Noordin M Top
Noordin M Top

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sore ini memastikan salah satu yang tewas ditembak dalam pengrebekan teroris di Jebres, Solo dinihari tadi adalah teroris kelas wahid yang selama ini jadi DPO Polri yakni Noordin M Top. Pernyataan Kapolri didasarkan pada pengecekan data sidik jari Noordin yang dimiliki Polri yang dicocokkan dengan data Polisi Diraja Malaysia.

Sedikitnya ada 14 titik kesamaan antara sidik jari korban dengan arsip data yang dimiliki Polri.

Sampai disini saya dan juga publik di tanah air bisa jadi lega. Karena musuh bersama yang selama ini menjadi momok pengganggu ketenangan dan keamanan di negeri ini sudah berhasil dilumpuhkan.

Butuh waktu 9 tahun bagi Polri untuk membekuk seorang teroris asal Malaysia ini. Waktu yang cukup panjang untuk menangkap seorang yang sudah diketahui TKP-nya. Karena selama kurun waktu tersebut Noordin tak pernah jauh dari Indonesia. Ia berkeliling ke sejumlah daerah, menetap dan berbaur dengan warga setempat. Bahkan kabarnya ia sempat menikah beberapa kali dengan perempuan setempat.

Licinnya perburuan Noordin menandakan sang teroris bukanlah orang sembarangan. Ia kerap berganti rupa bahkan sempat menjalani operasi plastik atau face off. Ia begitu dihormati anak buah dan orang terdekatnya sehingga mereka rela bersatu padu mengunci mulut mengenai keberadaan Noordin. Semua itu berlangsung hingga 9 tahun sodara-sodara.

Pertanyaan paling esensi saat ini, akankah kegiatan teror di negeri ini selesai dengan kabar kematian Noordin? Ataukah ini merupakan awal dari sebuah era teror without Noordin? Karena kepemimpinan suka tak suka memiliki life cycling juga. Bisa jadi memang kini saatnya Noordin Rest in Peace, beristirahat setelah lelah meneror kita semua.

Benarkah tak ada lagi mata rantai kejahatan Noordin setelah ini? Bagaimana dengan upaya regenerasi teroris seperti yang kerap didengungkan? Bukankah pelaku teror akhir-akhir ini bukan dari jaringan Jamaah Islamiyah yang dikenal selama ini?

Polri tak perlu bertepuk dada dengan prestasi terakhirnya ini. Saya kok melihatnya ini bukan sebuah prestasi yang monumental, karena harus butuh 9 tahun untuk membekuk Noordin. Apalagi sebelumnya Polri melalui ‘mata kanan’nya yakni tv one, kadung melansir berita salah kematian Noordin. Sebuah kecelakaan sejarah yang semoga tak pernah terulang lagi.

Ke depan, saya berharap episode teroris siapa pun itu di negeri ini usai. Agar mimpi kita saat tidur paripurna, melihat bangsa ini bergerak.