Benhan vs IJP

Saat tulisan ini dibuat Suntv yang tayang di channel berbayar Indovision tengah menyiarkan debat antara Indra Jaya Piliang dan Beny Handoyo alias Benhan. Debat mengenai Dana Aspirasi DPR yang disiarkan Suntv ini dimoderatori oleh Fadjroel Rahman. Topik diskusinya cukup hangat belakangan ini seputar kontroversi dana aspirasi yang diusulkan partai Golkar. Usulan ini sempat membuat polemik cukup ramai di media massa.

Pihak yang pro adalah Golkar. Mereka mengusulkan tiap daerah pemilihan diberikan dana senilai 15 milyar rupiah. Kontan saja usulan ini memicu pro-kontra. Hampir semua fraksi di DPR tegas menolak karena dianggap akan membebani APBN.

Hingga pekan lalu usulan inipun kempis. Golkar babak belur disumpahi publik karena mengusulkan dana aspirasi. Belakangan setelah penolakan dana aspirasi, usulan ini diganti nama menjadi dana desa. Jika sebelumnya ‘cuma’ 15 M per Dapil, dana desa ‘cuma’ 1 M tiap desa. Kendati jumlah nominal tiap desa hanya 1 M namun total yang harus dikeluarkan APBN lebih besar. Untuk 62.806 desa, total anggaran yang harus disiapkan APBN mencapai Rp 62,9 trilyun. Bandingkan dengan dana aspirasi yang hanya ‘membutuhkan’ Rp 8,4 Trilyun.

Benhan

Dan pekan ini publik seperti ditikam dari belakang. Di media massa santer diberitakan usulan dana desa maupun dana aspirasi sudah lenyap. Namun apa yang terjadi? Pekan ini tiba-tiba muncul kabar panitia anggaran DPR sudah menyetujui soal dana desa ini. Bahkan besok Kamis sidang paripurna DPR bakal memutuskan usulan ini. Wow bermain di tikungan!

Saat semua perhatian publik beralih ke kasus video mesum mirip artis, ternyata DPR membuat keputusan yang bertolak belakang dari sikap fraksi sebelumnya. Mereka yang berada di dalam panitia anggaran semua mengangguk setuju dengan usulan dana aspirasi. Hmm..

Tulisan ini tak akan lebih jauh membedah mengenai kontroversi dana aspirasi usulan Golkar ini. Justru saya mengamati acara debat ini makin mengukuhkan ketergantungan media mainstream terhadap new media. Buat yang belum tahu, topik ini sebelumnya sudah ramai menjadi perbincangan di micro blogging Twitter. Dan acara di Suntv ini adalah upaya memindahkan media debat dari social media Twitter ke ranah televisi. Istilah kerennya menonton Twitter di layar kaca.

Bagi pengguna Twitter kedua panelis sudah cukup dikenal. Bahkan mereka berdua sudah menjadi seleb Twitter. Tiap hari kicauannya diikuti ribuan follower. Benhan memiliki pengikut sebanyak 4.216 orang. Sementara Indrajaya Piliang yang sebelumnya sudah dikenal sebagai pengamat politikmemiliki pengikut yang tak kalah banyak 1.764 follower.

Benhan yang orang biasa -bukan berarti IJP orang luar biasa lho- mendadak menjadi seleb tweet dengan kicauan-kicauannya mengenai politik yang banyak dikutip dan diikuti banyak orang. Banyak Tweeps -sebutan bagi pengguna twitter- yang merasa mendapat pencerahan mengenai sebuah isu setelah membaca timeline Benhan.

Twitter seperti halnya social media lainnya memang telah memunculkan bakat-bakat baru yang tak terduga yang selama ini tak tersentuh media mainstream. Karena konsepnya, old media selama ini hanya menampilkan tokoh yang ‘itu-itu saja’.

Lain halnya di new media. Orang biasa seperti Benhan kini bisa menjadi ‘tokoh’ tersendiri. Pandangan-pandangan politiknya mengenai suatu fenomena bisa diamini dan di retweet ribuan kali oleh followernya. Seorang jurnalis senior dan legenda hidup pers Indonesia Goenawan Mohammad pun tak perlu malu jika sering me-retweet kicauan Benhan.

Melihat tayangan debat tadi, saya perkirakan di masa datang media mainstream bakal terus jadi follower new media. Kecenderungan itu bisa dilihat sejak beberapa bulan terakhir. Konten dari new media kerap diserap menjadi agenda setting media mainstream. Lihat saja kasus Prita dengan Koin Pritanya, koin Cinta Bilqis, hingga ke video mesum Ariel – Luna – Cut Tary.

Akankah ini menjadi akhir dari kejayaan media mainstream? Terlalu dini meramalkannya. Namun yang jelas, media mainstream bakal makin tergantung dengan konten new media. Kita lihat saja nanti.