Perburuan teroris di Temanggung Jawa Tengah dan Jatiasih Bekasi sepanjang Jum’at malam hingga Sabtu pagi adalah kejutan menarik di akhir pekan. Kerja berbulan-bulan aparat polisi, khususnya tim anti teror Detasemen Khusus (Densus) 88 seperti menemukan muaranya. Bukankah ini sebuah pencapaian, jika benar salah satu yang tewas adalah Noordin M.Top, gembong teroris asal Malaysia itu.

Sejak serentetan kasus teror bom melanda negeri ini nama Noordin memang kerap disangkut pautkan. Kabarnya dia memiliki sejumlah loyalis yang membantu kerjanya melakukan pengeboman di berbagai target. Hasilnya ada bom Kedubes Australia, Marriot 1, Bom Bali 1 dan 2, serta terakhir yang paling gress Marriot dan Ritz Carlton yang lebih dikenal sebagai peristiwa bom Mega Kuningan Juli lalu.

Noordin memang teroris licin, perburuannya melibatkan banyak aparat, memakan waktu bertahun-tahun dan pastinya butuh dana operasional yang tak sedikit. Bisa jadi ini adalah operasi perburuan penjahat terbesar dalam sejarah Polri.

Terlepas dari keberhasilan kerja tim Densus dalam memburu Noordin, penyergapan teroris yang lagi-lagi disajikan dalam Breaking News di sejumlah stasiun televisi mengusik saya sebagai pemirsa. Mengapa setiap kali penyergapan teroris dilakukan Densus 88, selalu diliput Tv ya?

Benar bahwa publik memiliki hak untuk tahu sampai dimana pemerintah bisa memberi rasa aman warganya. Dan informasi penyergapan teroris adalah jawaban dari tuntutan rasa aman itu. Benar juga jika drama penyergapan bisa menjadi ‘tontotan’ menarik disamping sinetron yang kadang memuakkan itu. Namun apakah benar cara penyajian informasinya ?

Saya jadi ingat dengan kisah penyergapan teroris Dokter Azahari di Malang beberapa tahun silam. Berbeda dengan sekarang, saat itu liputan tv penyergapan teroris tidak seramai sekarang. Saat itu hanya satu stasiun tv yang diberi akses (tepatnya atas nama kedekatan petinggi media dengan perwira polisi) sejak awal untuk ikut polisi hingga ke jantung operasi. Alhasil stasiun tv tersebut beroleh liputan dengan gambar-gambar eksklusif.

Dalam pemberitaan teroris Temanggung, kejadian serupa memang tak berulang. Hampir semua stasiun tv mendapat akses. Meski tak semuanya melaporkan langsung menit per menit. Saya tak hendak menggugat mengenai akses khusus yang diberikan pada stasiun tv tertentu, karena sangat terlihat secara kasat mata mana yang dapat akses khusus dan mana yang hanya sebagai penggembira. Biarlah itu dicatat sejarah.

Yang saya tak habis pikir adalah informasi setelah itu. Beberapa media langsung menyebut korban tembak di Temanggung adalah Noordin M Top, si gembong teroris. Padahal belum ada klarifikasi dan identifikasi yang jelas dari polisi. Sepertinya media mudah membuat kesimpulan. Padahal untuk memastikan siapa  korban tembak sesungguhnya butuh identifikasi. Dan karena kondisi jasad korban hancur, butuh tes DNA terlebih dulu.

Apa yang ditayangkan media tv kita seperti tayangan infotainment yang kerap menyebarkan hal-hal yang masih berupa gosip, berita samar-samar. Belum pasti kebenarannya tapi sudah ditayangkan. Jika dikemudian hari salah, mereka dengan gampang merilis info terbaru tanpa pernah meralat info yang salah sebelumnya.

Apakah kali ini media akan mengulangi kesalahan yang sama terhadap identifikasi Noordin? Dan saya kira genre tontonan tv kita akan bertambah  satu lagi. Setelah eranya infotainment, kini juga ada teroris tainment. Menghibur kita agar melupakan sedikit problema hidup dan berita penting lainnya. Mungkin nanti slogannya jadi begini:  Informasi teroris terkini dari tv teroris anda……