Markus Palsu Tv One yang Memalukan!


Indy Rahmawati

Markus atau makelar kasus kembali memakan korban. Namun kali ini bukan pegawai pajak yang terseret. Anehnya justru jurnalis TV One yang terlibat. Presenter Indy Rahmawati, pembawa acara Apa Kabar Indonesia pagi TV One kabarnya merekayasa seorang pekerja dunia hiburan menjadi markus palsu. Markus palsu itu bernama Andri Ronaldi alias Andis. Ia mengaku dibayar 1,5 juta rupiah untuk bersaksi di acara tersebut. Dalam acara itu Andis identitasnya sengaja disamarkan. Kepada pemirsa Andis mengaku sudah 12 tahun menjadi makelar kasus di lingkungan Mabes Polri.

Polisi yang berkepentingan dengan masalah ini kemudian mencari tahu siapa markus yang bersaksi di TV One tersebut. Setelah melakukan penelusuran, akhirnya Andis pun diciduk dan terbongkarlah sandiwara memalukan TV One itu. Hari ini mabes polri akhirnya melaporkan TVOne ke Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Kepada polisi Andis mengaku diminta berbicara sesuai skenario yang telah dibuat sang presenter. Baik Andis maupun sang presenter sendiri statusnya masih sebagai saksi dalam dugaan rekayasa markus tersebut.

Jika ini benar, jelas sangat memalukan dan merupakan tamparan hebat bagi dunia jurnalistik televisi. Dunia jurnalistik apapun bentuknya, baik cetak maupun elektronika sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan akurasi. Sepanjang yang saya tahu, adalah haram membuat rekayasa berita karena mengingkari prinsip-prinsip kebenaran tersebut.

Saya kurang paham apakah langkah rekayasa ini sengaja ditempuh untuk sekedar tampil lebih depan dari stasiun tv lain atau ada maksud lain, misalnya mendiskreditkan pihak tertentu dalam hal ini Polri. Seperti kita ketahui saat ini Polri tengah disorot dalam kasus dugaan makelar kasus setelah terbongkarnya kasus Gayus Tambunan. Beberapa pejabat Polri terkena imbasnya, bahkan Kapolda Lampung Edmon Ilyas pun dicopot dari jabatannya.

Persaingan tajam memperebutkan pemirsa dalam jurnalistik TV memang membuat banyak tv berlomba menyajikan sajian yang lain dari kompetitornya. Tapi jika upaya memperebutkan pemirsa, yang ujung-ujungnya berebut kue iklan, dilakukan dengan tanpa etika, jelas merugikan kredibilitas stasiun tv itu sendiri.

Dan tv One saya kira sedang membangun kuburannya sendiri jika melakukan rekayasa markus secara sadar. Kasus pelanggaran etika pemberitaan bukan sekali ini terjadi menimpa TV One. Saat perang terhadap terorisme berlangsung beberapa waktu silam, TV One juga pernah melakukan hal serupa. Saat itu mereka membuat kesimpulan telah tewasnya gembong teroris Noordin M Top dalam penyergapan di Jawa Tengah, yang kemudian dibantah habis-habisan oleh Polri. Noordin sendiri memang kemudian tewas disergap tim Densus 88, tapi itu jauh setelah kesimpulan tewasnya dilansir Tv One.

Setelah kasus ini, masihkah kita percaya pada jurnalisme ala Tv One?

Advertisements

15 thoughts on “Markus Palsu Tv One yang Memalukan!

  1. d4roel says:

    walah beritanya menghebohka mas…coz setiap pagi seringkali ane nonton tvOne dan memang aku kira yow beritanya hebat2 sich..tapi kok kalo benar demikian yow mengecewakan ..btw sumbernya darimana mas?

  2. sumir says:

    Terlalu dini anda menyimpulkan pendapat dengan mengatakan “kalau benar”, karena secara tidak langsung anda sudah berpihak kepada satu sisi saja. Bagaimana dengan opsi “kalau tidak benar”? Apalagi tesis anda cuma hubungan Karni dengan Edmon dan pemberitaan Ecep yang ngawur. Saya setuju kalo cara Ecep saat memberitakan Noordin M Top itu salah. Begitu pula Karni dan Edmon itu memang ada hubungan saudara. Tapi itu tidak bisa dijadikan judgement Indy berarti juga pasti salah. Dangkal sekali konklusi seperti itu. Saya sih dapat memastikan kalau anda tidak melihat tanyangan yang dimaksud dan hanya tau secuplik info saja lalu berkesimpulan seperti itu. Dewasalah dan coba sedikit lebih jernih dalam mengulas sesuatu. Misalnya, lihat dulu wawancara acara yang dimaksud. Atau cari info dari kalangan wartawan bagaimana karakter si Ecep dan bagaimana Indy atau dari sisi lain yang lebih runut. Ok?

