Tar Boy di The Sun / foto by SS

Media massa di Inggris belakangan sedang heboh dengan berita seorang bocah 2 tahun yang kecanduan rokok. Publik Inggris yang sangat ketat mengenai larangan merokok bagi usia dini, terperangah dan kaget. Mereka tak bisa mengerti mengapa bisa bocah seusia itu merokok. Bahkan terhitung kecanduan.

Ardi Rizal nama bocah itu. Ya, benar dia warga Indonesia. Profilnya dibuat oleh harian The Sun menjadi cerita dengan foto-foto yang cukup provokatif. Dalam berita yang dibuat The Sun edisi 26 Mei 2010, Ardi terlihat merokok dalam berbagai gaya. Meski ada beberapa adegan bak orang dewasa, namun ekspresi kanak-kanaknya tetap terlihat.

Ardi adalah putra pasangan Muhammad dan Diana, adalah warga Banyuasin, Sumatera Selatan. Di usianya yang baru 18 bulan, dalam sehari bocah ini konon bisa menghabiskan 40 batang rokok. Jumlah yang menurut saya luar biasa. Karenanya, ia dijuluki Tar Boy oleh media cetak Inggris.

Ini memang bukan kasus anak balita merokok yang pertama. Sebelumnya sudah ada Sandi di Malang yang selain merokok juga kerap mengeluarkan kata-kata kasar. Belakangan Sandi sempat mengikuti therapy di sebuah rumah sakit untuk menghilangkan ketergantungannya pada rokok. Entah sampai di mana perkembangan therapy bagi Sandi.

Ini merupakan kenyataan pahit yang memprihatinkan. Dalam benak saya bertanya, kemana saja orang tuanya selama ini? Mengapa bisa anak yang organ tubuhnya masih rentan harus dimasuki racun Tar dan nikotin?

Dalam persoalan ini orang tualah yang bersalah. Karena anak balita hidupnya masih dalam pantauan dan tanggung jawab orang tuanya. Termasuk dalam persoalan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan atau dikonsumsi. Ia belum bisa membedakan mana bahan berbahaya dan mana yang bersahabat bagi tubuh.

Dalam kasus Ardi, sang bapak mengaku tak bisa berbuat apapun. Ardi jika tak dipenuhi permintaannya akan rokok akan mengamuk dan membenturkan kepalanya di tembok. Tapi, apapun dalih sang orang tua, rokok tetaplah berbahaya. Jangankan bagi anak-anak, orang dewasa pun sangat tidak disarankan untuk merokok, karena faktor bahayanya bagi kesehatan mendominasi dibandingkan kegunaannya.

Menurut data data survei sosial ekonomi nasional terakhir pada 2004, perokok pemula di Indonesia usia 5-9 tahun meningkat empat kali lipat dalam kurun waktu 2001-2004. Mayoritas perokok pemula adalah usia remaja 15-19 tahun.

Karenanya temuan adanya perokok sangat dini seperti Ardi dan Sandi menyiratkan sebuah keprihatinan. Ternyata usia merokok anak-anak makin muda.

Kini saatnya kita bergerak dan berbuat. Jangan lagi kita sekedar terkejut namun tetap membiarkan kenyataan pahit seperti dialami Ardi atau Sandi terus berlangsung.

Bagi mereka yang merokok, sadarlah bahwa aktivitas anda membahayakan kesehatan bukan hanya anda pribadi sebagai perokok, namun juga orang di sekitar anda.

  • Jika ingin merokok, saran saya, pilihlah lokasi yang jauh dari jangkauan publik, terutama anak-anak.
  • Patuhilah larangan merokok di tempat umum. Dengan mematuhi aturan berarti kita bisa menyelamatkan satu generasi anak cucu kita.
  • Jangan dukung perusahaan tembakau / rokok.
  • Jangan dukung kegiatan apapun yang disponsori atau didanai perusahaan rokok
  • Jika masih merokok, teruslah berusaha mengurangi. Mengurangi berarti peduli pada kesehatan, udara bersih yang harusnya gratis dan bisa dinikmati semua orang

Sementara itu bagi pemerintah, ada beberapa hal yang bisa dishare. Pertama, ambil tindakan tegas bagi ortu yang tak bisa mendidik anaknya sehingga memberi contoh buruk pada masyarakat. Kedua, Naikkan pajak bagi produsen rokok agar harga rokok tak terjangkau kantung banyak orang. Ketiga, berikan pendampingan dan rehabilitasi kesehatan korban seperti Ardi dan Sandi. Keempat, batasi peredaan iklan rokok, sebab dari sinilah asal muasal aktivitas merokok ini berasal.

Mari jadikan hidup lebih baik tanpa tembakau. Jangan racuni anak-anak kita dengan tembakau. Karena hanya pada anak-anak kita menitipkan masa depan. Kalau publik Inggris saja bisa terperangah dan marah dengan fakta ini, harusnya kita lebih peduli.