krl jabotabek
krl jabotabek

Saya kerap dibuat kesal saat akan naik kereta rel listrik (KRL) Jabotabek Jakarta – Bogor. Maksud hati memilih naik KRL agar menghemat waktu, semuanya buyar gara-gara kelakukan tak profesional petugas di loket dan penjaga pintu masuk.

Cerita begini, suatu pagi dari kantor di Gondangdia, dengan langkah tergesa saya tanya petugas kereta apa yang paling cepat tiba di stasiun gondangdia tujuan bogor? Petugas loket bilang kRL Ekonomi jam 07.15. Keterangan si bapak diperkuat petugas pintu masuk yang bilang, “Kereta sudah di juanda”.

Senang banget saya mendengarnya. Juanda, wah udah deket dong. Tinggal satu stasiun lagi dong, berarti kurang dari 10 menit tuh sampai gondangdia.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata….setengah jam berlalu tak satupun kereta datang menjemput saya (halah memangnya siapa saya?). Yang bersliweran di depan saya justru kereta bagus yang bukan tujuan saya.

Sudah kadung menunggu, saya teruskan pekerjaan menyebalkan itu. Hingga sejam yang membuat mata makin berat dan lelah jiwa raga, tak ada kereta yang lewat.

Karena Kesal, akhirnya saya tinggalkan stasiun keparat itu. Saya ambil langkah mantap naik metro mini di depan stasiun. Belum sampai kaki menginjak metro mini, kereta idaman saya pun tiba. Karena jaim saya emoh balik ke dalam dan meneruskan petualangan menggunakan metro mini.

Ini bukan pertama kali saya dikecewakan petugas yang salah memberi informasi. Lho, bukankah petugas juga manusia? Wajar dong salah, toh cuma sedikit, beda-beda tipis lah kata abege.

Sampai kapan kita mentolerir kesalahan aparat. Apalagi sudah salah, mereka terbukti tidak punya panduan informasi yang akurat. Padahal, lazimnya mereka ditugaskan diposnya lantaran punya kualifikasi yang sesuai.

Bagaimana KRL mau didekati pelanggan baru kalau pelanggan lama kerap dikecewakan? Cukuplah manajemen by insiden yang selama ini diterapkan. Sebagai operator pelayan publik, wajib hukumnya PT KAI Commuter menjamin kenyamanan penumpang.

Kalau kerap membuat jengkel begini, bagaimana mereka akan bersaing dengan perusahaan sejenis, jika sewaktu-waktu keran swasta untuk mengelola kereta api dibuka pemerintah?

*tulisan ini juga diposting di sini