  3. Menyedihkan, makelr ada dimana-mana. Setelah Markus kini Marta (makelar berita), lain hari akan ada pula makelar-makelar lainnya, mungkin mardi (makelar pendidikan) atau mungkin marwa (makelar walikota).

    nice posting Mas Udin

  4. @sumir: terima kasih telah mampir kemari. mengapa pakai jatidiri palsu juga? saya yakin ini bukan nama asli anda.

    saya memang tidak melihat langsung. dan kalau anda jeli, semua yang saya tulis adalah keprihatinan saya. diluar benar atau salah, faktanya sekarang terjadi proses di kepolisian dalam kasus markus palsu.

    soal indy, sy secara pribadi kenal dengannya sejak di lapangan. bahkan sebelumnya saya juga kagum dengan style dia dalam membawakan acara. tapi boleh dong kalau saya kecewa, saya punya hak untuk itu.

  5. @aris: bener mas, menyedihkan. sy gak tahu siapa bermain dengan siapa. apakah kepolisian punya hidden agenda dengan kasus markus palsu ini. ataukah tvone yang kejebak. itulah sulitnya punya hubungan terlalu dekat dengan satu institusi.

  6. saya nggak nyangka kalau TV ONE kayak begini.mudah-mudahan tidak ada lagi hal yang seperti ini lagi.MAs saya sudah pasang link situs mas di pasangbarisiklan.com.tolong di link balik ya disitus itu dengan keyword pasang iklan baris.Terima kasih.

  7. saya kopi pastekan komen saya yang ada di blog Ndoro Kakung yang mengulas hal yang sama:
    Wartawan juga kudu punya disiplin verifikasi. Tanpa itu, ujungnya tak lain adalah pembohongan publik. Masih hangat kasus pemberitaan TV One juga dalam drama penyergapan teroris di Temanggung. Media mengklaim yang mati adalah Noordin M Top. Nyatanya, uji DNA menyatakan lain dan gembong teror ini baru mati di kemudian hari. Belum lagi dengan kasus Raya Surtiana, yang wajahnya dipakai untuk ilustrasi Soraya Abdullah Balvas, istri M Jibril, tersangka teroris itu. Ternyata berita tanpa verifikasi dan ujungnya pembohongan publik. Kalau sudah begini, media ini mirip seperti kisah film MAD CITY– berkisah bagaimana media-media memelintir fakta hanya untuk kejar tayang, sensasional, dan ujungnya uang. Media dan wartawan kudu belajar soal ini– termasuk belajar dari kesalahan. Tanpa itu, dan kalau publik terus-menerus dibohongi, publik pun akan mensomasi rame-rame! begitu deh…:)

    Tapi, kalau ini benar, ini tak sekadar kurangnya disiplin verifikasi. Tapi, sudah sesat sejak awal!

  8. @sigit: tengkyu Git. sepakat soal disiplin verifikasi. kadang wartawan kalau sudah dekat dengan narsum main percaya saja dengan pernyataan mereka. padahal kroscek hukumnya wajib. karena kebenaran tidak tunggal. saya sebagai pemirsa termasuk yang sering kesal dengan gaya pemberitaan tv berita yang satu itu. kerap bombastis, karena kenyataannya sering tidak seperti itu. yang paling fatal ya soal kematian Noordin M Top dan kasus terakhir itu.

  9. Pertama kali liat TV ONE saya welcome…eh kebelakangnya malah saya bingung…ini berita tapi kayak gosip. jadi sebelum kasus markus palsu ini saya sudah duluan ilfeel dan untungnya hati saya masih tetap setia pada metro tv…hehehehe….kayaknya kalau SBY kentut mereka jadi-in breaking news selama seminggu deh…habis lebay-nya minta ampun……:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s