Pernyataan maaf Silet

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) hari Senin ‘menutup’ tayangan infotainment Silet di RCTI. Tayangan yang dipandu Fenny Rose dan tayang tiap hari jam 11.00 itu dihentikan karena dianggap meresahkan masyarakat. Ini terkait dengan tayangan Silet Minggu mengenai bencana Merapi. Tayangan itu dianggap memprovokasi korban Merapi hingga membuat resah.

Memangnya seberapa kuat sih tayangan Silet sehingga bisa memprovokasi warga? KPI punya data. Dalam dua hari sejak Minggu mereka sudah mendapat 1.128 surat pengaduan keberatan terhadap tayangan ini. Artinya keresahan itu bukan omong kosong. Karena biasanya, protes terhadap tayangan meresahkan jumlahnya tak sampai sebesar itu. Akumulasi lebih dari seribu nota protes biasanya terjadi sekian minggu. Nah, kasus Silet hanya dalam dua hari sudah berhasil memancing tanggapan yang demikian besar.

Besarnya gelombang protes juga menandakan program tayangan infotainment ini sangat banyak pemirsanya. Apalagi selama ini program Silet merupakan infotainment dengan rating – share tertinggi menurut AC-Nielsen. Rata-rata Silet mendapat sekitar 20 persen share pemirsa pada jam ‘padat’ berita itu. Ini artinya pada jam yang sama mayoritas penonton tv berdasarkan survey AC Nielsen, adalah penonton Silet.

Saya sendiri tak merasa kehilangan dengan penutupan program tayangan ini. Karena menurut saya program ini kerap mengangkat hal-hal terlampau remeh dengan penyajian yang lebay. Mulai dari mengangkat hal kecil seperti perseteruan antar artis berebut laki-laki, konflik rumah tangga artis, hingga hujan darah. Selain topik yang remeh, Silet juga kerap menghadirkan narsum yang bukan ahli di bidangnya.

Belakangan Silet kerap bermain di ranah berita berbau mistik, mulai dari jenglot, awan petruk, hingga pesulap Limbad yang digadang-gadang sebagai penerus mbah Maridjan. Tayangan yang aneh, tidak mencerahkan akal sehat.

Sayangnya meski kerap dilecehkan sebagai tak memberi ‘ajaran’ bagi pemirsa, tayangan ini kadung jadi tambang uang bagi stasiun tv yang menyiarkannya. Sehingga pemilik rumah produksi seperti mendapat angin, terus menyiarkan program ini meski bermutu rendah. Yang penting iklan mengalir deras.

Pemilik PH sendiri hingga semalam masih bungkam. Mungkin mereka merasa cukup dengan menayangkan permintaan maaf melalui gambar still di layar dan running text setiap saat. Mungkin mereka sengaja tak muncul karena melindungi nasib ‘bisnis’nya yang lain yang juga ada di stasiun tv lain.

Untuk hal ini, Feny Rose terlihat lebih pintar. Ia langsung menyatakan minta maaf dan turun panggung untuk istirahat dari Silet. Sebuah siasat jitu, karena ia pastinya tak ingin namanya ikut rusak dan dibenci publik akibat kesalahannya di Silet. Apalagi publik tahu Feny Rose ada di hampir semua stasiun tv dengan acara propertinya itu. Kalau tak pandai mengelola masalah ini, bisa-bisa kariernya berhenti di Silet!

Hmm…Lagi-lagi logika bisnis lebih dikedepankan. Lepas dari itu semua, saya berharap kali ini KPI lebih tegas dengan sanksinya. Tidak hanya menutup sementara hingga kondisi awas merapi berakhir. Namun setelah itu tayangan ini dibiarkan mengudara lagi dan melakukan kesalahan yang sama. Kasus program variety Empat Mata cukup jadi pelajaran bagi KPI. Program dihentikan sementara, kemudian muncul lagi dengan nama yang diganti sedikit. Bukankah itu namanya mengakali aturan?

* foto diambil dari Google