Buku Obama dan Kompasiana/ by Syaifuddin Sayuti

Gedung putih hari ini resmi mengumumkan penundaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia. Melaui Juru Bicara Robert Gibs diperoleh keterangan, Obama hanya akan berkunjung ke Australia, itupun dipersingkat hanya 24 jam saja. Sementara ke Indonesia akan dijadwalkan kemudian sekitar bulan Juni.

Batalnya Obama ke Indonesia sangat erat kaitannya dengan upaya Obama menggolkan RUU Jaminan Kesehatan di dalam negerinya. Sebuah program besar yang harus diwujudkan segera karena merupakan janji masa kampanyenya. RUU ini cukup krusial dan akan menjadi batu ujian terbesar masa pemerintahannya.

Pengumuman gedung putih ini setidaknya menjadi akhir dari sebuah drama panjang persiapan Obama yang akhir-akhir ini meningkat pesat di tanah air. Belakangan hampir semua aparat keamanan dibuat sibuk dengan pemeriksaan ketat warga yang lalu lalang, terutama di kawasan keluar-masuk seperti bandara maupun pelabuhan laut. Pemeriksaan diperketat mengantisipasi gangguan keamanan dan penyusupan teroris ke Jakarta dan kota yang dikunjungi Obama.

Media pun tak kalah hebohnya menyambut Obama. Karena pernah tinggal di Indonesia, kunjungan Obama kali ini dianggap media sebagai kunjungan pulang kampung Obama. Berbagai liputan khusus sudah disiapkan dan ditayangkan, mulai dari sekolah Obama, rumah kontrakan di Menteng Dalam, hingga sambutan teman-teman kecilnya di SD Menteng di jalan Besuki itu.

Liputan tayangan langsung (live) pun sudah dirancang hampir semua media elektronika lokal. Mereka sudah menempatkan kru-krunya di sejumlah titik yang akan dikunjungi Obama seperti di istana Presiden, mesjid Istiqlal, TMP Kalibata, hingga kampus Universitas Udayana Bali. Semua berebut menjadi penyampai laporan pertama kedatangan anak Menteng Dalam yang kini Presiden Amerika itu.

Khusus di istana Presiden, semula akan digunakan sistem tv pool, semua media bisa mengakses siaran langsung yang disiapkan tanpa perlu membuat siaran langsung sendiri. Sementara di Istiqlal, Kalibata dan Bali akan diambil stasiun tv tertentu sebagai host-nya.

Media internasional seperti CNN kabarnya juga menyiapkan laporan khusus mengenai kunjungan Obama ke negara masa kecilnya, Indonesia. Pendek kata, jika kunjungan itu jadi dilaksanakan nama Indonesia akan banyak disebut dalam beberapa hari terkait kunjungan tersebut.

Pembatalan kunjungan Obama ini pastinya membuat kecewa banyak kalangan. Utamanya aparat keamanan yang sudah maksimal menyiapkan diri. Karena untuk persiapan kedatangan saja kabarnya butuh dana hingga milyaran rupiah. Jumlah yang cukup tinggi untuk kunjungan selama 3 hari dua malam.

Saya tak dapat membayangkan bagaimana gurat kecewa mereka yang tergabung dalam Friends of Obama. Obama belum datang, mereka kemarin sudah membuat pesta penyambutan yang tentunya menelan biaya tak sedikit.

Belum lagi ditambah biaya  pembuatan patung diri Obama kecil yang ditempatkan di SD Menteng 1 (di jalan Besuki) itu. Patung yang kontroversial, karena semula ditempatkan di ruang publik taman Menteng. Setelah ramai diprotes karena tak sesuai penempatan, patung bernama Barry Dream Statute itu dialihkan ke SD Besuki. Lagi-lagi salah tempat, karena di SD ini Obama hanya numpang lewat. Justru Barry Sutoro aka Obama lebih lama sekolah di SD ASISI Tebet.

Semua keriuhan itu sempat membuat saya terlongo, begini toh kita menyambut seorang tuan besar dari negara adidaya? Betapa tidak berdaya-nya kita.. Semua didikte demi sebuah agenda kunjungan Obama yang kita sendiri belum tahu apa dampak positif dari kunjungan tersebut. Semua larut dalam euphoria.

Lalu, apa yang akan terjadi setela Obama resmi membatalkan kunjungannya ? Yang jelas, mereka yang anti Obama pasti tertawa riang. Rencana demo besar-besaran hari Jum’at ini di depan Kedubes AS pastinya tak jadi digelar. Energi bisa disimpan untuk hal lain. Mereka juga pasti menertawakan semangat “berlebihan” para penyambut Obama.

Obama boleh tak jadi kemari. Tapi bagi kita pembatalan itu justru memberi banyak hikmah. Masih teramat banyak persoalan dalam negeri yang mendesak dipikirkan dan ditindak lanjuti. Kasus Century, Markus jenderal Polri, terorisme, dan persoalan keadilan hukum bagi warga kecil.

Obama sendiri lebih memilih ngurusi dalam negerinya (RUU jaminan kesehatan) ketimbang masalah luar negeri. Ini juga patut dicatat, Obama mencoba setia pada janji kampanyenya. Meski hanya janji, itu harus diperjuangkan di kongres. Dan ia memilih menyelamatkan rakyatnya yang sudah memilih dalam Pemilu.

Pembatalan kunjungan ke Indonesia namun tetap ke Australia juga membuktikan kita sesungguhnya tak terlalu dianggap oleh AS. Australia sebagai sekutunya di Pasifik jelas lebih dilihat dan strategis. Sementara Indonesia kan hanya kunjungan nostalgia. Karena nostalgia, kapan-kapan bisa kalee….