Merapi/ foto Reuters

Merapi, gunung api teraktif di dunia yang terletak di perbatasan Magelang Jawa Tengah dan Yogyakarta, terus meletus. Sejak letusan pertama 26 Oktober silam, Merapi terus memuntahkan awan panas, lahar hingga debu vulkanik. Konon debu vulkanik beterbangan hingga kota Bogor dan Bandung, Jawa Barat.

Dahsyatnya letusan Merapi juga menimbulkan korban. Koran Tempo mencatat, sedikitnya 72 orang meninggal akibat awan panas. Termasuk juru kunci Merapi, mbah Marijan dan seorang kawan wartawan Vivanews, Yuniawan Wahyu Nugroho.

Ratusan warga juga menderita luka-luka dan kini dirawat di sejumlah Rumah Sakit. Sementara mereka yang mengungsi diperkirakan mencapai 150 ribu orang, tersebar di beberapa posko pengungsian di Yogyakarta dan Magelang.

Dampak letusan bukan hanya menimpa warga setempat, penerbangan dari dan menuju Yogyakarta batal karena situasi yang tak memungkinkan. Di Bandara Soekarno Hatta, 41 penerbangan dibatalkan. Rupanya Otoritas bandara tak mau mengambil resiko, sebab debu vulkanik jika tersedot mesin pesawat bisa berpotensi meledakkan pesawat. Keputusan yang masuk akal, setidaknya menghindarkan bencana lain di luar Merapi.

Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri ini. Bencana bertubi-tubi datang. Dalam rentang yang berdekatan, banjir bandang Wasior Papua, gempa dan tsunami Mentawai hingga meletusnya Merapi. Ini adalah warning buat manusia yang kerap abai dan alpa terhadap berbagai fenomena alam.

Kita memang kerap menganggap enteng lingkungan tempat kita tinggal. Hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele, seperti buang sampah di sembarang tempat, penebangan pohon tanpa menanam kembali, hingga pembangunan tak memperhatikan daya dukung lingkungan adalah sedikit contoh betapa manusia tak peduli pada alam.

Sampai kapan kita akan terus digerus bencana akibat ketidak pedulian kita? Jangan sampai anak cucu kita nantinya hanya bisa memandangi keelokan alam kita hanya dari buku atau internet lantaran sudah punah akibat kesalahan kita pendahulunya.