Gus Dur

Kepergian mantan presiden KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, rabu petang benar-benar mengagetkan. Meski saya sudah tahu kondisi kesehatan mantan presiden ke-3 RI ini kerap naik turun, tapi saya tak menyangka ia pergi secepat ini.

Secara pribadi saya tak mengenal Gus Dur. Perjumpaan saya dengan Gus Dur lebih banyak terkait pekerjaan sebagai jurnalis. Tapi pertama kali saya bertemu dengan Gus Dur justru saat saya masih mahasiswa. Di gedung PB NU Kramat Raya, Jakarta saya bertemu dengan Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Saya datang dengan seorang kawan yang sedang menyusun buku mengenai Gus Dur. Di mata saya ia adalah orang yang sangat membumi, jauh dari kesan seorang tokoh besar yang kadang berjarak dengan orang biasa. Gus Dur justru sebaliknya. Ia begitu ramah dan hangat. Ia kerap melontarkan joke-joke kocak tentang banyak hal. Dan yang lebih mengesankan, saat kami temui Gus Dur sedang membuat kliping berita Piala Dunia. Hah, seorang tokoh besar seperti Gus Dur masih sempat membuat kliping..!!

***

Beberapa hari lalu saya ingat masih mengedit berita dilarikannya Gus Dur ke rumah sakit di Jombang, Jawa Timur. Saat itu disela kunjungannya ke Jawa Timur, Gus Dur akhirnya dilarikan ke RS. Saya sendiri kaget karena  setahu saya Gus Dur sedang sakit, kok sudah ada di Jawa Timur. Karena tak tahu  secara pasti kondisi kesehatan beliau, saya berbaik sangka saja, mungkin Gus Dur memang sudah sehat.

Masuknya Gus Dur ke Rumah Sakit akhirnya membuktikan sesungguhnya kesehatan beliau belum sepenuhnya prima.

Untuk soal kesehatan Gus Dur memang dikenal bandel. Ia kerap melanggar aturan dokter yang mengharuskan istirahat. Apalagi jika ia mendengar ada sesuatu yang berhubungan dengan persoalan negara, utamanya rakyat kecil, nuraninya kerap terusik.

Bahkan terakhir, saya dengar ia berencana bertemu dengan George Junus Aditjondro yang baru saja membuat kehebohan dengan buku Mengungkap Gurita Cikeas. Luar biasa, dalam kondisi kesehatannya yang buruk pun Gus Dur masih menyempatkan diri ikut ‘campur’ dalam isu terkini.

***

Perjumpaan saya kemudian lebih kerap saat ia menjadi salah satu deklarator Ciganjur. Berkali-kali saat mereka membuat statemen politik, saya hadir sebagai salah satu jurnalis, entah itu di kantor PBNU, rumah pribadinya di Warung Sila Ciganjur atau disejumlah forum lain.

Saat ia menjabat sebagai Presiden, memang saya jarang menemuinya lagi. Namun yang paling membekas ingatan saat saya ikut kunjungannya ke Petrokimia Gresik. Saat itu kami sempat shalat jum’at yang diakhiri dengan ngobrol bareng Gus Dur. Ngobrol bareng Gus Dur ini merupakan kebiasaan yang dilakukan Gus Dur selama menjabat sebagai Presiden. Kita warga biasa bebas menanyakan apa saja ke Gus Dur, tak ada aturan protokoler, tak ada settingan apapun.

Bagi saya forum usai Shalat Jum’at itu begitu membekas. Saya bisa menyaksikan sendiri bahwa Gus Dur memang seorang demokrat tulen. Dibalik ucapannya yang kontroversial, ia sebenarnya penjunjung kebebasan berpendapat, dan itu dibuktikannya tiap Jum’at.

Hari ini Gus Dur menghadap sang Illahi. Ia pergi menuju keabadian. Esok tak ada lagi sosok yang kerap bertutur, “Gitu Aja Kok Repot” lagi. Tapi saya dan juga bangsa ini pasti mengenang Gus Dur dan menempatkannya pada ruang khusus di hati kami.

Selamat jalan Gus Dur…

Gbr diambil dari sini.