Warteg Boys

Di tengah hiruk pikuk politik tanah air yang memusingkan, belakangan ruang dengar saya kerap berpapasan dengan sebuah lagu dari Warteg Boys yang sebelumnya saya benci. Judulnya Okelah Kalau Begitu. Liriknya sederhana, bercerita mengenai penderitaan. Tentunya penderitaan warga kelas bawah, karena warga kelas atas dengan uang milyaran pastinya tak pernah mengalami hari-hari menyebalkan seperti dilukiskan Warteg Boys ini.

Dalam lagu diceritakan sulitnya kalau warga tak punya apa-apa untuk dimakan. Berharap ada roti atau kopi untuk sarapan, namun ternyata cuma ada nasi dan teri. Sebagai warga biasa realitas itu harus dihadapi, artinya tak ada pilihan jadinya…okelah kalau begitu. Nrimo.

Penderitaan lainnya adalah kenyataan motor yang rusak gara-gara tak punya uang untuk servis. Akhirnya, terpaksa menerima keadaan dengan jalan kaki. Lagi-lagi sikap nrimo ditunjukkan. Begitu juga dengan istilah tukang kredit, sebuah idiom yang sudah melekat erat dengan masyarakat bawah, digambarkan juga dalam lagu ini. Meski belakangan soal kredit mengkredit ternyata malah jadi kegemaran kalangan atas, yang hidupnya serba kredit dengan kartu gesek.

Sebuah cerita yang saya yakin dialami banyak kita di negeri ini. Dihimpit kesulitan hidup tanpa bisa punya alternatif lain, dan akhirnya terpaksa atau lebih tepatnya dipaksa keadaan untuk menerima kenyataan hidup yang pahit sebagai satu-satunya pilihan.

Yang unik dari lagu ini adalah aksen Tegal atau ngapak-ngapak yang dengan sengaja dibawakan oleh duo warteg boys ini. Agoos dan Ari yang menyebut sebagai duo ngapak rappers alias ngappers, menyanyikan lagu ini dalam irama hip hop yang santai, bahkan terkesan seenaknya. Persis seperti orang bangun tidur yang aras-arasen untuk memulai hari.

Pilihan menggunakan aksen Tegal adalah keputusan jenial dari sang produser Bongky. Bongky yang sebelumnya pernah menjadi personil Slank dan kini BIP, sengaja mengambil idiom-idiom kelas bawah warung Tegal karena merasa sangat dekat dengan budaya warteg. Ia mengaku masih sering keluar masuk warteg dan menjumpai persoalan-persoalan warga kelas bawah seperti diceritakan dalam lagu ini.

Populernya lagu ini sekaligus mengangkat derajat bahasa ngapak-ngapak ke posisi lebih tinggi. Selama ini bahasa ngapak-ngapak ala orang Tegal hanya digunakan sebagai bahan candaan di dunia lawak, entah itu oleh almarhum Kasino Warkop atau Parto Patrio. Oleh kedua pelawak itu bahasa ngapak-ngapak hanya digunakan sebagai pembeda ciri khas lawakan. Bahkan kadang hanya sekedar sebagai lelucon belaka.

Apa yang dilakukan Warteg Boys dengan bahasa ngapak-ngapak di lagu ini member alternatif dengaran, ternyata musik rap bisa dibuat sangat lokal dengan sentuhan khas Indonesia. Meski kedengaran kampungan, tapi ternyata banyak disuka. Atau ini menjadi penanda selera kita semua memang kampungan? Okelah kalau Beg..Beg..Begitu!!

Okela Kalau Begitu (Warteg Boys)

Bangun Pagi Bangun Pagi
Nggak Ada Roti Nggak Kopi
Laper Lagi Laper Lagi
Adanya Nasi Sama Teri

Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu

Lima Hari Nggak Mandi
Kulit Udah Banyak Daki
Perempuan Pada Lari
Katanya
I Am Sorry

Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu
Okelah Kalo Begitu

Mengapa Mengapa
Mengapa Oh Menyedihkan

Mogok Lagi Mogok Lagi
Motor Mati Mesin Brenti
Aki Busi Belum Ganti
aku Jadi Jalan Kaki

Okelah Kalo Begitu Oke
Okelah Kalo Begitu Oke
Okelah Kalo Begitu Oke
Okelah Kalo Begitu

Tiba-tiba Hp Bunyi
Hp Bunyi Keras Sekali
Gua Jawab Dia Memaki
Tukang Kredit Nagih Janji

Okelah Gua Bayarin
Okelah Gua Lunasin
Okelah Gua Bayarin
Okelah Gua Lunasin

Ya Udahlah Kalo Begitu
Ya Udahlah Kalo Begitu
Ya Udahlah Kalo Begitu
Ya Udahlah Kalo Begitu

Nggak Kerasa Laper Lagi
Mangan Nasi Karo Jantung
Mau Bayar aku Keki
Dompetku Dibawa Lari

Gimana Kalo Begitu?
Gimana Kalo Begitu?
Gimana Kalo Begitu?
Gimana Sih Kalo Begitu?

Pak Tolong Dong Pak