Kabar itu ternyata benar. Seorang kawan yang bertugas di Munas Golkar mengeluh ada pembatasan liputan di arena Musyawarah Nasional Partai Golkar di Pekanbaru, Riau.  Masak sih? Golkar yang sebesar itu berlaku memalukan dan kampungan? Bahkan pada para jurnalis, yang selama ini ikut membesarkan nama Golkar. Semula saya kira itu hanya keluhan biasa seorang jurnalis.

Dan malam ini saya baca sendiri beritanya di sini. Media yang tak punya keterkaitan dengan para kandidat dipersulit aksesnya masuk dalam rapat-rapat paripurna. Sejumlah satgas menyeleksi dengan ketat wartawan yang masuk. Mereka yang tak memiliki surat izin dari DPP dilarang masuk. Jelas ini aneh, karena yang meliput di arena Munas umumnya sudah teregistrasi panitia Munas.

Usut punya usut yang boleh masuk ternyata mereka yang berasal dari media seperti Antv, tvone, vivanews yang punya keterkaitan dengan Aburizal Bakrie, salah satu kandidat ketua umum Golkar. Kemudian juga mereka dari Metro Tv dan Media Indonesia, media yang dimiliki Surya Paloh, kandidat lainnya lagi.

Jurnalis lainnya, khususnya media tv terpaksa gigit jari. Lantaran tak bisa masuk ke arena sidang, liputan pun terpaksa dibuat tanpa gambar-gambar dinamis di ruang sidang. Jelas buat media tv ini kemunduran. Gaung Munas yang ramai sejak beberapa bulan lalu seperti tak menemukan muaranya.

Terus terang ini baru pertama kali terjadi! Sebuah forum Munas Partai melarang peliputan dengan alasan yang diskriminatif seperti itu. Apa pertimbangannya melarang peliputan? Ini bukan era orde baru saat pers bisa dibungkam sedemikian rupa.

Pelarangan jelas punya maksud, apalagi kalau bukan penggiringan opini! Kandidat yang memiliki media bisa dengan mudah menggiring opini untuk kepentingan pribadinya. Makanya tak heran dalam beberapa pekan terakhir isi media seperti anteve, tvone dan metro tv tak lebih sebagai humas para kandidat. Ini menyedihkan, media massa yang hakikinya dipergunakan untuk kepentingan massa yang lebih luas, dipergunakan untuk tujuan jangka pendek politisi.

Karena hanya melayani pemilik modal yang menjadi kandidat, isi media-media itu jadi nyanyian satu kata, dukung si-X dan jangan dukung si-Y. Hmm…..menyedihkan!!

diposting di sini saat Munas Golkar yang dimenangkan Aburizal Bakrie.