Wanted: Noordin!

Hari ini kalau tak meleset, polisi bakal merilis identitas para tersangka teroris Temanggung dan Jatisaih. Dari sekian nama yang bakal dirilis, sangat kecil kemungkinan nama Noordin M.Top ada diantaranya. Jika benar yang ditembak mati bukan Noordin, maka inilah drama paling tidak lucu yang disajikan aparat kita akhir-akhir ini.

Media punya andil menambah keksiruhan dengan menyebut nama Noordin di kesempatan pertama. Padahal belum ada konfirmasi soal identitas, identifikasi jenazah pun belum dilakukan polisi. Siapa yang salah?

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menuding pemberitaan Tv soal teroris cenderung merugikan polisi. KPI menilai media tv kurang mengindahkan prinsip akurasi data dan hanya mengandalkan asumsi-asumsi belaka. Asumsi tersebut malah membuat fakta yang disajikan belum tentu kebenarannya.

Baiklah, KPI bisa dan bebas menuding demikian pada media. Tapi media yang mana ya? Karena tak semua media melakukan kesembronoan serupa yang disebutkan KPI. Tolong sebut saja media “X” atau “Y”.

Bias memang bisa terjadi dalam laporan teroris. Tapi apakah ini murni salah media? Polisi juga harus bertanggug jawab pada putusannya yang melibatkan media tv sejak awal. Untuk sebuah operasi penting macam itu mestinya tidak dilakukan secara sembrono. Karena melibatkan banyak pasukan dan berdasar data intelijen kepolisian, sebaiknya polisi tidak melibatkan pihak lain yang kemungkinan bisa mengganggu jalannya operasi.

Saya kira sudahilah cara-cara lama menjadikan operasi kepolisian sebagai panggung popularitas. Kalau polisi berhasil membekuk buronan meski tanpa liputan langsung tv, rakyat pasti mengapresiasi. Penyergapan teroris seperti di Temanggung adalah pertaruhan besar kepolisian. harapan tertangkapnya Noordin M Top yang kadung diletakkan di posisi yang tinggi, sirna lantaran kecerobohan polisi sendiri.

Meski KPI menuding berita teroris merugikan polisi, sebaliknya bagi media tv. Breaking News yang disajikan tv One hari Sabtu pagi lalu berhasil membetot perhatian 45 persen penonton tv pada saat itu. Jumlah yang tidak main-main dari raihan jumlah penonton. Apalagi breaking news teroris itu juga penuh dengan iklan komersial yang tentunya tidak murah. Dan capaian rating-share hari Sabtu itu menempatkan Tv One sebagai di posisi pertama rating harian. Kenaikan yang sangat tajam,  mengingat sebelumnya tvone berada di posisi keenam atau ketujuh dari sekian belas tv yang di survey AC-Nielsen.

Jadi saya yakin meski KPI menuding media merugikan polisi, praktek semacam ini pastinya akan terus berlangsung. Kan yang rugi polisi, sementara medianya kaya raya. hahaha….