AT Mahmud, pengarang lagu anak-anak terkemuka di Indonesia, selasa siang pergi untuk selamanya. Jasadnya menurut rencana akan dimakamkan di TPU Menteng Pulo Jakarta Selatan Rabu pagi. Bagi mereka yang memiliki anak, pasti mengenal nama AT Mahmud. Bahkan sangat dekat malah.

Saya beruntung hidup dalam dekade dimana lagu anak-anak kita begitu beragam, mulai dari eranya Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, hingga Yoan Tanamal. Mereka punya lagu-lagu hits yang masih membekas di benak saya hingga kini. Ini sangat berbeda dengan eranya anak sekarang yang lebih kenal dengan “Mau dibawa Kemana”nya Armada atau lagu-lagu Peterpan. Selain lebih dewasa, lagu-lagu grup itu sebenarnya bukan untuk konsumsi anak-anak.

Tapi apa mau dikata, media tv yang belasan jumlahnya secara nasional mendikte selera dan program acara pemirsanya dengan lagu yang ‘sesuai selera pasar’, mereka tak peduli apakah lagu itu cocok didengar atau didendangkan anak-anak. Kenyataan ini diperparah dengan kondisi parahnya stok penyanyi dan lagu anak-anak yang baru. Dalam kurun 5 tahun terakhir sangat minim penyanyi cilik yang muncul dengan kekuatan lagu khas anak-anak yang riang dan sesuai ‘umurnya’.

Yang terjadi kemudian, penyanyi cilik malah menyanyikan lagu dewasa yang coba dikanak-kanakkan. Lihat saja penyanyi Umay Shahab yang menyanyikan lagu Grup Band Kuburan “Lupa-lupa Ingat” dalam versi kanak-kanak yang berubah menjadi “SKJ” alias Senam Kesegaran Jasmani.

Diantara lagu-lagu anak yang tak sesuai umurnya itu, lagu-lagu karya AT Mahmud menjadi dewa penolong. Lagu-lagunya ceria, dengan irama yang mudah diikuti, dengan syair sederhana namun penuh arti. Lagu karya AT Mahmud, dan juga pencipta lagu lain seperti Bu Sud atau Pak Kasur menjadi lagu abadi bagi anak-anak. Saya seperti juga pernah dilakukan orang tua saya, tanpa pernah sungkan apalagi malu kemudian mentransfer lagu-lagu karya AT Mahmud ke anak-anak saya.

Lagu-lagu AT Mahmud memiliki kekuatan di syair yang sederhana, dengan melodi yang juga sederhana dan gampang diikuti. Mungkin karena saat diciptakan pengaruh musik lain belum sekomplek sekarang, maka AT Mahmud bisa membuat lagu dengan irama yang sederhana. Namun justru dari kesederhanaannya itulah lagu AT Mahmud masuk ke dalam ‘hati’ anak-anak dan siapapun yang menyanyikannya.

Ketika dulu penyanyi cilik Tasya merekam kembali lagu AT Mahmud, saya termasuk yang surprise dan senang bukan kepalang. Terbayang saya bisa bernyanyi sembari mengingat serunya masa kecil. Namun bedanya, kalau dulu nyanyi sambil nonton TVRI, kini nyanyi lagu Tasya (karya AT Mahmud) sambil bersenandung dengan anak-anak saya.

Menurut saya, penyanyi Tasya berhasil menginterpretasikan lagu karya AT Mahmud dengan cukup baik. Apalagi ditunjang aransemen musik Dian HP, karya AT Mahmud yang dirilis oleh Sony Wonder itu begitu nikmat didengar.

Kini, AT Mahmud telah pergi. Tak akan ada lagi lagu-lagu baru yang berlirik dan berirama sederhana darinya. Namun kita masih tetap bisa menyenandungkan karyanya yang abadi, yang ada di hati.

kemarin paman datang/ pamanku dari desa/ dibawakannya rambutan pisang/ dan sayur mayur segala rupa/ bercerita paman tentang ternaknya/ berkembang biak semua

padaku paman berjanji/ mengajak libur di desa/ hatiku riang tidak terperi/ terbayang sudah aku disana/ mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau ke kandang//