Malam takbiran Jakarta diguyur hujan. Cukup lebat dan merata. Dari ujung Cibubur hingga pusat kota, tanah Jakarta basah. Genangan air di sana sini menjadi penanda banyak lubang di jalanan ibukota.

Setibanya di kantor saya mendapat suguhan berita duka. Seorang kawan sekantor beda divisi dikabarkan tewas bersama istrinya saat mudik dengan sepeda motor di kawasan Subang, Jawa Barat. Sementara anaknya yang masih berusia 5 tahun, mengalami patah tulang. Duh gusti saya tercekat dan tak bisa berkata mendengar kabar duka itu.

Saya berharap almarhum mendapat tempat terbaik karena meninggal masih di bulan baik, Ramadhan. Apalagi ia pergi saat mencoba merekatkan tali silaturahim dengan keluarganya di Kebumen sana.

Lebaran seyogyanya merupakan perayaan keriaan setelah sebulan berpuasa. Dan mudik adalah tradisi dan ritual sebagian besar warga muslim menjelang Lebaran.  Saya tak habis pikir sebuah ritual tahunan yang berulang dari puluhan tahun itu mengapa tak pernah diurus dengan baik.

Bukan rahasia jika perjalanan mudik Lebaran bagi sebagian warga selalu identik dengan siksaan. Mulai dari sulitnya mencari moda angkutan publik yang nyaman, tiket yang harganya mahal hingga sarana jalanan yang jauh dari memadai. Cerita soal tidur dalam himpitan penumpang di kereta api atau tidur di tengah aroma pesing di toilet kereta api adalah sedikit kisah nyata yang dihadapi para pemudik. Belum lagi ditambah kenyataan pahit dipermainkan saat mendapatkan tiket hingga kemacetan akut berjam-jam di sejumlah jalur mudik.

Ironis memang, bangsa ini sepertinya tak pernah belajar dari sejarah panjang perayaan lebaran. Tak pernah ada mapping yang jelas persoalan yang pasti dan selalu dihadapi, juga tak ada solusi praktis agar mudik berjalan nyaman dan aman. Semuanya dibiarkan berjalan begitu saja. Dan pingsan, terluka atau mati sekalipun dianggap sebagai resiko yang melekat pada para pemudik. Mati? Siapa suruh mudik, begitu mungkin benak para pembuat keputusan.

Saya gugat manajemen mudik kita bukan karena ada kawan atau keluarga yang terpaksa menyabung nyawa karenanya. Saya hanya mempertanyakan, mengapa dalam banyak hal kita tak pernah bisa menghargai manusia dan kemanusiaan kita. Mengapa para pemudik dibiarkan memilih moda angkutan yang jelas-jelas berbahaya seperti menggunakan motor? Itu karena ongkos angkutan umum begitu mahal dan tak terjangkau sebagian warga. Motor akhirnya dijadikan alat angkut yang murah, meski sangat berbahaya dan beresiko tinggi.

Selamat jalan kawan, selamat menempuh keabadian.

Buat kompasianer, Maaf Lahir Batin.