Film Tanah Air Beta

Entah mengapa tiap tahun saya selalu menantikan film produksi Alenia Pictures. Sejak Denias tayang beberapa tahun silam, kemudian diikuti Liburan Seru, saya dan anak-anak pasti menyempatkan nonton bareng. Hanya film King yang tak sempat kami tonton bersama, lantaran bentrok dengan film lain bergenre sama.

Minimnya tontonan ‘aman’ bagi anak-anak menjadi salah satu alasan. Di tengah hingar bingarnya film Indonesia bergenre komedia seks, hantu dan drama percintaan, film garapan Alenia menjadi berbeda.

Dan liburan tahun ini Alenia merilis film bertajuk  Tanah Air Beta.  Film ini dibintangi Allexandra Gottardo dan Lukman Sardi.  Meski memasang nama besar aktor Lukman Sardi, namun film ini lebih banyak berkisar pada tiga tokoh yakni Tatiana (Allexandra) dan dua bintang cilik yang berperan sebagai Merry (Griffit Patricia) dan Carlo (Yehuda Rumbindi).

Allexandra bermain cukup apik sebagai ibu yang terpisah dari anaknya, yang disebut sebagai Kak Maru lantaran jajak pendapat di Timtim (kini Timor Leste). Ia berhasil melepaskan diri dari sosok selebriti dan tampil apa adanya sebagai warga Timtim yang hidup di pengungsian di NTT. Semula saya underestimate dengan peran Tatiana yang dimainkan Allexandra.

Saya kira dia tak akan bisa berpisah dari raganya yang sangat jelit itu. Namun dugaan saya salah, Allexandra yang putih disulap menjadi legam khas warga Timtim. Meski sebenarnya penampilan fisiknya masih bisa dibuat lebih letih, lebih keras, namun usaha tim produksi Alenia tak mengecewakan lah.

Lalu bagaimana dengan 2 pemain cilik tadi? Saya patut memberi acungan jempol pada tokoh Carlo. Permainannya begitu natural, gerak tubuh dan penjiwaannya juara. Dialah yang menghidupkan film ini sehingga punya ‘nyawa’. Tokoh Carlo pula membuat peran Merry menjadi lebih berkilau.

Sebenarnya jalan cerita Tanah Air Beta cukup sederhana. Meski berlatar peristiwa jajak pendapat, namun anda tak akan dibuat berkerut kening menyaksikan kontroversi jajak pendapat dan berpisahnya Timtim dari bumi Indonesia.

Sutradara Ari Sihasale tampaknya sengaja tak mau terlibat dalam persoalan politik yang berat. Ia hanya mengambil latar belakang persoalan politik jajak pendapat dan membingkainya menjadi kisah persahabatan di tengah sulitnya nasib para pengungsi eks Timtim.

Sama dengan film Denias yang dulu banyak mengeksplore keindahan tanah Papua, film inipun masih menampilkan resep serupa. Lansekap Belu NTT yang gersang dibingkai dengan cantiknya dalam film ini. Meski gersang, sutradara mampu memperlihatkan sebuah Indonesia yang lain pada penonton.

Dan saya kira keberhasilan film ini selain memiliki pesan yang kuat pada indahnya persahabatan, juga salah satunya lantaran Ale mampu menyuguhkan wajah lain negeri ini. Ini penting, terutama bagi anak-anak kota besar yang konon lebih tahu wajah Singapura atau Australia dibandingkan dengan wajah negerinya sendiri.

Satu lagi yang penting dari film garapan Alenia adalah concern-nya pada hal-hal berbau nasionalisme. Cinta negeri dan cinta segala hal yang berbau tanah air sendiri selalu kuat ditampilkan Ale dalam film-filmnya. Penggunaan lagu perjuangan dalam film ini jelas merupakan ide jenial. Penonton anak-anak jadi memiliki kenangan akan film ini dari lagunya yang sangat jarang lagi mereka dengar dan nyanyikan.

Kalau harus mengkritik film ini, saya dan mungkin penonton lain agak terganggu dengan adegan cuci tangan dengan sabun yang sampai harus berulang 3 kali. Saya tahu, film ini sejak awal memang disponsori oleh produk sabun kesehatan yang memiliki kampanye cuci tangan dengan sabun. Tapi mengulang adegan cuci tangan dengan sabun hingga tiga kali saya pikir kebangetan. Agak merusak kenyamanan menonton kita.