Tampang Jadul 13 th silam

Hari ini saya dan istri merayakan 13 tahun usia pernikahan kami. Sebuah usia yang belum ada “apa-apanya” jika dibandingkan mereka yang sudah berhasil mengukir angka perkawinan perak apalagi emas. Kami masih jauh dari itu. Apalagi dari hal pencapaian pengalaman hidup.

Ibarat anak-anak, kami masih banyak belajar. Belajar menjalani hidup pernikahan ini dengan benar. Belajar memahami satu sama lain, belajar menjadi suami, belajar menjadi ayah, dan belajar menjadi muslim yang lebih baik lagi.

Meski baru “13” , bukan berarti tak ada raihan apapun dalam perjalanan hidup pernikahan kami. Yang paling jelas, kami jadi saling mengenal pribadi, memahami kebiasaan-kebiasaan dan tentunya makin sayang dengan pasangan. Bagi kami, itu jauh lebih penting dan bermakna.

Jika mengingat masa 13 tahun silam kadang nyaris tak percaya. Tak seperti kebanyakan pasangan lainnya, kami menikah dengan persiapan yang minim. Maksudnya, jika pasangan lain sudah banyak menabung, punya rumah dan segala materi lain, kami tidak seperti itu.

Kami menikah dengan modal nekat. Dengan acara yang sangat sederhana di Nganjuk Jawa Timur sana. Hanya mengundang saudara, kerabat dan tetangga dekat saja. Benar-benar minimalis. Yang penting sah.

Kami berdua memang orang yang sangat simpel dan realistis. Saat itu kami berpikir, kalau harus menunggu punya ini itu kapan kami bisa mengikatkan diri dalam pernikahan? Pandangan ini memang dianggap aneh sebagian kerabat. Tapi, the show must go on lah. Kami yang menikah maka kami pasti bertanggung jawab pada pilihan kami.

Alhamdulillah usaha dan do’a kami didengar Allah. Pintu rizki dibuka dengan lebar bagi kami. Kami yang semula menumpang tinggal di rumah ortu selepas menikah, akhirnya bisa punya rumah sendiri. Meski mungil kami bangga bisa membeli rumah dari jerih payah sendiri, bukan hadiah atau pemberian.

Setelah itu berturut-turut rizki mengalir, termasuk rizki titipan Allah paling berharga yakni seorang jagoan dan 2 bidadari cantik yang membuat semarak rumah kami.

Kini 13 tahun sudah kami menjejakkan kaki bersama. Jika 14 Desember 1996 bahtera kami hanya berisi dua orang, kini sudah menjelma menjadi 5 orang. Di depan kami sadar perjuangan belumlah berakhir. Naik turun, susah senang, pasti kami alami.

Tapi dengan berlima, insya Allah kami lebih kuat memandang tantangan di depan. Benar kata JK, bersama kita bisa.

Rasa syukur teratas saya ucapkan pada Zat yang Maha Sempurna, Allah SWT. Berkat skenario-Nya lah kami menyatukan diri.

Terima kasih istriku, Ikom, yang sangat mengerti setiap desah nafasku. Ia bisa menjadi kawan, lawan, teman diskusi. Kadang mengademi saat hati gundah. Kadang menjadi penjaga hati saat kelakuan suaminya ini agak gokil.

Terima kasih anak-anakku, Ihsan, Nabila dan Ninis. Kalian adalah alasan terbaik kerja keras kami selama ini.

Untuk kedua ortu dan mertua. Kalian number one deh. Kalau saja tak ada restu dari kalian, entah apa jadinya kami.

Untuk kawan, sahabat, kerabat, terima kasih telah menjadi mata-mata yang sehat bagi hubungan kami. Kami ikut dijaga oleh kalian.