//www.grasindo.co.id)

Membuat buku mengenang seorang kawan yang telah berpulang, rasanya susah-susah gampang. Mudah kalau kita pernah menjadi bagian hidup si tokoh. Kepergiannya malah justru membuka semua sejarah hidup yang kita pernah tahu selama ini. Namun menjadi persoalan yang rumit manakala terbentur harus melakukan verifikasi data atau mengkonfirmasi kisah masa lalu. Bagaimana mau mengklarifikasi, lha wong tokohnya saja sudah tiada!

Semangat itu pula yang saya camkan saat membaca buku “Mbah Surip We Love You Full” karya kompasianer Jodhi Yudono terbitan Grasindo. Meski saya tahu Jodhi sangat mengenal sosok mbah Surip, namun menjadi persoalan tersendiri bagi Jodhi untuk mengklarifikasi sejumah hal. Misalnya soal kisah hidup mbah Surip sebagai pekerja di kilang minyak. Di beberapa kesempatan penyanyi nyentrik bernama asli Urip Ahmad Arianto mengatakan sebelum menyanyi ia pernah bekerja di kilang minyak di sejumlah Negara.

Untuk mengecek kebenaran cerita ini Jodhi sudah berupaya mencari tahu ke berbagai pihak termasuk keluarganya, namun semuanya gelap. Jodhi sendiri tampaknya ragu pada bagian kecil kisah mbah Surip yang ini. Meski di bagian awal dengan gagah Jodhi menceritakan hal itu, namun di bagian lain bukunya justru Jodhi menggugat cerita ini.

Cerita mengenai hal inilah yang membuat saya dan mungkin pembaca lainnya penasaran. Benar-benar untold stories. Almarhum mbah Surip sendiri setiap dipertanyakan mengenai hal ini, jawabannya kerap berubah-ubah. Bahkan lebih sering menimpalinya dengan senyuman dan tawa berderai “Hahaha…hahaha….I love you Full!.” Untuk soal yang satu ini, rasanya hanya mbah Surip dan Tuhan saja yang tahu kebenarannya.

Sementara soal Bulungan, tempat dimana mbah Surip dan Jodhi menjadi bagian dari komunitas seniman di Jakarta Selatan itu, Jodhi bisa mengisahkannya dengan sangat baik. Itu karena mereka pernah bersama-sama menyanyi, berdiskusi, dan tidur di ‘kampus’nya seniman ibukota itu.

Buku ini memang tidak bermaksud menjadi sebuah biografi perjalanan karier seorang mbah Surip. Kalau itu mau anda, jangan pernah baca buku ini.

Jodhi hanya bermaksud mengungkapkan pandangannya mengenai sang kawan dari kacamatanya. Kacamata seorang sahabat. Karena perjalanan hidup mbah Surip sendiri penuh misteri, Jodhi menjadikan buku ini sangat personal. Ia mengungkapkan sosok mbah Surip apa adanya, yang dipenuhi kelebihan dan kekurangan. Sosok yang membumi, setia kawan, dan penolong.

Karena merupakan pandangan seorang kawan, tidak semuanya berisi kisah yang “baik-baik” saja. Jodhi bisa dengan entengnya mengungkap gaya mbah Surip saat manggung di warung apresiasi Bulungan. Atau mengungkap aroma rambut gimbalnya yang kerap meruapkan aroma wangi Rinso. Ini sekedar menunjukkan mbah Surip yang keramas tiga hari sekali, dan bukan menggunakan shampoo namun justru sabun cuci. Jodhi mengungkap itu bukan dengan maksud mengejek atau merendahkan, namun justru menunjukkan kebersahajaan, apa adanya, dan kejujuran seorang Mbah Surip.

Buku ini sengaja memotret sosok kesenimanan mbah Surip dengan kacamata kejujuran seorang sahabat. Paling tidak, Jodhi mengungkap apa yang diketahui dan dirasakannya. Dan ia tidak mencoba masuk ke wilayah abu-abu yang tak diketahuinya secara pasti.

Kalaulah perlu dikritik, ada hal yang kurang dari sebuah buku testimonial macam ini. Mengapa Jodhi tak menampilkan foto-foto kedekatannya dengan mbah Surip semasa hidup hingga akhir hayatnya. Menurut saya ini penting, karena akan memetakan sedekat apa hubungan perkawanan mereka berdua. Dan yang jauh lebih penting, foto akan membantu menjelaskan siapa sosok mbah Surip sebenarnya. Karena pembaca belum tentu ‘ngeh’ dengan sosok mbah Surip yang meninggal dunia di puncak kariernya itu.

Menganggap semua pembaca adalah penggemar mbah Surip adalah salah. Karena dengan demikian membatasi siapa pembaca buku ini.

Apalagi kalau Jodhi mau menambahi dengan dokumentasi foto pribadinya saat mbah Surip berada di tengah komunitas seniman Bulungan, ini akan menjadi memorabilia yang sangat berharga bagi para penggemar mbah Surip.

Tapi apapun itu, melalui buku ini saya bisa mengenang sosok Mbah Surip dengan ujaran khas-nya I love You Full. Ujaran yang membuat semua pendengarnya merasa nyaman, dihargai dan dicintai. Sebuah ungkapan cinta yang penuh dari lelaki yang kini sudah berdamai dengan keabadian.

Tak gendong kemana-mana….tak gendong kemana-mana….

*tulisan ini juga dimuat di Kompas.com