Pailit bukan barang baru bagi saya. Makanya saat tempat kerja saya digugat pailit, saya tak seheboh kawan-kawan lainnya. Maklum sudah pernah mengalaminya.

Sekian tahun lalu saat di perusahaan lama –yang kebetulan sama jenis usahanya dengan yang sekarang, pailit menjadi kata-kata menakutkan. Saat itu terbayang bakal menganggur dengan anak istri yang harus dinafkahi.

Bayangan suram masa depan menghantui saya. Apalagi di kantor situasi pun mendukung. Fasilitas kantor makin minim. Line telepon yang biasanya puluhan, perlahan berkurang dan menyisakan 4 line. Perubahan drastis yang membuat tak nyaman.

Untungnya, perusahaan lama akhirnya tak jadi dipailitkan. Gugatan pailit berhasil digagalkan dan hingga kini perusahaan tersebut masih eksis.

Kondisi sebaliknya kini saya alami lagi. Secara keuangan, kondisi tempat kerja saya sekarang masih jauh lebih baik dari tempat kerja dulu saat digugat pailit. Malah perusahaan ini tergolong sehat. Makanya agak aneh tiba-tiba ada yang gugat pailit lantaran dianggap tak bisa bayar hutang.
Lho?

Bersiap untuk kondisi terburuk adalah lebih baik. Tapi siapa yang mau menampung? Atau inikah saatnya untuk switching channel, total ke wirausaha?

Bagaimana menurut anda?