Ada yang menarik dari postingan kompasianer yang juga pengamat ekonomi, Faisal Basri. Postingan itu tak berbau ekonomi sama sekali. Tapi justru disitu menariknya. FB memposting sebuah puisi sederhana yang sangat dalam maknanya. Puisi ini mewakili kegundahan hatinya melihat nasib negeri ini. Ia ungkapkan kekesalannya melihat kasus penahanan komisioner (beda-beda tipis dengan Kompasianer) KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah oleh polisi.

Simak puisinya yang diberi judul “Geram …..untuk Pak Bibit dan Bung Chandra”.

Kini, aku geram!!!

Menatap mata-mata nanar mereka,

yang seolah siap menerkam apa saja.

Haruskah kita menyerah

kepada para durjana itu.

Dengan keheningan kalbu

Dengan kejernihan rongga-rongga alam pikiran

Sekali-kali jangan hentikan pekik kebenaran

Walau selaput suara hanya mengalirkan

desah-desah yang kian parau.

Menurut saya apa yang diutarakan FB kali ini bukan hanya semata kegundahan seorang yang dekat dengan pusat kekuasaan. Karena selama ini publik kadung tahu FB dekat dengan wapres Boediono. Tapi jauh dari itu, inilah bentuk kegelisahan anak negeri ini, yang bisa mewakili kegelisahan saya, anda dan juga mungkin sebagian dari kita, mengenai ketidak jelasan hukum yang dipertontonkan para penegak hukum yang terhormat.

Puisi ini mengingatkan saya pada sikap Faisal Basri beberapa bulan yang lewat. Saat itu  negeri ini tengah dilanda eforia dukung-mendukung pada calon presiden dan wakil presiden. Dan Faisal Basri yang selama ini termasuk pelit memuji seseorang, berada di garda depan pendukung Boediono. Bahkan postingannya berjudul Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal menjadi masterpiece postingan. Tulisan ini sudah dikunjungi lebih dari 38 ribu kompasianer, dan berhasil menggiring lebih dari 400 komentar. Sebuah pencapaian yang tak main-main.

Di postingan itu Faisal memang seolah melawan arus yang saat itu banyak menghujat pak Boed dengan isu Neolib-nya. Faisal memang tak serta merta mempersalahkan para penghujat, tapi Faisal bercerita sebagai orang yang sangat dekat, seorang murid yang kagum pada dosennya, seorang junior yang kagum dengan kawannya yang senior.

Dan ternyata angin pun berubah. Belum lagi genap sebulan sejak dilantik, hati Faisal Basri tampaknya terluka pada pemerintahan baru. Di satu sisi mungkin ia maklum kawannya yang didukung ternyata tak segalak JK, sehingga tak menunjukkan tajinya saat kasus Bibit-Chandra merebak. Tapi memaklumi saja tak cukup, karena negeri ini sudah kerap berjalan dengan pemakluman. Faisal pun gerah sehingga terciptalah puisi Geram tadi.

Perubahan ‘sikap’ Faisal juga terlihat dari sejumlah komentarnya di beberapa postingan. Misal di postingan berjudul Berlin. Disitu faisal sempat menanggapi Rizky, seorang Kompasianer yang menanyakan mengapa Faisal tak memposting soal skandal Century. Apa karena rekannyta, Boediono terlibat?

Begini kutipan jawaban faisal yang diposting 7 Oktober jauh sebelum pemerintahan baru dilantik,

Bung Rizky yang budiman,
mohon maaf, saya tak pernah brani/mau menulis yang saya tidak tahu persis duduk masalah dan datanya. Perhatikan saya silang pendapat yang beredar dewasa ini, hampir semua punya versi sendiri-sendiri. Saya sudah dapat briefing dari yang paling tahu kasus ini, tapi tak bisa menceritakannya kembali, apalagi sumber saya itu meminta dirahasiakan.

Saya pun dapat konfirmasi langsung dari petinggi BI yg sangat saya hormati. Ternyata yg beredar di masyarakat itu tak benar, misalnya tentang Sri Hartati Murdaya dan Arifin Panigoro yang ditengarai memiliki dana di century.

Tengok pula perilaku tak terpuji dari ketua BPK yg mengumbar isi hasil audit sementara sehingga diinterpretasikan secara “liar” oleh beberapa anggota DPR.

Bukan soal Boediono sama sekali. Justru yg saya dengar menyangkut yang di atasnya. Tapi itu kan gossip. Kalau memang kenyataannya demikian, ayo kita buka lebar.

Saya tak kuasa menyampaikan sesuatu yang menambah keruh.

Tabik,
faisalbasri

Itu dia tulis bulan lalu. Dan yang terkini saat mengomentari kompasianer Linda Djalil, dia berujar begini “Ya, Kak Linda, saya sekarang semakin yakin. Ada keterkaitan satu sama lain. Ketakutan bahwa kekuasaan yang tergengam mulilai terancam. Insya Allah kebenaran tak bisa ditutup-tutupi.. Tinggal data dan kesaksian yang harus dihimpun.”

Berubahnya sikap Faisal Basri saya kira manusiawi. Toh ia berubah untuk kembali ke sikap asalnya, tetap kritis. Mungkin saja ia bakal menjadi orang asing diantara kawan-kawan pendukung pemerintahan. Tapi tenang aja bang Faisal, jika pemerintah tak juga berubah, berarti anda tidak sendirian!!

*dimjuat di kompasiana.