Sentilun, mungkin bagi sebagian anda pemirsa tv belum terlalu ‘ngeh’ dengan tokoh yang satu ini. Tokoh ini memang tokoh rekaan yang dimainkan secara apik oleh aktor Butet Kartaredjasa di Metro Tv tiap Jum’at malam. Acaranya sendiri diberi label Sentilan Sentilun.

Sentilun disini digambarkan sebagai wong cilik, seorang batur atau pembantu yang ceriwis. Ia kritis dan selalu pengen tahu. Ia menyentil lawan bicaranya dengan gayanya yang ceplas-ceplos dan kerap sok tahu. Sentilun adalah personifikasi rakyat jelata yang sadar politik.

Selama ini Butet dikenal karena monolognya di panggung. Ia bahkan dijuluki raja monolog karena keberhasilannya memerankan  sejumlah figur politik . Namun di Sentilan Sentilun Butet tak bermonolog, ia berdialog. Di episode pekan lalu ia ditemani aktor kawakan Slamet Rahardjo sebagai ndoro-nya, dan pekan ini  dengan pakde Soes. Nama terakhir pasti mengingatkan anda pada seseorang dengan panggilan serupa.

Di episode lalu ia banyak menyinggung soal skandal pajak Gayus Tambunan dan menyentil perilaku para abdi pajak yang kaya raya. Sementara di episode ini Sentilun meski menyentil banyak hal, namun memfokuskan sindirannya pada polisi. Mulai dari kasus pencidukan mantan Kabareskrim Polri Susno Duaji hingga Polri yang tak bisa berbuat apa-apa saat kasus makam mbah Priuk pecah.

Semua dibawakan dengan gaya khas Butet yang menyentil namun tetap menghibur. Dengan kekuatan ada pada Butet dan kemasan yang menarik, saya kira tidak perlu menunggu waktu terlalu lama acara ini bakal menuai banyak penggemar.

Pengamat politik yang juga dosen Komunikasi Universitas Indonesia, Effendy Ghazali pernah berujar bahwa acara parodi politik di tv merupakan pelepasan atau katarsis dari kesumpekan hidup. Acara semacam ini biasanya digemari pemirsa karena mereka menemukan teman bicara mengenai kondisi sosial politik melalui personifikasi tokoh-tokohnya.

Acara semacam itu juga bisa dijadikan gambaran bagaimana perjalanan sebuah bangsa. Di Amerika, saat presiden Bill Clinton memimpin dan menciptakan kejayaan ekonomi, tak ada satupun acara parodi politik yang hidup di sana. Karena keberhasilan di bidang ekonomi menyilaukan semua mata dan menutup semua celah yang bisa diparodikan.

Baru ketika Clinton tersangkut kasus skandal seks dengan Monica Lewinsky, kondisi pun berbalik. Hampir semua stasiun tv yang memiliki program late show (pertunjukan tengah malam) membuat parodi mengenai kasus ini. Dan itu terjadi hingga sekarang. Kebijakan salah, skandal politik, skandal seks, atau penampilan presiden yang seadanya bisa dijadikan bahan parodi.

Di Indonesia parodi politik sebenarnya sudah dimulai sejak eranya Warkop. Sayang Warkop tak konsisten dan kemudian terjebak pada gaya lawakan slapstick. Setelah Warkop kemudian muncul Bagito.

Jauh setelah itu parodi baru mulai berkembang lagi di masa reformasi. Republik BBM di Indosiar adalah pelopornya. Sayangnya Republik BBM tak utuh, kemudian pecah dan menjadi embrio acara sejenis di beberapa stasiun tv. Setelah pecah berkeping-keping, acara sejenis Republik BBM sudah tak ada gregetnya lagi.

Saya berharap Sentilan Sentilun bisa terus dirawat dan menemani pemirsa tiap Jum’atnya. Celetukan dan kritik pedas Sentilun bisa menjadi obat kesumpekan dan pendidikan politik yang murah meriah bagi rakyat. Sehingga rakyat (baca: pemirsa) tak hanya disuguhi melodrama Century, Markus, atau bentrok di Priok saja. Namun diajak menertawakan dirinya sendiri dan pejabatnya.

Salam parodi!