendiri di era ini, ada simbiosis mutualisma di dalamnya. Namun yang sudah pasti, makin banyak media mainstream yang bergantung pada isu yang digulirkan Kompasiana. Karena postingan kompasianer selalu terdepan.