Media massa dua hari terakhir mengungkap sidak tim satgas mafia hukum ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Hasil penelusuran menunjukkan sejumlah hal mencengangkan. Ada diskriminasi dan perlakuan khusus yang didapatkan sejumlah Napi.

Misalnya, ada sejumlah ruang yang disulap menjadi ruangan pribadi yang mewah. Mulai dari ruang karaoke Limarita -napi narkoba- yang desain interiornya hanya bisa disaingi Inul Vizta. Hingga tahanan  Arthalyta Suryani alias Ayin yang dilengkapi spring bed, AC, peralatan komunikasi, fax, furnitur, hingga mainan bayi. Tak ada bedanya dengan di luar rutan.

Arthalyta sang makelar kasus berdalih, tidak menempati ruangan itu sepanjang waktu. Dia hanya tinggal dari pagi hingga sore sambil mengendalikan bisnisnya. Menurut Ayin, iapun bebas menggelar rapat di ruangan tersebut dengan sejumlah stafnya. Ia harus tetap menjalankan bisnisnya karena punya ribuan karyawan. Wow!

Sebuah dalih pembenaran. Tak habis pikir. Bukankah penjara adalah tempatnya para pelanggar hukum? Harusnya mereka dikucilkan dan dibuat jera di penjara. Mengapa mereka masih mendapat kemudahan, akses ke dunia luar serta kemewahan?

Apa yang terungkap sebenarnya bukan hal mengejutkan. Karena sebelum ini kabar ada pembedaan kencang terdengar. Namun selama ini hanya sebatas rumor, tak ada yang bisa mengungkap apalagi membongkarnya. Rutan menjadi institusi yang sangat tertutup. Kongkalikong semacam ini ditutupi bukan saja oleh oknum Rutan tapi juga para pejabat Depkumham.

Saya sangat yakin praktek semacam ini bukan hanya terjadi di Pondok Bambu, tapi terjadi di semua Rutan di tanah air. Karena hukum suplay dan demand berlaku di sini.

Kalau banyak kalangan DPR yang terperanjat, saya cuma mau bilang halow…..kemana saja kalian selama ini. Ini Indonesia bung, dimana korupsi masih berurat berakar, dimana aparat bersihnya jadi barang langka, dimana mental korupsi warganya juga belum hilang.

Temuan ini tak cukup disikapi dengan mengganti kepala Lapas atau memindahkan napi. Harus ada hukum yang tegas bagi pelaku diskriminasi di penjara.

Ngenes, negeri ini sudah terbeli oleh seorang Ayin.

Btw, kapan-kapan karaoke-an di Rutan Pondok Bambu yuk…