Upin dan Ipin
Upin dan Ipin

Belakangan ini saya dan anak-anak di rumah sedang kesengsem berat dengan film kartun Upin dan Ipin di tpi. Buat yang belum tahu, film ini menceritakan kehidupan anak kembar Upin & Ipin di sebuah desa. Yang satu berambut seuntai bernama Upin, dan adiknya yang botsi alias botak sekali bernama Ipin.

Untuk sementara lupakan dulu pertentangan atau polemik klaim budaya dengan negeri jiran Malaysia. Cobalah sesekali tonton film kartun anak-anak Ipin dan Upin selama ramadhan diputar menjelang magrib. Maaf  saya tidak dalam posisi berpromosi dengan tayangan ini. Saya juga tak bermaksud menggiring anda untuk bersetuju dengan pendapat saya.

Film kartun Upin & Ipin ini memang produk asli Malaysia. Tapi saya menyarankan, untuk menonton jangan menggunakan paradigma apriori terhadap produk Malaysia yang satu ini. Cobalah nikmati sebagai sebuah karya film kartun yang sangat ‘melayu’.

Apa pentingnya sangat Melayu? Bagi saya penting, karena belakangan kita seperti dibombardir beraneka budaya pop barat yang menjauhkan kita dari pijakan leluhur. Kita seperti berumah di atas angin. Berada di negeri sendiri namun dengan sensasi yang sangat barat.

Nah, film kartun Upin dan Ipin seperti membawa saya ke kampung sendiri. Mengajak saya menengok masa lalu. Meski saya sadar ini (lagi-lagi) produk luar, namun jalinan ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.

Lihat saja betapa menggelikannya tingkah laku Upin dan Ipin yang ketakutan saat dokter gigi datang ke sekolah. Dengan jenaka digambarkan bagaimana anak-anak dengan caranya masing-masing menghindar dari dokter. Ada yang ngumpet di bawah meja hingga bolos karena takut diperiksa dokter.

Atau dalam cerita lainnya mengenai puasa, diperlihatkan lugunya kedua tokoh anak kembar ini teler karena tak kuat menahan lapar. Pertanyaan-pertanyaan khas anak-anak seperti mengapa orang muslim harus puasa, atau kenapa puasa ramadhan harus sebulan pun dimunculkan. Uniknya, meski bernilai pendidikan, namun ujaran yang digunakan sangat mudah dicerna anak-anak. Bahasa yang digunakan sangat khas anak-anak.

Mungkin inilah film kartun yang bermuatan dalam tanda kutip. Ia tak hanya menyampaikan pesan namun juga memiliki tanggung jawab pada isi pesan yang disampaikan bagi khalayak penontonnya. Sebuah hal yang belakangan jarang saya temui di tayangan anak-anak kita.

Melihat film kartun ini seperti melihat kehidupan anak-anak kita di pedesaan. Dengan keluguan, kenakalan, persaudaraan antar warga, serta mengagungkan nilai-nilai pada orang tua, saya kira inilah cerita yang pas bagi anak-anak. Posisi anak ditempatkan pada porsinya, sementara peran orang tua pun tidak sekedar menggurui, namun menjadi ‘teman’ yang membimbing.

Sangat jauh dari isi pesan sebagian sinetron berlabel anak atau keluarga yang ada di Tv kita. Tengok saja beberapa sinetron ramadhan yang (maunya) ditujukan bagi anak, namun dibungkus dengan penceritaan gaya orang tua. Dimana diperlihatkan dengan gamblang perseteruan, kebencian, atau dendam kesumat. Anak-anak pun berperan layaknya orang dewasa dalam bentuk mini.

Kalaupun ada kurangnya, di film kartun Upin dan Ipin, saya melihat ada yang tidak dijelaskan mengapa si kembar Upin dan Ipin hanya tinggal dengan nenek dan kakaknya. Kemana kedua orang tuanya tidak dijelaskan dan disinggung sama sekali. Ini membingungkan, tidak saja bagi anak-anak, tapi juga orang tua yang mendampingi menonton. Selain itu, anak-anak juga perlu didampingi karena dalam beberapa cerita, ada beberapa kebiasaan warga Malaysia yang berbeda dengan kita. Dan itu perlu dijelaskan pada anak-anak yang tak bisa menangkap konteksnya.

Tapi diluar kekurangan itu, saya sangat respek dengan jalinan kisah dan penceritaan film Upin dan Ipin. Melihat film ini saya kok tak pernah berpikir darimana dan siapa para pembuatnya. Saya dan juga anak-anak yang melihat, hanya melihat sebuah sajian budaya dengan kemasan yang sangat dekat dengan kita. Teramat dekat malah.

Saya sendiri lebih senang jika anak-anak di rumah menyenangi tokoh fantasi semacam ini, ketimbang Sponge Bob yang penuh adegan kekerasan itu. Bagaimana dengan anda?

*Ada di Kompasiana.