Postingan saya siang tadi yang berjudul Skandal Blogger Tuna Netra Ramaditya Adikara ternyata mengundang pro-kontra di Kompasiana. Banyak yang mengucap terima kasih karena baru mengetahui, ada juga yang tak percaya, namun ada pula yang menyatakan basi karena sudah ramai dibahas di situs tetangga sebelah.

Saya tak hendak mengurai pro-kontra tentang postingan ini, biarlah kita semua belajar menghargai perbedaan pendapat. Di satu sisi, saya tak punya otoritas menyetujui semua umpatan yang dialamatkan ke Ramaditya. Namun di sisi lain saya juga tak hendak menari diatas penderitaan orang lain. Apa yang saya ungkap adalah sebuah fakta. Perkara dampaknya mengejutkan dan menjadi bola salju adalah cerita lain.

Bagi beberapa kompasianer mungkin temuan ini mengejutkan karena menyangkut figur publik yang cukup dikenal luas. Apalagi dua hari sebelumnya, Rama masih menjadi tamu dalam program khusus 17-an di Metro TV. Pemirsa masih diberi bingkai cerita mengenai keajaiban seorang blogger Ramaditya, yang pintar IT, cakap menulis, mengerti komposisi musik game hingga menjadi seorang motivator yang kerap berkeliling ke sejumlah kota di tanah air.

Jika setelah adanya postingan ini bingkai cerita mengenai Rama berubah, saya kira ini bukan terjadi dalam sehari ini saja. Sebab ternyata ‘bara’ kebohongan ini sebenarnya sudah terlebih dulu diendus sejumlah blogger lain penikmat game. Mereka yang tahu seluk beluk game sudah mencurigai ‘prestasi’ Rama sejak ia pertama muncul di berbagai media.

Dan ternyata baru Juni silam hal ini terbongkar. Rama bahkan sempat disidang secara online dan diminta membuat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi pengakuannya sebagai komposer game Jepang. Karena berulang dan Rama masih kedapatan berbicara di media mengenai ‘prestasinya’ itu, baru 10 Agustus silam semuanya benderang. Ramapun membuat pengakuan yang dibuat diatas surat bermaterai dan direkam dengan handycam. Dan hari ini (Kamis, 19 Agustus) Rama pun meminta maaf secara terbuka melalui Kompas.com.

Ada yang bertanya darimana saya mendapat informasi mengenai kasus Rama? Semuanya dari secuil informasi tak penting di pagi hari tadi. Saat membuka microblogging Twitter, saya mendapati timeline seorang follower saya yang menuding Rama sebagai Hoax. Begini bunyinya “baru tau kalo ramaditya dika hoax…”

Saya langsung menanggapi dan menyatakan sosok Rama itu benar ada dan pernah dibuat profilnya oleh tim Lintas 5 TPI. Sang kawan lantas menunjukkan sebuah sumber dari Kotakgame.com. Saya mencoba baca dengan hati-hati, saya cermati kata per kata dan bukti-bukti yang diungkap. Wow, saya terperanjat dan yakin ini pasti bakal jadi berita besar jika ditulis.

Era new media saat ini memang tak terbantahkan connectivitas antara media, dan sinergi ini memberi keuntungan bagi penikmat media. Karena kita bisa langsung terhubung dengan sumber-sumber secara cepat. Bagi saya twitter menjadi halaman wajib pantau tiap hari, setidaknya banyak bersliweran kicauan, yang sepintas tak penting. Namun jika kicauan tak penting tadi dirajut dalam sebuah cerita dan penelusuran, bisa menjadi kekuatan tersendiri yang dahsyat.