Agak terperangah juga saat kemarin mendapati kabar kembali dibekuknya sejumlah orang yang disangka sebagai teroris. Mereka dibekuk di Cawang Jakarta Timur dan Cikampek Jawa Barat. Lima orang tewas, dua diantaranya konon anggota komplotan teroris Aceh.

Kaget karena tak menyangka bakal ada sekuel (atau prekuel) penangkapan teroris seperti di Aceh. Tewasnya gembong teroris Noordin M.Top rupanya tak membuat jera kawanan teroris untuk  membuat onar.

Kalau sinyalemen Polri benar bahwa komplotan ini ditengarai bakal membuat aksi dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya ini  ini mengindikasikan masih berakarnya jaringan teroris. Untuk analisis soal terorisme serahkan saja pada ahlinya pak Prayitno Ramelan.

Saya sendiri hanya ingin menyoroti cara media melaporkan berita semacam ini. Sebagai pemirsa ada ketakutan tersendiri manakala  melihat berita teroris di tv kita. Mulai dari penyergapannya yang dipertunjukkan begitu telanjangnya, dengan liputan terus menerus tanpa jeda, hingga berita-berita pasca tertangkapnya tersangka.

Mungkin sedikit yang mengetahui ada beberapa rekayasa yang dilakukan pihak tertentu dalam menyiarkan berita teroris. Masih ingat analisis ngaco reporter sebuah tv berita yang mengambil kesimpulan sendiri bahwa teroris yang tertangkap dan tertembak adalah Noordin M.Top. Padahal  polisi sebagai pihak yang paling berwenang belum mengeluarkan statemen apapun. Bagaimana mungkin seorang jurnalis membuat pernyataan yang begitu cerobohnya, tanpa dilandasi fakta.

Akibatnya fatal! Ternyata yang disergap bukanlah  Noordin. Tak ada klarifikasi dan permintaan maaf dari pembuat berita. Noordin memang akhirnya tewas, tapi itu dalam penyergapan yang lain.

Kabar tak sedap juga saya dengar dari penyergapan teroris di Aceh beberapa waktu lalu. Konon gambar teroris tergeletak di jalanan disertai suara desing peluru, adalah rekayasa. Penyergapan sudah dilakukan di dalam hutan. Namun demi kebutuhan gambar dari tv tertentu, jasad ditaruh di jalan. Agar dramatis diberikan backsound letusan senjata. Situasi ini sempat membuat panik petugas yang tak tahu dengan skenario tersebut.

Yang jelas, kerapnya berita teroris di tv memunculkan kebosanan bagi pemirsa. Beberapa kawan terang-terangan menyatakan, pemberitaan teroris tak lagi menarik. Tak ada sesuatu yang baru. Penyergapan, kadang ada tembak-menembak, darah, jasad, penemuan barang bukti ayat suci, video kegiatan agama tertentu adalah sajian yang biasa kita lihat dalam berita penyergapan teroris. Semua itu seolah menjadi rumus wajib yang harus ada dalam tayangan berita teroris. Pemirsa seolah disuguhi tayangan rutin, malah kesannya rerun atau tayangan ulang. Yang beda hanya lokasi dan nama pelakunya.

Rutinitas berita teroris mengingatkan saya pada berita keberhasilan pembangunan saat orde baru. Tiap hari pemirsa TVRI (nama channel ini tentunya pada tahu kan?) disuguhi peresmian proyek ini, proyek itu, di kota ini, di pulau itu. Seperti itu terus menerus selama puluhan tahun. Tak pernah pemirsa diberikan informasi mengenai penyelewengan anggaran negara atau penyimpangan proyek yang pernah diresmikan.

Sebagai pemirsa saya ingin tahu sampai kapan trend ini akan berakhir?