Tommy Soeharto
Tommy Soeharto

TOMMY Soeharto bikin kejutan. Tapi ini bukan tentang siapa wanita yang bakal jadi pendamping hidupnya. Kali ini lebih dahsyat, karena tanpa angin apapun Tommy menyatakan niatnya menjadi ketua umum partai Golkar.

Bagi saya ini agak mengejutkan. Karena selama ini Tommy dan juga putra-putri klan cendana lainnya cenderung menutup diri dari dunia politik praktis secara langsung.  Keterlibatan mereka di dunia politik hanya sebatas berdiri di belakang panggung. Setidaknya seperti ditunjukkan oleh Siti Hardiyanti Rukmana dengan Partai Karya Peduli Bangsa-nya. Meski tak pernah dikatakan sebagai partainya keluarga cendana, keterlibatan Tutut di belakang layar sangat kentara.

Tapi hanya sebatas itu. Selebihnya publik hanya tahu secara samar-samar. Mungkin putra-putri Soeharto masih menimbang-nimbang perannya pasca perginya pak Harto. Istilah kerennya wait and see, melihat arah angin politik Indonesia yang kadang sulit ditebak ini.

Kalaupun akhirnya Tommy muncul dan ingin merumput di ladang beringin, pasti sudah berbekal kalkulasi politik sedemikian rupa. Apalagi keinginan tampilnya Tommy dinyatakan tepat di hari KPU mengumumkan pemenang Pilpres 2009.  Bukankah sebuah kejutan manis?

Saya menduga ada beberapa alasan tampilnya Tommy di panggung politik. Pertama, ingin meneruskan tradisi politik keluarga. Siapapun di negeri ini tahu klan Soeharto adalah sedikit dari klan politisi yang sangat diperhitungkan, suka atau tidak suka. Kepemimpinan ayahnya selama 32 tahun lebih di panggung politik Indonesia sedikit banyak mengajarkan banyak hal pada anak-anak Soeharto.

Kedua, ada peluang di Golkar. Suksesi di tubuh partai Golkar memang sedang serunya. Setelah kalah di Pemilu legislatif dan Pilpres 2009, angin perubahan tengah menderu partai beringin. Dan tampilnya figur baru seperti Tommy akan sangat mungkin bisa mengangkat pamor Golkar yang sempat redup dalam pemilu.

Publik politik bisa jadi sudah bosan dengan performa politisi yang itu-itu saja. Kalau benar demikian, inilah saatnya figur baru masuk dalam bursa. Dan jika Tommy serius dengan pencalonannya, ia bakal bertarung dengan 4 nama lain yang lebih dulu eksis menyatakan pencalonannya, mulai dari Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Yudi Chrisnandi serta Ferry Mursidan Baldan.

Menilik keempat nama yang lebih dulu masuk bursa, bukan perkara mudah bagi Tommy merebut simpati massa Golkar untuk memilihnya sebagai ketua umum. Jalan pasti berliku, karena Tommy tidaklah mengakar di Golkar.

Ketiga, Golkar hanya sasaran antara. Saya lebih senang mengatakan, Golkar hanya akan dijadikan kendaraan politik bagi Tommy meraih posisi yang lebih tinggi, yakni mencalonkan diri sebagai RI-1 di 2014. Karena sehebat apapun pentokohan seseorang tanpa kendaraan politik yang besar, maka akan sia-sia.

Mungkin Tommy sudah belajar banyak dari pencalonan mantan iparnya, Prabowo Subianto dalam Pilpres 2009. Sepanjang 2008-2009, nama Prabowo Subianto mengangkasa begitu rupa, menjulang bagai elang yang menggilas semua nama pemain politik lainnya. Dengan kemasan mengkilap Prabowo secara image sebenarnya akan jadi lawan seimbang sosok SBY. Sayang, Gerindra sebagai kendaraan politik Prabowo hanya mendapat suara 4,5 persen dan gagallah Prabowo head to head dengan SBY di Pilpres.

Tommy pasti sudah menghitung. Jika ingin mencari tiket 2014, jalan satu-satunya adalah memiliki kendaraan politik yang paling ‘aman’. Dan Golkar bisa jadi dinilai Tommy masih dalam batas aman, karena dalam Pemilu Legislatif lalu mampu meraih lebih dari 14 persen suara. Sebuah pencapaian yang masih mungkin bisa ditingkatkan.

Keempat, kemenangan dan pemerintahan SBY kali ini adalah yang terakhir. Karena sesuai konstitusi SBY hanya boleh menjabat sampai 2014. Selebihnya tak bisa. Artinya, ini adalah peluang bagi siapapun untuk mengincar kursi panas 2014. Dan perang menuju 2014 harus disiagakan sejak sekarang.

Tapi sekali lagi itu hanya analisa saya yang awam. Bisa jadi Tommy punya perhitungan dan pertimbangan sendiri mengapa muncul ke permukaan dan berniat memimpin Golkar. Yang jelas, genderang baru saja ditabuh, dan bersiaplah melihat serunya pertempuran kursi ketua umum Golkar pasca Jusuf Kalla.

*dimuat di Kompasiana.