Logo SP 2010

Sibuk membuat saya lama tak menulis dan mengupdate banyak hal.  Soal sensus penduduk salah satunya. SP 2010 adalah hajatan besar yang sebenarnya maha penting. Hajatan ini akan memperbarui data kependudukan yang selama ini dimiliki oleh pemerintah. Kemungkinan besar, dari SP 2010 akan didapat jumlah penduduk nasional Indonesia yang bertambah. Tentunya lebih banyak.

Sensus kali ini akan mencacah (mendata) penduduk dari 65 juta rumah tangga di seluruh pelosok Indonesia. Kalau di sensus penduduk 2000 jumlah penduduk Indonesia mencapai 205,1 juta jiwa, di SP kali ini diperkirakan bakal mencapai 234,2 juta jiwa. Artinya dalam kurun waktu sepuluh tahun jumlah penduduk Indonesia naik hampir 30 juta jiwa. Jumlah yang tak main-main. Jika di SP 2000 Indonesia berada pada posisi keempat di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat, bisa jadi posisi itu akan berubah.

Hajatan besar ini merupakan momen penting dan prestisius bagi sebuah negara. Ini akan menjadi pijakan awal berbagai kebijakan besar mengenai kependudukan. Data kependudukan ini juga bisa dijadikan rujukan memetakan jumlah pemilih Pemilu agar tak terulang lagi kekisruhan jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap Pemilu lalu.

Dalam situs resmi Badan Pusat Statistik disebutkan, SP 2010 akan dilakukan oleh 600 ribu petugas lapangan. Mereka akan disebar ke seluruh pelosok dengan dibekali 40 pertanyaan mengenai data semua bangunan fisik, tempat tinggal dan rumahtangga di semua wilayah pencacahan tanpa kecuali serta data individu,  anggota rumahtangga, serta keterangan mengenai kondisi dan fasilitas tempat tinggal.

Begitu serius dan strategisnya Sensus Penduduk, makanya saya tak habis pikir dengan kinerja petugas di lapangan yang saya temukan. Di hari pertama 1 Mei lalu, kami kedatangan petugas sensus dari kecamatan Jatisampurna Bekasi sesuai wilayah domisili tinggal kami. Saat itu saya dan sitri tak ada di rumah. Yang ada di rumah adalah pembantu rumah tangga yang buta huruf serta 3 orang anak.

Yang membuat saya bertanya, mengapa petugas begitu cerobohnya mengajukan pertanyaan bukan dari tangan pertama kami sebagai pemilik rumah. Karena pembantu kami untuk komunikasi dalam bahasa Indonesia saja sulitnya setengah mati, apalagi harus menjawab 40 pertanyaan dari petugas sensus. Saya tak bisa membayangkan seperti apa suasana tanya jawab antara petugas dengan pembantu saya. Karena untuk menjawab nama lengkap seluruh anggota keluarga kami saja ia kesulitan.

Anehnya lagi, selain bertanya mengenai keluarga kami, petugas juga bertanya mengenai keluarga tetangga sebelah rumah yang kebetulan rumahnya kosong. Pembantu saya pun dengan lugunya menjawab semua pertanyaan petugas. Dan si petugas dengan sok tahu dan sok benarnya akhirnya menempelkan stiker tanda sudah dilakukan sensus di kaca rumah sebelah. Formalitas yang salah!

Hmm… Begitukah cara kerja petugas sensus di lapangan? Sembrono sekali cara penggalian datanya. Sayang sekali hajatan sepenting ini dilakukan dengan cara bodoh dan tak bertanggung jawab. Petugas mempertaruhkan validitas sensus dengan menyederhanakan pekerjaannya.

Mengapa petugas melakukan hal-hal memalukan seperti itu? Dugaan saya :

  • mereka tak terlalu mengerti sepenting apa sensus itu bagi negara dengan wilayah yang begini luas.
  • petugas malas kembali lagi ke lokasi karena ada target pekerjaan yang harus dipenuhi
  • waktu yang sempit membuat mereka mengambil jalan pintas seperti di atas.

Jika ini dibiarkan, sayang sekali hajatan 10 tahun sekali yang pastinya memakan biaya yang tak sedikit harus tercoreng dengan petugas yang tak profesional dan salah rekrut. Masih ada waktu yang cukup untuk melakukan koreksi atas kerja petugas. Saya khawatir jika tak dilakukan pengecekan kerja petugas di lapangan, hasil SP 2010 cuma sekedar survey tak berarti apa-apa. Dan kecarut marutan data penduduk akan tetap berlangsung di masa depan.

Kemalasan petugas yang saya temukan itu terjadi di wilayah yang tak terlalu sulit dijangkau. Wilayah yang notabene masih menempel dengan ibukota  Jakarta. Wilayah yang hanya sepelemparan batu dari rumah pribadi presiden SBY di Cikeas sana.

Apa jadinya jika medan yang disensus adalah kawasan pedalaman? Yang letak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup jauh? Bukankah kekeliruan semacam ini kemungkinan bisa berulang dan terjadi?

Ataukah memang ini disengaja? Halo kepala BPS, bisakah anda menjawab hal ini?