Rabu kemarin sebagai penonton Tv saya sedih. Kekerasan begitu telanjangnya hadir di ruang-ruang keluarga kita saat kerusuhan terjadi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sejak pagi saat aktivitas harian dimulai hingga menjelang masuk ke peraduan malam, tak bisa sejenak pun saya bisa terbebas dari kabar buruk dari Priok.

Saya tak mengerti mengapa penertiban atas nama pembangunan menjadi hantu yang menakutkan bagi siapapun. Rakyat kerap dibuat tidur tak nyenyak karena dipaksa menyingkir secara paksa. Kekerasan demi kekerasan dipertontonkan dengan gamblangnya oleh aparat Satpol PP.

Memang mereka hanya menjalankan tugas. Tetapi apa iya tugas menertibkan harus dilakukan dengan kekerasan? Bukankah kita memiliki budaya musyawarah, dialog dengan kepala dingin.

Kalau memang makam mbah Priok tidak akan digusur seperti dikatakan Wakil Gubernur Priyanto, harusnya pendekatan yang dilakukan aparat bukan lagi represif. Para peziarah dan warga setempat pastinya rela jika makam itu dibuat lebih bagus, sehingga kegiatan ziarah mereka bertambah khusyuk.

Kini korban tak hanya jatuh dari kalangan rakyat biasa, tapi juga aparat Satpol PP. Kalau sudah begini, apa yang bisa dikatakan Gubernur dan Wakilnya? Masihkah menyalahkan rakyat jelata?

Penggunaan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah adalah cara usang. Pemda mesti mereformasi SOP Satpol PP. Jangan jadikan mereka musuh rakyat dan korban kesalahan kebijakan. Harusnya mereka dimanusiakan dan menjadi abdi yang bersahabat dengan rakyat.