54631_ilustrasi_ledakan_atau_bom_thumb_300_225Musibah ledakan bom Mariott jilid 2 (lebih dikenal sebagai Bom Mega Kuningan) memberi banyak pelajaran bagi kalangan media. Lagi-lagi penikmat media disuguhi banyak hal yang tak logis yang menjadi agenda setting media. Ini bukan pertama kali terjadi, namun selalu berulang. Herannya media seperti tak mau belajar dari kesalahan yang dibuatnya pada masa lalu.

Contoh paling gamblang adalah soal pelaku bom. Adalah hak media  membuat analisis mengenai siapa pelaku peledakan bom di  Mega Kuningan. Menyebut kelompok A atau B adalah sah, sejauh ada analisis yang mengiringinya, termasuk menguatkan dengan wawancara dengan sejumlah analis yang dapat dipertanggung jawabkan ketokohannya.

Tapi apa yang terjadi. Sejumlah media (dipelopori media tv) salah kaprah membuat berita dengan mengutip pernyataan seorang Abdurahman Assegaf, ketua Umum Gerakan umat Islam Indonesia. Ia berujar, pelaku pengeboman yang berinisial “N” itu adalah Nurhasbi alias Nursahid, seorang santri alumni pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Sebuah pernyataan luar biasa jika yang mengucapkan adalah seorang polisi. Karena kita tahu polisi berusaha sangat keras mencari tahu siapa pelaku pemboman, setelah  jejaknya nyaris tak terdeteksi alat pelacak yang biasa ada di Hotel Mariott dan Ritz Carlton.

Tapi ini yang bicara seorang sipil yang tak memiliki otoritas apapun untuk bicara persoalan yang terkait keamanan negara. Anehnya, banyak media yang mengutip pernyataannya dan tergoda membuat analisis warung kopi. Ada yang bilang Nurhasbi adalah santri yang seangkatan dengan Asmar Latin Sani–pelaku bom kedubes Australia. Ada pula yang bilang ia binaan gembong teroris asal Malaysia, Noordin M.Top. Wah.

Celakanya, setelah itu media berlomba mengulik apa dan siapa si Nurhasbi itu. Pemirsa pun disajikan liputan ke rumah ortu Nurhasbi di Temanggung hingga ke pesantren Ngruki. Pihak keluarga dan ponpes Al Mukmin kontan membantah semua tudingan karena merasa kenal dan tahu sosok Nurhasbi. Media beramai-ramai menguliti orang terdekat, tetangga dan kawan Nurhasbi, seolah-olah dia pasti sebagai pelaku peledakan bom.

Ini baru cerita mengenai Nurhasbi. Lain lagi cerita mengenai nama Ibrahim yang diduga juga sebagai salah satu pelaku peledakan. Ia yang menghilang sejak kejadian Jum’at lalu disangkut-pautkan dengan gerakan teroris. Kawan-kawan di kampungnya didatangi, tetangganya diinterogasi, bahkan rumah ortunya di Cililitan Kecil jakarta Timur pun disambangi.

Gambar di layar pun bisa ketebak, suasana rumah berantakan, ada stiker partai islam, sobekan ayat suci Al-Qur’an, tumpukan buku agama. Ah, stereotype yang kerap dimunculkan. Dan ini adalah jurnalisme tv gaya barat yang salah. Saya heran mengapa media lokal Indonesia harus mengikuti gaya bertutur ala barat. Gaya penceritaan seperti itu jelas sangat ‘sexy’ bagi media barat yang sekuler.

Sebaliknya di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya muslim, pemandangan seperti itu pastinya sebuah hal biasa. Mengapa membuat kecurigaan dengan menampilkan gambar-gambar yang tak selamanya mewakili keadaan? Di rumah saya yang seorang muslim, pasti dengan mudah ditemukan buku agama atau kitab suci Al-Qur’an. Apakah saya pendukung gerakan teroris? Tentu tidak.

Dan gongnya terjadi sore tadi saat Mabes Polri melansir bahwa baik Nurhasbi dan Ibrahim bukan pelaku peledakan bom. Ini adalah pernyataan  resmi Mabes Polri setelah melakukan tes DNA terhadap keluarga Nurhasbi maupun Ibrahim serta mencocokkan dengan DNA potongan tubuh yanng ada di lokasi.

Bagi keluarga Nurhasbi dan Ibrahim jelas ini melegakan. Karena ternyata kebenaran lah yang muncul. Kini tinggal apakah si penyebar kabar bohong ke media mengenai keterlibatan Nurhasbi tadi akan meminta maaf? Atau media yang kadung membuat stigma melalui liputannya akan meminta maaf juga atas kekeliruannya, yang telah menuding kedua nama itu sebagai pelaku? Bagaimana dengan nama baik kedua orang yang disebut tadi, apakah akan dipulihkan?  Siapa yang bertanggung jawab pada semua ini?

*tulisan ini ada juga disini.