Tulisan  apa yang paling menarik perhatian dalam dua hari terakhir ini di jagat blog? Cikeas-istana? Bukan. Video Ariel? Udah basi. Atau Ridho yang mengharu biru itu? Hmm…jawaban bisa bermacam-macam tergantung dari sudut pandang mana kita berpijak.

Tapi jika pertanyaan ini diajukan ke kompasianer, pasti kita semua sepakat: puisi Pipi… Pipi … Ini Mimi…Bukan Mimi yang Dulu Lagi karya Linda Djalil lah yang menjadi top rated. Bukan hanya memicu kehebohan di Kompasiana, tapi juga menjalar ke sejumlah milis, forum, bahkan blog-blog pribadi dan blog keroyokan lainnya. Wow!

Uniknya, selain dunia maya, puisi ini juga menembus media mainstream televisi. Hampir semua stasiun tv dan semua program infotainment hari Kamis dari pagi sampai malam menampilkan puisi ini. Puisi ini tambah ngetop karena dibacakan pengacara unik nan kontroversial, Hotman Paris Hutapea. Hotman Paris yang saya yakin bukan sodaranya Paris Hilton itu dengan gayanya yang aduhai membacakan puisi ini dari awal sampai akhir. Bahkan ia juga menyebut nama Kompasiana sebagai sumber puisinya (hmm… Promo gratis nih!).

Belakangan puisi ini konon memicu protes dari artis Kris Dayanti yang merasa tersinggung dengan isinya. Bahkan terbetik kabar KD dan kuasa hukumnya bakal melayangkan gugatan pada Linda Djalil selaku penulis dan Kompasiana sebagai media yang memuat puisi ini. Lucu sekali, tersinggung sama puisi. Hihi..

Padahal kalau dibaca tak sedikitpun Linda menyebut kata atau menulis nama KD dalam puisinya. Menurut Linda dalam perbincangan telepon dengan saya kamis sore, terlalu ge-er kalau ada yang menganggap puisi ini buat seseorang. Apalagi buat artis KD. Ia menyilahkan semua yang membacanya menginterpretasikan sendiri, karena ini karya seni yang terbuka pada multi interpretasi.

Saya sependapat dengan Linda, bukan karena ia teman saya. Tapi karena apa yang Linda tulis adalah sebuah karya seni yang tidak menuding si A atau si B. Bahkan tidak menyebut satu namapun. Berapa banyak di bumi Indonesia yang memberi panggilan sayang pada suaminya sebagai Pipi dan istri sebagai Mimi. Saya kira bukan mutlak dimiliki oleh orang tertentu.

Jika ada gugatan dari kubu KD akan semakin lucu, dan publik pasti menertawakannya. Setelah secara demonstratif berciuman bibir dengan suami orang (Raul Lemos), KD sejak kemarin jadi bulan-bulan di dunia maya. Halaman Say No to Krisdayanti di Facebook hingga Jum’at dinihari sudah mencapai 23 ribu lebih pengikutnya.

Sebuah jumlah pengikut yang tak main-main. KD harus berhitung dengan ini. Kekuatan internet dan media tak bisa disepelekan. Ciuman bibir itu begitu dahsyat dampaknya bagi masyarakat kita yang masih menjunjung nilai dan norma. Bagi sebagian masyarakat apa yang dipertontonkan KD dan Raul Lemos sebagai hal tak pantas di depan publik. Apalagi dipertontonkan lewat media.

Kembali ke puisi tadi, gara-gara tulisan ini Linda Djalil jadi ngetop luar biasa. Sejumlah infotainment mengejar-ngejar Linda untuk wawancara. Tapi Linda emoh disangkut pautkan dengan isu KD, karena memang ia tak menulis puisi ini untuk sang artis.

Lucunya, di beberapa forum atau milis, Linda Djalil disebut sebagai  wartawati senior Singapura. Hmm…pastinya yang menyebut begitu mereka yang tak tahu rekam jejak seorang Linda Djalil. Saya tegaskan disini, Linda Djalil adalah mantan wartawan majalah berita Tempo dan Gatra. Dan ia asli Indonesia. Jadi buat siapapun yang memperbanyak puisi Pipi Mimi-nya Linda Djalil silakan saja, tapi diberi keterangan yang akurat dong.

Lihat saja link forum ini yang menyebut Linda Djalil sebagai orang Singapura. Ok, kesalahan ini mungkin bisa dimaklumi karena itu forum negeri tetangga. Tapi coba lihat yang ini juga, ini forum milik Vivanews yang punyanya Bakrie itu. Sepertinya mereka copy paste dari milis lain, jadi ikut-ikutan salah.

* foto Linda, Novrita, dan saya diambil di FB Linda Djalil