Metro Tv diganjar sanksi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) gara-gara meloloskan berita yang berisi film porno di program Headline News pukul 05.00 WIB, 14 Juni 2010. Sanksi itu berupa pemblokiran tayang Headline News pukul 05.00 selama sepekan, permintaan maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatan serupa.

Sementara di internal Metro TV sendiri menurut Pemred-nya Elman Saragih, pihaknya sudah menjatuhkan sanksi pada produser program bersangkutan dengan menurunkan pangkat satu tingkat hingga membebaskan tugas dari keredaksian. Elman menyatakan, kesalahan itu tak termaafkan dan pihaknya tak mau mengelak dari kesalahan.

Sikap yang bagus dan gentleman. Beda sekali dengan sikap tv sebelah saat dituding telah merekayasa seorang makelar kasus (markus) beberapa waktu lalu. Sikap tegas seperti ini yang jarang ada.

Saya sendiri tak sempat menonton tayangan Headline News yang menghebohkan itu. Jam tayang yang tanggung buat penggemar berita. Metro Tv harus bersyukur karena kesalahan itu bukan terjadi pada jam tayang utama (prime time) yang memiliki kemungkinan jumlah penonton banyak. Jadi persoalan ini tak sempat menjadi bola liar yang panas bagi stasiun tv milik Surya Paloh ini. Apalagi belakangan SP sedang digoyang posisinya di Golkar. Ia diminta keluar dari Golkar karena tengah membangun Nasional Demokrat, ormas yang sepertinya bakal berganti wujud sebagai parpol itu.

Namun ada yang aneh dari penjelasan Pemred Metro TV pada KPI, ia menyatakan salah tayang itu akibat kesalahan teknologi informasi (IT error). Enak benar menuding IT sebagai penyebab kesalahan tayang.  Okelah ada IT Error, memang IT bukanlah segalanya.  Ada banyak hal dibalik IT, karena teknologi informasi secanggih apapun tak akan berarti apa-apa tanpa faktor manusia (human factor).

Bagaimana mungkin gambar video yang berisi adegan porno bisa lolos tanpa ada proses editing yang berlaku sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur)? Ini menjadi pertanyaan besar, apa mungkin gambar porno itu tidak diedit terlebih dulu oleh seorang Video Editor sebelum ditayangkan dalam Headline News? Apakah gambar tadi hanya digelundungkan apa adanya karena menganggap hanya gambar razia video porno biasa?

Saya lebih melihat ada pelanggaran prosedur kerja di internal Metro TV sendiri. Mengapa sudah minta maaf, sudah memberi sanksi pada produser bersangkutan, tapi kok terkesan kurang legowo dengan menyalahkan IT? Akuilah bahwa filter pengawasan internal Metro kurang ketat dalam hal ini.

Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi dan menimpa TV7 (sekarang bernama Trans-7). Saat itu stasiun tv ini masih dibawah manajemen Kompas-Gramedia. Mereka menayangkan berita kriminal yang berisi video porno. Gambarnya sendiri sudah diblur sesuai kaidah pengeditan berita. Sayangnya, meski sudah diblur tetap terlihat adegan suami istri, meski samar-samar.

Kasus itu lolos dan tayang di program berita kriminal siang. Setelah tayang tak ada satupun lingkup internal redaksi TV7 waktu itu yang meributkan. Mungkin semua sudah merasa menjalankan pekerjaan sesuai prosedur yang berlaku. Termasuk memblur gambar syur tadi.

Masalah baru muncul beberapa pekan kemudian setelah pemirsa mempertanyakan melalui surat pembaca di Kompas. Surat itu bagai petir di siang bolong bagi redaksi. Mereka bereaksi cepat, sang produser dicopot dan diminta mengundurkan diri sebagai karyawan.

Kasus ini memang tak sempat membesar dan dipersoalkan oleh publik maupun Komisi Penyiaran Indonesia. Mungkin karena program berita yang dimaksud tidak banyak ditonton pemirsa atau karena beritanya terlalu biasa. Entahlah.

Ada sebuah pelajaran mahal dari dua kasus ini. Sebebas-bebasnya stasiun tv menyiarkan berita, entah dengan agenda setting redaksi ataupun menyiarkan peristiwa, faktor publik tak bisa dianggap remeh. Janganlah bermain-main dengan pengawasan publik. Etika  pemberitaan tetap harus dikedepankan, dan redaksi tidak bisa menafikan ada publik yang terus mengawasi kinerja mereka.