Kampung AM

Terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat memuncaki hajatan besar Kongres Partai Demokrat ke-2 yang berakhir Minggu malam. Anas memecahkan rekor sebagai ketua Partai Politik termuda di Indonesia saat ini.

Anas bukan hanya menang secara mengesankan, namun juga meruntuhkan anggapan politik harus dengan restu, harus jor-joran. Anas berbeda dengan Andi Mallarangeng (AM). AM menggunakan Edy Baskoro Yudhoyono alias Ibas untuk memperkuat pencitraan dan berharap dukungan sebagai kepanjangan tangan SBY, ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga ayah Ibas.

Tapi apa yang terjadi, AM hancur luluh dalam putaran pertama pemilihan. Politik pencitraan AM yang ditangani Fox Indonesia gagal total. Entah berapa Milyar dihabiskan tim Fox untuk mendongkrak pencitraan AM. Selama kongres AM terlihat all out ‘menjual dirinya’ ke publik. Kota Bandung sebagai lokasi Kongres ‘dikuasai’ spanduk, baliho, poster  AM dalam berbagai ukuran.

Ini mengherankan. AM seperti bertarung dalam Pemilukada Kodya Bandung dan bukan dalam PilKadem (Pemilihan Ketua Demokrat).

Kekalahan AM dipandang praktisi Marketing Politik Eep S.Fatah sebagai bukti kesalahan merumuskan kampanye modern dan salah kaprah political marketing. Eep mengatakan ini di akun twitternya. Namun Eep tidak menjelaskan dimana letak kesalahan yang dilakukan AM dengan tim Fox-nya.

Saya berusaha mengurai semampu saya, apa saja kesalahan AM sehingga tersungkur begitu meyakinkan.

Pertama, AM terlalu bersemangat menggandeng Ibas sebagai endorsement. Ia berpikir menggaet Ibas adalah tiket ke ‘surga’ karena ada faktor SBY di belakangnya. Ia tak sadar sejak kasus Century dan kisruh Cicak Buaya publik politik kecewa dengan SBY, sehingga faktor ini mestinya harus hati-hati digunakan. Meski tak dapat disangkal SBY adalah Demokrat, namun selalu menjual SBY adalah kesalahannya yang terbesar.

Kedua, menyepelekan konstituen. Konon AM termasuk jarang menggarap konstituen. Fox terlalu konsentrasi pada pencitraan AM di media. Mungkin mereka beranggapan publik Demokrat bisa diyakinkan dengan pencitraan melalui media saja. Ini juga kesalahan AM yang lain. Publik di daerah (DPC dan DPD) mesti disapa dan diyakinkan dengan perjumpaan.

Ketiga, salah strategi. Jika melihat pemasaran politik yang dianut Fox untuk AM membingungkan. Ini ‘jualan’ untuk posisi Demokrat-1 atau Pemilukada? Apa yang ditampilkan dari iklan politik di media dan di jalanan kota Bandung, publik seperti dikondisikan untuk sebuah pertempuran dalam Pemilukada.

Keempat, AM tak punya gagasan yang cukup kuat untuk dijual. Dalam perjalanannya sebagai kader partai ia tak cukup punya peninggalan atau jejak pemikiran yang diingat publik.

Kekalahan telak AM di kongres PD kemarin merupakan kekalahan kesekian yang dialami politisi asal Sulawesi Selatan itu. Dalam Pemilu 2004 partainya yakni Partai Demokrasi Kebangsaan kalah dan tak memenuhi Electoral Threshold. Karena tak mampu membawa partainya mendapat suara, ia mundur di tahun 2004, menclok ke kubu SBY dan menjadi jubir Presiden.

Dalam Pemilu 2009 pun perolehan suara AM jeblok. Terakhir sebagai Menpora pun belum ada prestasi atau gebrakan yang berarti dari seorang AM.

Melihat realitas ini, bagaimana karier politik AM ke depan? Masihkah AM berjaya dengan sokongan adik-adiknya?