Pagi tadi sebuah pesan pendek SMS saya terima. Begini bunyinya, “Terima kasih atas partisipasi anda dalam sensus penduduk 2010. Bagi yang belum disensus segera melapor ke ketua RT/Lingkungan setempat”.

Tepat dugaan saya, itu SMS dari Badan Pusat Statistik. Rupanya BPS menggunakan cara yang sama dengan KPU saat Pemilu lalu. BPS mengirimkan SMS blast bagi pengguna telepon genggam sebagai sosialisasi Sensus Penduduk yang tengah berjalan.

Saya hanya senyum menerima SMS BPS ini. Bukan apa-apa, saya merasa belum dicacah oleh petugas sensus sejak pendataan penduduk ini berjalan 1 Mei silam. Petugas memang sudah mendatangi rumah kami di hari pertama. Mereka hanya bertemu pembantu rumah tangga dan anak-anak. Tak ada data yang sahih bisa diberikan pada petugas, sebab pembantu saya tak tahu banyak mengenai data-data kependudukan keluarga kami.

Saya sempat menuliskan ini dan menuding petugas sensus ceroboh, kok percaya dengan data mentah seperti itu. Postingan saya berbuah protes dari seorang blogger yang kebetulan menjadi petugas sensus. Ia merasa keberatan jika petugas sensus dikatakan malas. Ia berdalih, itu hanya kunjungan pertama untuk pendataan awal. Nantinya petugas akan kembali mendatangi rumah kami untuk mencacah (mendata lebih lengkap).

Oke masuk akal penjelasannya. Tapi tunggu punya tunggu, setengah bulan berlalu dan tak ada satupun petugas yang kembali datang membuat saya bertanya-tanya. Benar atau tidak mereka akan kembali mendata di tahap kedua?

Kalau tidak benar, sayang sekali tudingan saya menjadi benar.

Saya tahu mendata penduduk yang begini banyak di tanah air, membutuhkan pengorbanan besar. Selain waktu dan ternyata juga nyawa. Hingga setengah putaran sudah 4 petugas tewas saat menjalankan tugas di lapangan, dengan 3 diantaranya kecelakaan. Sementara 5 orang lainnya dirawat di rumah sakit.

Sungguh sebuah tugas yang cukup berat.