Dunia politik hari ini dikejutkan dengan aksi aktor senior Pong Harjatmo yang memanjat gedung DPR serta mencoretkan 3 kata “Jujur, Adil, Tegas” di atap gedung dewan. Berkat aksi ‘nekatnya’ Pong menjadi pembicaraan ramai dimana-mana. Semua media mengulas aksinya, mulai dari media online, radio, hingga televisi. Bahkan sepanjang siang hastag Pong Harjatmo (#PongHarjatmo) menjadi trending topic di microblogging twitter.

Aksi Pong di DPR bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang luar biasa. Meski Pong adalah aktor namun apa yang dilakukannya bukanlah sensasi murahan atau seledar mencari popularitas seperti kebanyakan artis kita di infotainment. Karena Pong jauh dari jenis pekerja seni yang demikian.

Apa yang dilakukan Pong menurut saya, lebih sebagai political statement dari seorang warga negara yang kebetulan adalah seniman. Baginya, beginilah caranya agar pandangan politiknya diperhatikan anggota dewan. Mungkin jika melakukan audiensi atau kunjungan kepada anggota dewan dampaknya tidak akan sebesar ini. Paling-paling yang tahu hanya media tertentu dan anggota dewan tertentu saja. Masyarakat luas pastinya tak terlalu peduli.

Namun dengan cara memanjat gedung parlemen dan menorehkan 3 kata tadi, pesan politik Pong sampai. Tidak hanya ke anggota dewan, namun juga ke seluruh rakyat dan mendunia. Praktis, tidak perlu berteriak keras. Karena coretan tadi sudah berteriak dengan sendirinya.

Mengapa Pong memilih melakukan cara ini dan tidak menempuh cara normal dengan bertemu anggota dewan? Pong mengatakan, ia tak terlalu percaya bisa dalam waktu singkat menyampaikan aspirasinya ke dewan. Karena birokrasi tak memungkinkan itu. Cara yang ia tempuh menunjukkan ada ketidak percayaan dari rakyat terhadap anggota dewan yang terhormat.

Ada sekat komunikasi antara rakyat yang diwakili dan anggota dewan yang mewakili. Rakyat berjarak dengan anggota dewan. Harusnya ini tidak terjadi.

Sementara isi pesan yang disampaikan Pong di atap gedung, jika ditilik tidak ada yang terlalu luar biasa. Ia tidak mengkritisi sesuatu, tidak menyerang ‘kekebalan’ anggota dewan terhadap kritik, bahkan tidak menyoal kemalasan anggota dewan yang ramai dibincangkan akhir-akhir ini.

Apa yang disampaikan Pong cukup menyengat. Pesan itu menyiratkan sebuah harapan. Harapan  sebuah parlemen yang mengedepankan kejujuran dalam bertindak atau memutuskan sesuatu. Adil dan proporsional dalam melihat persoalan, tidak memihak pada kepentingan tertentu. Sementara tegas yang dimaksudkan Pong bisa jadi merupakan sindiran pada parlemen. Belakangan ketegasan itu tak nampak dari parlemen. Misalnya dalam kasus Century, DPR sangat berpihak pada kelompok kepentingan tertentu, dan setelah ‘melengserkan’ seorang Sri Mulyani, kasus Century pun tidak lagi dikawal oleh DPR.

Saya termasuk orang yang tak menyukai aksi perusakan, terutama di tempat publik. Namun apa yang dilakukan Pong di DPR berbeda dengan aksi vandalisme seperti grafiti atau coret-coretan di jalanan yang seringkali tidak indah dan hanya mengotori mata. Aksi yang dilakukan Pong merupakan pembelajaran politik. Anggota Dewan yang kebal kritik itu memang mesti ‘ditampar’ dengan cara yang tidak biasa.

Terkadang kejengkelan mesti diluapkan dengan cara begini agar publik dan juga anggota dewan sadar, masih banyak pekerjaan rumah di negeri ini yang belum selesai. Dan Pong Harjatmo telah melakukan komunikasi politik yang cerdas, menggunakan media yang tepat dan diapresiasi publik dengan baiknya.